
Pagi-pagi Rania bangun sekitar pukul enam. Matahari belum menampakkan diri dalam bentuk sempurnanya. Warna biru gelap yang Rania lihat melalui ventilasi jendela kamar Raga.
"Oh, syukurlah aku tidak telat bangun!" Rania lega sambil membuang napasnya agak panjang. Kemudian ia beralih memandangi Raga yang masih terlelap.
Rania beranjak turun untuk mandi. Ia berniat memasakkan sesuatu untuk Raga. Itu akan semakin membuat peluangnya untuk pulang terbuka lebar. Untuk menemui ibunya yang menjadi kenyataan. Untuk memeluk erat ibunya yang menjadi melepas kerinduan yang sempurna.
Meski sementara...
"Ternyata kau baik, Ra--"
"WHAT?!" Rania nyaris menjerit mengikuti jeritan hatinya. Bukan apa-apa begitu ia menyingkirkan selimutnya.
"Kenapa badanku merah-merah begini?" panik Rania. Nyaris di sekujur tubuhnya ada... "Apa aku sakit? Demam berdarah?"
Terdengar dengusan tertahan. Rania langsung menoleh ke samping. "T-Tuan sudah bangun," kata Rania menahan napas.
Raga terduduk dan ikut menyingkirkan selimutnya. Rania sontak menutup kedua matanya karena tuannya sedang dalam keadaan tanpa busana juga. Sedetik ia merasa bodoh telah melakukannya. Sudah dilihat kenapa mesti malu lagi. Lagi pula mereka memang akan menikah bahkan sudah kawin duluan karena perbudakan ilegal ini.
"Tuan, apakah ada yang kulewatkan semalam?" tanya Rania. Tapi setelah berpikir cepat, ia tahu situasinya. Rania bukanlah tengah mengidap penyakit demam berdarah. Jelas ini bukan bintik-bintik merah. Besar begini. Ini...
"Ikan ******!" jerit Rania kesal. Lalu menatap Raga dengan tatapan membunuh. Hanya sebentar saja begitu Raga membalasnya lebih membunuh. Ia langsung menundukkan kepalanya.
"Raga Anggara! Baiknya seperti pencitraan saja! Lebih banyak iblisnya daripada malaikatnya!" jerit Rania di dalam hatinya.
"Kalau menyetubuhimu saat kau tidur asyik juga," ejek Raga, membuat Rania tersentak lalu memerah. "Kau seperti orang mati bahkan sekalipun aku kembali ke gayaku semula. Jadi aku tidak perlu melihat tangisan menjijikkanmu itu."
"Ternyata benar!" batin Rania, dugaannya tidaklah salah kalau Raga yang melakukannya. Saat bulan madu omong kosong kemarin, Raga sudah melakukannya. Raga menggigit kelewat bernafsu sehingga ia enak sendirian. sementara Rania tersiksa!
"Oleskan pakai krim biasa yang sudah kuberikan," kata Raga. "Aku lebih suka melihat tubuhmu yang mulus putih bersih."
"Lalu kenapa kau tetap menggigit, iblis? Kau pikir tidak sakit apa?!" Rania rasanya mau memberi gigitan balasan pada Raga. Tapi jelas itu tidak mungkin karena alasannya sudah jelas.
__ADS_1
"Karena aku bangun sendirian dan bukan kau yang membangunkanku, maka kau akan kuhukum."
"Tuan, tidak bisa be--baik, Tuan," Rania mengubah protesnya menjadi kepatuhan yang terpaksa. Raga mendongakkan dagunya, menantang apakah Rania berani menentangnya.
"Mana mungkin aku berani sedangkan aku masih berstatus budaknya! Kalau tidak... Pasti... Tidak berani juga..."
Rania melihat dirinya. Ia hanya seorang perempuan yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi lelaki bejat seperti Raga. Kalau saja ia punya, pasti dari dulu Rania membalas langsung perbuatan Jaya tanpa akhirnya harus dijual kepada Raga. Balas dendam di dalam tubuhnya benar-benar ada dan akan ia tuntut saat...
