
Tuan tampannya tengah berdiri gagah dengan tampang membunuh. "Budak cantikku kenapa keluyuran pagi-pagi begini? Kau ini anti-mainstream."
"Bukankah aku bisa melakukan apa saja yang kumau, Tuan?"
"Tapi ini tidak kusukai," tukas Raga dingin. "Kau kuhukum."
Rania menghela diam-diam sebelum tersenyum tanpa beban. "Dengan senang hati, tuan tampanku."
Senyum miring Raga membalas senyuman Rania. "Percuma kau berubah seperti ini, budak cantikku. Kalau kau tidak penurut harapanmu pulang untuk sementara itu menjadi mustahil. Kau lihat, dengan sikapmu yang angkuh pagi ini, aku tidak lagi mulai mencintaimu, tapi mulai membuatku muak."
Mendengarnya, jujur saja hati Rania terasa hancur. Rania merasa kalah. Rasanya mau menangis saat itu juga. "Tidak, Rania, kau tidak boleh kalah. Tidak boleh kalah. Tidak boleh kalah... Menangkan pertempuranmu melawan CEO tampan berhati iblis ini."
Detik berikutnya Rania berlutut dan mencium kaki Raga. "Tuan boleh menghukum seperti yang Tuan mau agar kesalahan besar saya ini hilang. Agar Tuan kembali mulai mencintaiku."
Raga diam membisu. Sementara Rania masih tetap mencium kaki Raga yang hanya beralaskan sendal sementara ia memakai celana boxer saja. Dada bidangnya dengan bulu-bulu halus itu tampak sempurna dan menggoda.
"Baiklah, berdiri," kata Raga akhirnya. Rania pun berdiri dengan gaya seperti sedang memberikan ucapan terima kasih pada penonton teater. Terakhir Rania kembali menampilkan senyuman terbaiknya. Senyum tercantiknya.
"Kau akan menjalani hukuman untuk menghapus kesalahan besarmu," kata Raga sambil mengelus-elus dagunya. Sementara tangannya yang lain bergerak melecehkan tubuh Rania yang tetap berdiri dengan senyumannya. Menunggu hukuman itu dan akan melaksanakannya dengan patuh.
Rania berpikir, kalau dialah yang tampak seperti robot. Tanpa berperasaan. Perempuan yang mempunyai harga diri seharusnya marah diperlakukan seperti itu. Menangis setidaknya kalau tidak mampu melawan.
Ya, seperti yang sudah diketahui, bahwa Rania melakukannya demi ibunya. Untuk pulang. Untuk kembali. Untuk berjumpa dengan ibunya. Rania meminta maaf karena Hari Ibu tanggal 22 Desember kemarin, Rania tidak bisa mengucapkan secara langsung. Rania hanya mampu berucap di dalam dadanya yang remuk karena iblis di hadapannya.
Percaya atau tidak, Rania Kusuma menciptakan sebuah puisi apa adanya yang dibuatnya dari lubuk hati terdalam.
Puisi untuk Ibu...
__ADS_1
Waktu aku kecil kita saling bercanda dalam kasih sayang.
Sering juga kau memarahiku karena aku nakal, karena aku suka rewel, karena aku kerjanya berlari-lari tiada henti...
Aku menangis, aku marah.
Tapi aku tak sedikitpun membencimu, Ibu. Tak secuilpun aku mau mendurhakaimu...
Karena kau adalah ibuku, karena kau adalah perempuan mulia yang memperlakukanku layaknya manusia...
Benar. Hanya kaulah, Ibu.
Tidak mantan kekasihku yang dulu kucintai dengan segenap jiwaku.
Hingga aku menyadari kebodohanku, wahai Ibu.
Aku menyesal dan tersesal.
Dengan alasan dan ribuan bersamanya.
Hingga ia memperlakukan seperti jalang!
Lalu sekarang...
Aku mendapatkan yang lebih buruk. Bayangkan saja, aku kini diperlakukan hina layaknya binatang.
Aku budak!
__ADS_1
Tiada air mata yang tertumpah selain diiringi kebencian padanya. Wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya, lebih baik lagi seonggok kotoran anjing.
Aku terus menangis, wahai Ibu. Aku terus saja memikirkan ketidak adilan sang dunia. Sampai aku menyadari masih ada kau yang selalu berdoa untukku.
Oh, Ibu, betapa besar cinta dan sayangku padamu.
Kaulah motivasiku agar tetap hidup, agar melawan dunia yang kejam ini.
Terus doakan aku, Ibu. Doakan kita kan bersama lagi. Doakan kita menikmati hari sampai tua menyapa dalam bahagia...
"Suit!" Tiba-tiba Raga bersiul keras dan dalam hitungan detik, muncul dari arah samping di balik tembok, berlari kencang dua anjing besar dan hitam. Mata Rania terbelalak. Lamunannya buyar seketika.
"A--" Nyaris Rania menjerit ketakutan hingga ia teringat lagi dengan ibunya. "Aku harus melawan rasa takutku, tidak boleh setengah-setengah," batinnya bertekad.
Selanjutnya Rania berusaha sekuat tenaga menahan mulutnya saat dua anjing itu sudah berada di dekatnya. Menggeram-geram dan sesekali menggonggong keras.
Sementara Raga tertawa mengejek. “Mereka mau bermain, dan aku mau kau yang menemaninya. Di ujung sana ada bola. Kau bisa menggunakannya.”
Rania terbelalak. “Bermain bersama mereka?"
“Yup. Ingat, jangan dilanggar atau ibumu akan hilang...” Lalu Raga kembali masuk ke dalam rumah tanpa berperasaan.
***
__ADS_1