
Hari pernikahan mereka lima hari lagi terhitung hari itu. Raga dan Rania baru saja selesai bercinta hebat. Hukuman untuk Rania tapi malah sepenuhnya dinikmati olehnya. Ya, Raga tidak kasar lagi. Raga benar-benar bermain seakan ia sedang bercinta dengan istrinya.
Bermain dengan cinta...
Rania menggeleng. "Itu cuma akting! Jangan terpancing, Rania Kusuma!"
Beberapa saat Raga sudah berpakaian kantor lengkap. "Karena aku belum puas. Hukumanmu dilanjutkan saat aku pulang nanti."
"Kenapa aku tidak ikut saja denganmu ke kantor, Tuan? Aku bisa menjalani hukumannya di sana," tantang Rania. "Aku bahkan rela harus memakai kalung ini, Tuan. Kalung budak yang indah."
Rania mendesah pelan. Ia sudah memasuki lubang neraka, mau tidak mau harus melanjutkannya. Rania baru bisa keluar dari lubang itu begitu menyelesaikan apa yang telah dipilihnya. Tidak ada jalan pintas.
Raga menggeleng-geleng pelan sambil tersenyum kecil. "Kau tumbuh dengan sangat cepat sebagai budak yang rela melakukan apa saja, ya? Bahkan kau tidak tergagap dan merengek lagi."
"Tentu, Tuan Raga..." Rania berjalan lentik ke arah Raga dengan tubuh polosnya.
"Sudah, jangan goda aku, budak cantikku," ujar Raga memalangi Rania dengan satu tangannya. Tepat menyentuh dahi Rania lalu mendorongnya dengan hentakan.
"Aw, sakit, Tuan," kata Rania tersenyum nakal.
Raga tersenyum miring dengan tatapan membunuhnya. "Dasar, Jal*ng."
Rania tidak mengubah senyumnya. Meski hatinya tersentak setelah mendengarnya. "Aku sudah bukan Rania Kusuma satu jam yang lalu, ingat? Aku tidak boleh merengek lagi..."
"Kau tetap di rumah ini, melakukan beberapa perawatan demi menyambut hari pernikahan kita. Ke kantor dengan kalung indahmu itu kan bisa selesai kita menikah," ujar Raga kemudian dengan tatapan hina.
"Aku akan menunggu hari yang indah itu, Tuan."
"Heh, baiklah, aku pergi." Raga menenteng tas kantornya yang terbuat dari kulit ular anaconda asli dari Amerika. Harganya mencapai miliaran. "Oh ya, jangan lupa lakukan perawatannya dengan baik," ingat Raga sebelum membuka pintu.
"Aku suka perawatan, Tuan. Aku suka menjadi istri rasa budakmu, Tuan. Aku bisa melakukan apa saja." balas Rania tanpa malu dan merasa hina lagi kecuali di hatinya.
Raga tersenyum miring. "Benar, kau boleh melakukan apa saja selain hal yang tidak kusukai."
Rania kaget mendengarnya. Sama sekali tidak menyangka padahal itu cuma percobaan semata. Tapi ternyata berhasil. Ia bisa melakukan apa saja. "Ya, meski selain hal yang tidak disukai Raga."
Tentu pulang dan menemui ibunya termasuk ke dalamnya. Jelas ia harus menjadi budak penurut seperti omongan Raga. Entah seperti apa, yang jelas Rania harus berusaha sebaik mungkin.
__ADS_1
"Tunggu aku sebentar lagi, Ibu..." batinnya tersenyum, membayangkan senyum cantik Ratna.
Setelah Raga pergi, Rania pun menjalani perawatan pertamanya di ruangan SPA dekat kolam renang di belakang rumah. "Kau yakin ini kolam renang?" tanya Rania sebelum masuk ke ruangan yang hanya dibatasi kain sutra berwarna putih. Di dalamnya ada dua batang lilin dengan aroma yang menyenangkan.
Kolam renangnya berdesain seperti moncong kapal dengan pinggiran batu alam yang indah. Sementara di bawahnya terhampar hutan kecil yang memanjakan mata. "Benar-benar cantik.'