Rania menggeleng. Itu takkan terjadi, karena sudah takdirnya menjadi perempuan lemah seperti ini. Pulang untuk sementara waktu yang entah kapan itu saja sudah membuatnya bersyukur. Dari sana persepsi buruknya terhadap Raga menjadi berkurang sedikit.
Tapi berubah sangat sedikit sekarang. Apalagi kalau bukan karena ulah Raga terhadapnya. Betapa menjengkelkan memiliki ****** merah sebanyak ini. Rania melihat dirinya seperti perempuan murahan yang kotor.
Rania menghela napas, "Rania... Jangan mengejek perempuan lain sementara kau lebih buruk. Kau budak!"
"Kenapa kau malah melamun," tanya Raga.
Rania langsung tersentak. "Tidak, Tuan, aku tidak melamun," tukasnya.
"Arghhh!" Hati Rania kembali dibuat menjerit kesal. "Argghh! Arghhh! Arghh!" Begitu saking kesalnya Rania saat ini. Karena kesalahan sepele pun dipermasalahkan oleh Raga.
"Tuan..." kata Rania hati-hati. Raga mengangkat satu alisnya. "Apa? Kau bertanya apa hukumanmu? Tunggu aku sedang berpikir seraya menatap matamu yang indah..."
Rania memerah, ia suka pujian dari Raga. Tapi ia mengabaikannya hanya beberapa detik kemudian. "Apakah Tuan benar-benar mengizinkanku pulang untuk sementara jika aku menjadi budak penurut yang Tuan inginkan?"
"Hmm." Raga malah berdeham kemudian berubah menjadi geraman. Rania jelas dibuat ketakutan, sepertinya ia salah menanyakan itu. Terbukti dari tatapan Raga sekarang. Tatapan marah yang membuatnya beku dalam sekejap.
"M-maaf, aku tidak bermaksud, Tuan," Rania menundukkan kepalanya takut.
Kemudian Rania menangis di dalam hatinya. Rasanya mustahil Raga bakalan menepati janjinya... Mana mungkin di saat Rania merasa sangat dipermainkan seperti ini. Ia kesal, kecewa dan marah tentu saja.
"Aku... tidak boleh... begini terus..." batin Rania sambil memejamkan matanya
__ADS_1
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Rania membuka matanya dan mengangkat wajahnya dengan raut wajah berbeda.
"Huh?" Raga mengernyitkan keningnya.
"Huh, kau pikir hanya dirimu yang bisa, Tuan Raga?" batin Rania. "Kau pikir hanya dirimu yang mampu membuat kejutan? Kau pikir hanya dirimu saja yang bisa berubah?"
Dengan perubahan ini Rania Kusuma optimis akan membuat impossible be i am possible...
"Baiklah, Tuan, apa jenis hukuman yang harus kuterima?" tanya Rania seraya melingkar sebelah tangan Raga dengan tatapan menggoda.
"Kenapa kau jadi aneh begini?" tanya Raga heran.
"Tidak apa-apa, Tuan," kata Rania, kemudian tiba-tiba mengecup bibir Raga.
Raga tampak syok menerima serangan pertama Rania tanpa diperintah duluan itu. "Ayo, Tuan. Aku siap melakukan apa saja. Bahkan sampai harus mencium kakimu. Aku akan melakukan semuanya demi bertemu dengan ibuku, Tuan. Dulu kau pernah memiliki seorang ibu, kan?"
Kembali Rania mencium bibir Raga. Kali ini lebih lama. Lebih menghayati. Lebih bertenaga.
Seakan mereka betulan sepasang suami istri yang sedang memadu kasih.
"Inilah hukumanmu, budak cantikku," kata Raga dingin seraya tersenyum kecil
"Layani aku sampai aku puas, tidak peduli kau sudah tidak kuat lagi."
"Dengan senang hati, Tuan," balas Rania seraya tersenyum dengan senyuman terbaiknya. Sama persis dengan senyuman yang Raga mau.
"Bagus."
Mereka kembali berciuman dan bercinta sampai waktu merenggutnya...
***
__ADS_1