Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Menantu Baik-baik


__ADS_3

Rania hampir saja lupa bahwa Raga dulunya memang takut dengan kucing. Benar-benar sesuatu yang mencengangkan. Kenapa bisa ada orang yang takut dengan kucing. Kalau anjing masih bisa disebut wajar.



"Berisik," kata Raga. Ia lantas menggendong kembali tubuh Rania. "Kau mau kubuat hamil, Sayang?" geramnya.



Rania malah tertawa. "Aku rasa kau impot*n."



"Enak saja kau bilang aku impoten!" Raga makin geram lalu masuklah ia ke dalam kamar dan menguncinya. "Lihat saja, meski kau minum pil KB, sejuta cair*n cint*-ku mampu membuatmu hamil!"



"Haha! Itu maksudku yang tadi! Raga bego! Tapi aku yakin percuma saja, karena kau impoten!



Raga membalas ejekan Rania dengan merentangkannya kedua kaki Rania di atas ranjang dan langsung tancap gas. Tawa Rania langsung menghilang dalam kenikmatan. "Terus Raga impoten!"



Rania masih saja sempat meledek, yang membuat Raga kebakaran jenggot. "Kau lihat saja, Sayang! Pasti kau akan kubuat hamil kembar empat!"



Rania tak sempat tertawa karena terus mendesah. Tapi itulah alasannya, tebak Rania. Raga mau membuktikan kalau ia tidak impoten. Seorang wanita yang mendengar dari kejauhan dibuat tertawa.



"Jadi begitu ceritanya, Sayang," kata Rania pada Raja yang entah sedang senyum atau sedih.



Raga memerah mukanya, mencubit pipi Rania gemas. "Ya, ya, begitulah alasannya. Kau puas?!"


__ADS_1


"Sangat puas!" Rania menyingkirkan tangan Raga. Ia balas mencubit hidung Raga.



Raja bertepuk tangan ala bayi dengan wajah ceria melihat mereka berdua. "Lihat saja Raja. Dia bahkan sama puasnya denganku," ujar Rania.



"Sini, biar aku saja yang menggendong Raja! Dia itu seorang jagoan, harus banyak-banyak digendong oleh jagoan!" Raga berusaha merebut Raja dari pangkuan Rania. Tapi Rania reflek dengan mencubit lengan Raja.



"Jagoan takut kucing!" Rania memeletkan lidahnya.



Raga mendengus kesal. "Ngomong-ngomong, kucing itu menyebalkan! Masih saja ada di rumah meski dua anjingku sudah memburunya!"



Kini keadaan berbalik. Awalnya Raga yang bersikap seperti pemenang ketika dua anjingnya menakuti Rania, maka kini Rania yang menyombongkan diri.




Sebelum Rania memanggil Shania dengan kata "push", Raga cepat-cepat menutup mulutnya. "Kau dengar, aku mau kucingmu dibuang ke tempat penampungan hewan!"



Raja masih saja bertepuk tangan ala bayi. Sekretaris Ardi memperhatikan mereka dari kejauhan. "Tuan dan Nyonya yang serasi."



Kedua pria berpakaian hitam itu diam seperti biasa. Baru bergerak jika ada ada perintah. Perintah yang masih dalam proses adalah menangkap kucing peliharaan Rania. Makhluk itu sangat gesit. Satu-satunya cara ampuh kucing itu ditembak, tapi Raga tidak sekejam yang dibayangkan.



Rania tertawa kemudian membalas omongan Raga, "Kau kejam sekali. Dulu dialah yang menghiburku di saat aku menderita."

__ADS_1



Meskipun kucing Anggora Rania sudah dibuang, tapi kucing yang lain muncul. Kucing kampung juga. Jaya mengetahuinya, namun dibiarkan saja karena Rania tidak sampai membawanya ke dalam rumah.



"Raga! Rania! Sudah waktunya makan siang!" seru Ratna dari depan pintu rumah. Keduanya menoleh.



"Baik, Bu!" seru Rania yang paling pertama. Raga yang kedua, tapi merespon dengan sopan, layaknya menantu baik-baik.



Ratna sudah dibawa ke rumah Raga selepas pulang dari bulan madu utama mereka di Spanyol. Ratna pun dibuat bahagia. Asal tahu saja, waktu itu ia diundang khusus oleh Raga pada malam pernikahan mereka. Tapi Rania malah salah paham yang berujung kemarahan Raga.



Hal-hal yang dilakukan Ratna selama dirumah kebanyakan mengurusi rumah tangga. Raga sudah bilang tidak usah repot-repot, tapi Ratna menolaknya dan melakukannya dengan ikhlas. "Aku bangga memiliki menantu sepertimu, Nak."



Sementara Jaya? Dia sudah menghilang bersama pemuda polos itu...



Mereka berdua serta Raja pun masuk ke dalam untuk makan siang. Ratna memasak yang enak-enak seperti biasa. Kalau ada batang hidung Ratna, Raga menjadi anak baik-baik, jarang berbuat usil pada Rania. Ratna tersenyum maklum. Ia menjauhkan diri di momen-momen tertentu untuk melihat keakraban mereka tanpa canggung.



"Dialah malaikat penolong anakku..."



***



__ADS_1


__ADS_2