Sementara lima pelayan yang menuntun Rania ke sana hanya diam saja sambil menunduk sopan. Meskipun mereka tahu Rania cuma hanya budak dengan cover istri, tetap Raga akan marah jika Rania diganggu.
"Baiklah, mulai saja perawatannya," kata Rania setelah berbaring telungkup di atas ranjang pijat beralas kain putih itu.
Rania pun mulai dipijat kelima pelayan itu. Rasanya enak sekali membuatnya ingin terlelap sambil menikmatinya. Tapi saat ini Rania mau mengasah kemampuannya.
Rania tersenyum licik sebelum memulainya.
"Pijit yang benar! Mau kulapor dengan Tuan Raga, hah?" ujar Rania akhirnya memulainya. Ia berujar dengan nada penuh ancaman. "Ia takkan segan-segan memecat seseorang! Apalagi orang itu sampai membuat tidak senang calon istrinya! Bisa-bisa mulutmu dirobek olehnya!"
"B-baik, N-Nona." Pelayan itu sangat ketakutan mendengar ancaman Rania.
"Panggil aku dengan nyonya! Karena sebentar lagi kan aku berstatus istrinya!"
"B-baik, Nyonya."
"Budak saja sombong," gumam salah satu mereka. Rania dapat mendengarnya meski samar-samar. Dia cari masalah rupanya, ya? Belum tahu siapa Rania yang sekarang.
"Ulangi."
"M-maaf, Nyonya?" Pelayan yang bergumam menghina Rania itu langsung gelagapan.
"Ulangi."
"Saya tidak--"
"Ulangi, Jal*ng!" hardik Rania sampai bangkit dari baringnya dan langsung mencengkram dagu pelayan itu. Tubuhnya langsing dan tinggi. Wajahnya cantik dengan kulit putih bersih.
"A-ampun, Nyonya!" Akhirnya pelayan cantik itu merengek begitu melihat Rania benar-benar marah.
"Heh." Rania memberi tatapan mengejek. "Aku boleh saja budak--siapa namamu?"
__ADS_1
"Angie, N-Nyonya."
Rania tertawa pelan begitu mendengarnya. Nama bagus-bagus kenapa malah menjadi pelayan rendahan seperti ini? Sudah begitu kerjanya menghina sementara dia sendiri rendahan juga. Sekalipun budak lebih rendah.
Tapi ingat, Rania Kusuma adalah calon istri seorang CEO Anggara Group, perusahaan besar yang menguasai sebagian pasar Indonesia. Perse**n dengan cover-cover yang dikatakan oleh Raga.
Rania kembali mengingat percakapan terakhir sebelum Raga berangkat ke kantor.
"Ya, benar, budak cantikku. Jangan membuatku mengulang kata-kataku. Ya, benar, kau boleh melakukan semaumu. Selain hal yang tidak kusukai!"
"Terima kasih, Tuan!" seru Rania senang. Di dalam kamar itu ia tiba-tiba mencium kaki Raga, semata-mata untuk membuat Raga senang.
"Haha, bagus." Raga tidak bisa menahan tawanya yang kejam. Apalagi kalau bukan karena hal hina yang telah dilakukan Rania itu. Tanpa ragu sama sekali.
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat. Sebentar lagi akan ada pelayan yang memulai perawatanmu."
"Muah! Aku cinta kepada Tuan!" Rania mengecup gemas bibir Raga yang dibuat tersentak tapi menyukainya. "Lagi." Bahkan Raga minta tambah.
Jadilah Raga telat tiga puluh menit datang ke kantor karena ulah Rania itu.
"Jangan nakal lagi, budak cantikku," geram Raga sementara mukanya sedikit memerah.
"Tapi kau suka kan, Tuan?"
"Suka." Hanya itu yang dikatakan Raga lalu pergi dari sana. Sementara pelayan yang akan melakukan perawatan pada Rania sudah menunggu di luar.
"Dingin-dingin mau, cih."
Rania tertawa pelan saat melihat muka memerah Raga. Biarpun memang dingin, Raga tetap tidak bisa mengelak kalau dia sangat menyukai tubuh Rania.
"Budak istimewa, kan itu katanya," batin Rania. Kemudian ia kembali memandang Angie dengan kepala memiring. Tersenyum dengan arti mengerikan.
"Angie, kau akan kuhukum."
***
__ADS_1