
"Apa yang terjadi?!" Itu yang pertama kali keluar dari mulut Raga. Hingga betapa terkejutnya ia ketika melihat Rania tergeletak dengan mulut berbuih. Sementara di sampingnya ada vas antik dengan corak cokelat pecah berserakan.
"Hei, jangan bercanda!" seru Raga cepat-cepat menghampiri Rania.
Raga menggoyang-goyangkan bahu Rania, tapi tidak ada reaksi apa-apa dari gadis bermata indah itu.
"Apa yang terjadi padanya?" Raga kebingungan di tengah rasa paniknya. Sebentar saja ia langsung menggendong Rania di atas kedua lengannya.
"Minggir!" teriaknya marah ketika ada yang menghalangi langkahnya. "Mau kupecat, hah?!"
Pria berkacamata itu langsung menyingkir dengan takut-takut. Raga melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. Raga berhenti di depan lift lalu memencet-mencet dengan sikutnya. "Cepat sedikit!" bentaknya pada makhluk tidak bernyawa itu.
Belum sepenuhnya terbuka Raga sudah masuk dengan memiringkan tubuhnya. "Cepat turun!"
Seolah bisa mendengar kemarahan Raga, lift itu langsung bergerak turun dengan cepat. "Hei, jangan bercanda! Bangunlah! Budak cantikku!"
Tapi Rania tetap membisu dengan mata tertutup. Raga yang melihatnya semakin dilanda kepanikan yang luar biasa. Raga tidak mau budak cantiknya kenapa-kenapa.
Raga...
"Supir! Cepat buka pintunya! Kenapa kau malah tidur?!" teriak Raga marah ketika mendapati supir tuanya ketiduran.
Si supir tua bernama Suprianda itu langsung kelabakan. "Ah, kenapa aku malah ketiduran?" omelnya pada dirinya sendiri dengan suara parau.
__ADS_1
"Kau kupe--antarkan kami ke rumah sakit, CEPAT!"
Suprianda langsung menjalankan perintah tanpa banyak omong. Biar pun sudah tua, tapi kemampuan Suprianda dalam berkendara patut diacungi jempol.
Hal tersebut penting untuk bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat. Raga benar-benar panik. Sebagai bos besar Anggara Group, perasaan yang dialaminya itu sangat sulit untuk diterima oleh orang-orang. Raga dikenal selalu kalem dan stay cool. Tidak ada guratan-guratan bahkan peluh yang mengucuri keningnya, menunjukkan kalau Raga sedang panik. Raga menghadapi dunia itu seperti sedang mandi di pantai.
Tapi sekarang mereka jelas kaget melihat Raga panik seperti itu. "Dia kan cuma budak," celetuk Sani heran.
Ternyata Sani bersama Dinda mengikuti Raga. Saat Raga sudah masuk lift, mereka masuk lift yang satunya lagi. Kembali mereka melihat Raga yang betulan panik saat mengintipnya di parkiran tadi.
Namun di lubuk hatinya yang terdalam, Sani tidak yakin kalau Rania adalah...
Sani melongo sebentar sebelum mengayunkan sebelah tangannya. "Mana mungkin tuan jatuh cinta pada budaknya sendiri." Sani berbohong. Sebenarnya dia memikirkan hal yang sama.
Dinda diam saja. Tapi entah kenapa ia merasa yakin dengan prasangkanya. Budak hanyalah...
***
Semua petugas kesehatan yang ditemui Raga dimaki habis-habisan. Rumah sakit mewah itu seolah tidak punya harga dirinya di depan Raga. "LEBIH CEPAT! HEI, KAU IKUT BANTU MENDORONG! KAU JUGA! SIAL*N! KAKEK MESUM ITU NANTI SAJA!"
Mereka semuanya menuruti keinginan Raga tanpa protes. Karena mereka tahu siapa Raga. Di kalangan menengah ke atas, semuanya kenal padanya. Termasuk suster-suster yang hobi bergosip itu.
__ADS_1
Raga Anggara Sang Bos Besar Termuda Sepanjang Sejarah!
Begitulah headline-headline yang tertulis di setiap majalah ekslusif. Raga Anggara adalah pangeran bisnis di era modern yang beresiko mengalahkan pesaing-pesaing terkuatnya.
Tapi itu tidak penting sekarang. Raga tak henti-hentinya mengusap pipi Rania di atas brankar tersebut. Hingga langkahnya terhenti karena dihalangi seorang suster. "Anda tidak boleh masuk, Tuan. Taati prosedur rumah sakit."
Bisa dibilang lancang berani menghalangi Raga untuk masuk ke ruang IGD. Raga bisa saja mendepak suster dari rumah sakit ini meski ia bukan CEO-nya.
"Apa kau bila--"
Raga tidak melanjutkan makiannya karena berpikir suster ini ada benarnya juga. Kalau Raga masuk dan mendapati dokternya kelihatan tidak becus di matanya, pasti ia akan marah habis-habisan. Itu berarti nyawa Rania bakal terancam karena Raga membuat sang dokter menjadi tidak fokus.
"Baiklah!" bentak Raga akhirnya. "Selamatkan dia! Kalau sampai gadis itu kenapa-kenapa, kau orang pertama yang akan berurusan dengan..."
Belum selesai Raga memakinya, suster berwajah bulat itu cepat-cepat menutup pintunya.
"CEO tampan itu cerewet sekali," keluh si suster. Kemudian pandangannya beralih ke Rania Kusuma.
"Dia temanku saat sekolahku dulu..."
***
__ADS_1