
Bicara soal anjing yang selalu lantang terdengar dari mulut manusia itu, Rania memiliki pengalaman yang buruk saat kecil dulu. Karena itulah ia merasakan ketakutan yang teramat sangat ketika harus berhadapan muka dengan binatang yang satu ini. Binatang yang gagah dan tampan dari sudut pandang yang berbeda.
Rania memejamkan mata, mengumpulkan tenaga, kekuatan, energi, atau apapun itu yang bisa berguna untuk meladeni dua anjing ini. Tanpa harus gemetar, gagap, hingga merengek minta tolong.
"Guk! Guk! Grrrrr!"
Jantung Rania bukan main tersentaknya. Misalkan ia sudah tua dan punya penyakit jantung jangan ditanya dunia yang Rania sapa selanjutnya. "Jangan berani menggonggong, anjing jelek!" batin Rania berang, mengepalkan kedua tangannya. Apa mereka tidak lihat Rania sedang mengumpulkan semua elemen untuk meladeni mereka? "Sabar, dong! Kalian mau bermain dengan budak cantik ini atau tida--"
"GUK! GUK!"
Kali ini lebih keras dan Rania akhirnya gagal dengan misinya. Ia lari pontang-panting dan dua anjing tampan dari sudut pandang yang berbeda itu tentu mengejarnya dengan gesit. Selagi mereka main kejar-kejaran, hingga Rania sempat terpeleset tahi kucing, rupanya Raga tengah asyik memperhatikan mereka. Di rooftop rumah megah itu, peninggalan keluarga Anggara turun-temurun---sekarang Ragalah penguasa tunggal di sana.
"Haha!" Raga tertawa kalem, tapi dari raut wajahnya tampak ia sangat senang sekali. Begitu terhibur dengan aksi kejar-kejaran itu. "Budak cantikku itu benar-benar lucu kalau dilihat dengan teliti. Kalau statusnya bukan sebagai budakku, pasti aku dapat melihat selera humornya yang tinggi."
Kemudian Raga termenung dan tersenyum. Sekretaris Ardi yang berdiri di samping Raga tidak merespon. Sesekali ia melihat ke bawah dan ke wajah tuannya yang kini mengarah ke langit sambil memejamkan mata.
"Apa yang dipikirkannya?" batin Sekretaris Ardi bertanya-tanya.
Entahlah...
***
"Kau gagal," ujar Raga singkat saat hukuman Rania gagal dilaksanakan. Ia bersedekap di hadapan Rania yang sekujur tubuhnya kotor karena mesti berguling-guling menghindari serangan dua anjing itu.
__ADS_1
"RAGA ANGGARA, KAU GILA!" batin Rania berteriak sekuat tenaga. Penuh amarah.
"Tahan, Rania... Tahan, Rania... Tahan... Ini ujian..."
Rania berlutut dan membungkukkan kepalanya serendah mungkin. "Di lain kesempatan, saya tidak akan mengecewakan Anda, tuan tampanku. Saya akan menjadi budak penurut seperti yang Anda mau."
Raga meludah ke samping. "Tidak ada kesempatan."
"Kalau begitu saya akan menunggu kesempatan itu datang, Tuan," balas Rania tidak menyerah. Ia sudah gila, sinting, tidak waras, edan dan segala tet*k bengeknya. Terserah. Ia melakukannya demi pulang.
Ia mau pulang karena rindu yang semakin tidak tertahankan. Ia mau pulang bukan hanya untuk sementara. Rania mau kembali ke pangkuan ibunya untuk selamanya!
"Tak ada yang tidak mungkin."
Rasa yang rupanya tengah menyaksikan kemalangan Rania langsung tertawa terpingkal-pingkal. "Mampus kau, Rania Kusuma. Sekali budak tetap saja budak!"
Betapa tidak tahu, Raga memarahi Rania di aula tengah rumah yang luas itu. Ada lampu gantung besar yang bersinar terang dan indah saat malam tiba--dilapisi ribuan berlian.
"Aku benar-benar benci padanya, Nona," geram Angie yang juga ikut menyaksikan. Rasa terkekeh. "Kenapa kau tidak membalas perbuatannya padamu waktu itu?"
Angie menggeleng. "Biar bagaimana pun, Tuan Raga tampak sangat mencintainya. Ia akan marah--"
Rasa memotong omongan Angie dengan mendelik tajam. "Kakakku tidak mencintainya! Paham?!" bisiknya marah.
__ADS_1
Angie mengangguk takut-takut, kemudian kembali menyaksikan penderitaan Rania. "Entahlah. Aku tidak mengerti situasinya. Aku jelas bisa menangkap kalau itu cinta. Kalau itu bukan sembarangan perasaan. Biar aku bodoh karena sampai rela menjadi pembantu di sini, tapi aku benar tahu perasaan yang berbeda itu," batin Angel Sandrinova yakin.
Sekarang Rania masih sibuk berlutut dengan kepala tertunduk. Ada perasaan kuat untuk mengeluarkan air matanya. Ia merasa tidak sanggup lagi. Ia benar-benar...
"Ya, Tuan," kata Rania tiba-tiba seraya mendongakkan wajahnya sambil tersenyum paling cantik. Tidak ada air mata.
Berhasil tertahankan untuk yang sekian kalinya.
"Aku berubah demi menjadi budak cantikmu yang penurut, Tuan. Agar Tuan tidak hanya mulai mencintaiku..."
Ada jeda yang lama sebelum Rania melanjutkan omongannya. Semuanya menunggu termasuk Raga Anggara.
Selama itu senyum Rania tidak memudar. Selama itu ia berhasil menahan tangisnya...
"Juga menjadikanku hidup dan matimu, Tuan Raga Anggara."
***
__ADS_1