Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Rahasianya


__ADS_3

Siapkan jantung Anda, hehe.




***



Panggung besar itu tidak seperti panggung konser. Tapi sama persis dengan apa yang ada di dalam sebuah gedung pernikahan. Rania merasa lututnya gemetar ketika panggung itu mampu menampung ribuan manusia, berjejer rapi tanpa sesak di atas kursi mewah berlapis emas. Rania seakan berada di tenda sihir-nya Harry Potter.



Terlebih ribuan itu adalah orang-orang penting yang Rania kenal bahkan ada yang menjadi idolanya. Sebut saja Doni Stark, tokoh nyentrik yang terkenal dengan Silver Man-nya.



"Ini pasti bercanda," gumam Rania begitu beberapa langkah masuk ke dalam panggung pernikahan sihir ini. Ia sama sekali tidak dapat mempercayainya. Lututnya tidak berhenti gemetar. Syukurlah terhalang gaunnya sehingga mereka tidak dapat melihat betapa malunya Rania.



Raga bersalaman angkuh dengan setiap orang di pinggir karpet merah yang mau menjabatnya. Mereka dipaksa lewat tatapan matanya untuk mencium tangannya.



"Terima kasih mau datang, kau memang klienku yang baik dan bijaksana."



"Terima kasih mau datang, kau juga klienku yang baik dan bijaksana."



"Terima kasih mau datang, kau memang klienku yang baik dan bijaksana."



Kalimat itu terus yang diulang-ulang oleh Raga, benar-benar seperti robot. "Cari kalimat lain, bego! Mereka pasti bosan!"



Raga mendengus seperti bisa mendengar pikiran Rania dan membalas, "Peduli apa aku? Muka mereka saja sudah membosankan."



Tiba saat bersalaman dengan Doni Stark, Rania menyerobot Raga. Ia bersalaman erat dan penuh cinta pada pria yang lebih pendek darinya itu. Doni Stark tampak ketakutan begitu tatapan tajam Raga semakin kejam dan membunuh. Cepat-cepat disingkirkannya tangan Rania. "Selamat, Tuan, Nona! Kalian pasangan yang sangat serasi!" serunya sok akrab dengan tawa dibuat-buat. Tidak lupa ia mencium tangan Raga. Rania terkikik. Doni Stark memang orang yang lucu bahkan di saat ketakutan sekalipun.



"Terima kasih, Doni Stark. Kau adalah klienku yang sempurna," kata Raga dingin.



"Ini cukup lebih baik," batin Rania seraya menghela napas pelan.

__ADS_1



Kemudian pasangan tuan dan budak itu beralih ke tamu istimewa yang lain. Dalam hati Rania merasa hatinya campur aduk. Ada senangnya, ada cemas, ada kesalnya, bahkan ada sedihnya.



Rasa yang paling mendominasi adalah... Entahlah, Rania tidak yakin. Ia menggeleng pelan, berusaha untuk tidak memikirkannya. Sementara langkahnya sebentar lagi sudah sampai di ujung. Dua langkah sebelum naik ke panggung utamanya, panggung tempat Raga mengucapkan "Saya terima nikahnya... Bla, bla, bla."



Rania tidak dapat membayangkan maskawinnya yang mungkin sebuah rumah mewah, helikopter, jet, atau kapal pesiar. Tapi...



Itu tidaklah penting.



Ada perasaan yang mendominasi di antara perasaan-perasaan yang ada di dalam hatinya. Ia memegang dadanya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, Rania. Itu takkan terjadi."



Sang penghulu tersenyum begitu memandangi Rania lalu berubah takut saat beralih ke tatapan Raga. "Cepat mulai pernikahannya. Kau lihat? Aku dan calon istriku sudah tidak sabar untuk malam pertama."



Entah kenapa para hadirin tamu tertawa mendengarnya. Sementara ratusan ribu yang berada di bawah panggung pernikahan bak sihir ini juga terdengar sedang tertawa. Rania tahu pasti karena mikrofon, mereka bisa mendengar omongan Raga. Baik keduanya memang terpasang alat itu, yang dipasangkan oleh seorang panita saat mereka berdua naik ke panggung. Panita itu sempat dihardik Raga karena tidak sengaja mengenai adik kecilnya.




Raga tersenyum nakal. "Kau pastilah puas, Sayang."



"Oh, Tuhan! Sekarang Raga memanggilku dengan sebutan 'Sayang'?" batin Rania tidak percaya.



Mereka kembali tertawa. Beberapa saat kemudian mendadak hening karena pernikahannya akan dilaksanakan detik itu juga. Penghulu sudah berbicara dan mereka diam mendengarkannya. Sampai terdengar, "Saya nikahkah Raga putra Raja Anggara dengan Rania putri Jaya Kusuma, dengan maskawin..."



Ini sangat aneh. Bagaimana mungkin bisa dibilang pernikahan jika orang tua dari Rania tidak ada di sini? Setidaknya ibunya, Ratna. Kalau Jaya, Rania sama sekali tidak peduli, buang saja ke Samudra Pasifik sana.



Setelah penghulu selesai dengan omongannya, Raga pun membalasnya dengan mantap dan tanpa lupa sedikitpun. Rania dapat melihat senyum kecil di bibir Raga. Nyaris tidak terlihat.



"Jangan membuatku takut, Raga..."


__ADS_1


Rania melihat arti senyuman itu bukanlah sebuah tanda cinta dan bahagia melainkan hal yang lain.



"SAH!"



"KYAAA! AKU IRI PADAMU, NONA RANIA KUSUMA! SELAMAT!"



"CEPAT-CEPAT PUNYA MOMONGAN, YA?!"



"KYAAA! AKU TERHARU!"



Pikiran buruk Rania langsung teralihkan. Teriakan-teriakan selamat terdengar dari ratusan ribu manusia itu. Suara perempuan yang mendominasi di telinga Rania, hingga nyaris menulikan telinganya.



Kemudian Raga mengajak Rania naik ke podium khusus di ujung panggung yang terbuka itu. "Kita akan mengucapkan sepatah dua kata setelah resmi menjadi sepasang suami istri," bisik Raga. "Aku akan memberitahu rahasianya hingga mereka semua tahu."



Jantung Rania terasa langsung berhenti berdetak. Apa yang ditakutkan dari tadi menjadi kenyataan. Rahasia, katanya?



"Kau sangat kejam, Raga..." Tanpa sadar air di pelupuk mata Rania akhirnya jatuh.



Sementara Raga tidak memperhatikan karena sudah mulai memberikan ucapan sepatah dua kata. "Aku sangat senang berada di sini! Sudah lama aku menantikan hal semacam ini! Di usiaku yang masih sembilan belas tahun, aku tidak menyangka bisa menikah! Biasanya waktu yang ideal untuk bermain-main dengan wanita, kan?"



Mereka tertawa. Hanya Rania yang tidak. Dadanya terasa amat sesak. Air matanya semakin mengalir deras. Orang-orang yang melihatnya pasti mengira kalau Rania tengah terharu. Perset*n.



"Di sini aku mau memberitahu kalian sebuah rahasia soal Rania Kusuma!" seru Raga akhirnya, membuat dada Rania kian sesak.



"Sebenarnya Rania Kusuma adalah bu--"



BUAGH!


__ADS_1


***


__ADS_2