
Rania baru bangun dari tidurnya. Dua hari sebelum pernikahan besar tahun ini di Indonesia. Dalam lima hari saja sudah ribuan undangan yang tersebar di berbagai kota besar. Ada kalimat tertulis di setiap undangan pernikahan yang sangat mepet itu. "Datang atau selamat."
Bagi yang mengerti itu adalah sebuah ancaman dari bos besar Anggara Group, yang percaya atau tidak masih berusia sembilan belas tahun. Rania merasa ia memang akan dinikahi seorang iblis. "Tapi aku heran. Jika dia bisa mengintimidasi orang dengan begitu mudah, kenapa mau membayar uang sebanyak seratus juta rupiah untukku? Ah, pasti sekedar basa-basi. Lagi pula uang segitu mana terasa olehnya."
Ngomong-ngomong, sehabis bercinta itu memang nikmat. Itulah yang dirasakan oleh Rania dan masih berbekas. Bercinta yang benar-benar memuaskan badan dan... perasaan. "Apa yang kupikirkan? Ini cuma nafsu belaka, tidak lebih. Perasaan di sini lebih kepada feel dari bercinta yang baik dan benar. Ya begitulah."
Rania mengayunkan sebelah tangannya dengan malas, mengabaikan perasaan-perasaan atau semacamnya. Terpenting adalah Raga tidak pernah main kasar lagi, sehingga Rania tidak perlu khawatir merasakan sakit dan perih. Bok*ngnya mengucapkan selamat tinggal pada penderitaan untuk waktu yang tidak ditentukan. "Haha." Rania merasa lucu juga saat mengingat bokongnya menderita selama ini akibat kegilaan Raga.
Kalau dipikir-pikir, jika dibawa positif sebuah penderitaan itu bisa dijadikan lelucon. Contohnya Rania bisa tertawa karena bokongnya padahal jelas-jelas saat bulan madu palsu itu sangat menderita.
"Mau ke mana kau?" tanya Rasa tiba-tiba menghadang langkah Rania saat sudah ada di depan jalan masuk dapur.
"Calon adik ipar, ini aku mau mengambil minuman. Haus."
Plak! Tamparan mendarat di pipi Rania tanpa dapat dicegahnya.
"Kenapa kau menamparku, calon adik ipar?" tanya Rania setelah dibuat kaget. Tatapannya tajam.
"Awalnya aku cuma memperhatikanmu, tapi aku tidak tahan lagi. Baru beberapa hari di sini saja sudah berbuat ulah, bagaimana sebulan, dua bulan, atau seabad?"
"Adik ipar, aku takkan tinggal selama yang kaupikirkan," kata Rania tertawa pelan lalu mengangkat sebelah tangannya. Remaja tanggung itu tampak merespon dengan kuda-kuda.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu, budak!" hardik Rasa, menyingkirkan tangan Rania yang mengelus pipinya. "Tanganmu kotor dan bau!"
Rania menciumi tangannya. "Masa, calon adik ipar? Kurasa ini harum karena bekas cair*n cint* kakakmu."
Muka Rasa memerah dan kembali menampar. Tapi mengejutkan Rania berhasil menangkis tamparan itu. "Calon adik ipar, aku haus. Tolong minggir."
Tubuh Rasa terdorong mudah ke samping. Mental di sini yang berbicara. Usia Rasa sekarang itu masih lima belas tahun, bau kencur. Kalau Rania mau, ia bisa menampar balik. Namun Rania ingat kalau Rasa adalah adik Raga. Kendatipun bisa berbuat semaunya, tapi ada pengecualiannya... ya, ini jelas saja termasuk.
"Raga Anggara tidak bisa ditebak. Waktu itu saja aku nyaris mati ketakutan karena hukumanku pada Angie. Apakah itu termasuk hal yang tidak disukainya atau tidak. Arghh! menyebalkan!"
"Entahlah, yang pasti Raga berhasil menakutiku---tidak, tidak. Kau tidak boleh kalah darinya, Rania. Sembunyikan rasa takut di hatimu dan tunjukkan keberanian yang luar biasa di wajahmu..."
"Kau tidak minum?" tanya Rania saat meneguk es jeruk dalam kemasan botol. Rasa Anggara masih diam di tempat sambil menatap benci Rania.
Rasa diam saja dan memasang tampang angkuh. Rania terkekeh pelan. "Kau tidak berbakat menjadi seorang pembully, calon adik ipar. Tidak tahu ke depannya. Kau tahu, dulu aku juga sama denganmu. Saat kelas satu SMA adalah masa ter--"
"Kau jangan senang dulu, Rania Kusuma," potong Rasa mendelik penuh kebencian. "Kakak Raisa tidak akan membiarkan pernikahan kalian. Kalau nekat ia akan menghancurkan gedung pernikahan kalian sebelum kalian tiba."
"Siapa itu Kakak Raisa?" tanya Rania cuek lalu menerbangkan rambutnya sambil berjalan, yang mengenai hidung Rasa. Gadis itu langsung menggesek-gesek hidungnya dengan kesal.
__ADS_1
Raisa terkekeh lagi. "Dia lucu sekali. Tapi aku bertanya-tanya, apakah anggota keluarga Raga hanya Rasa seorang di rumah ini. Saat sarapan, makan siang, makan malam, tak ada anggota keluarga lain yang tampak."
Hanya gadis labil yang terus melotot ke arah Rania tiada henti. Lalu di mana orang tua Raga? Di mana ibunya? Dan apa maksud Raga dengan dulu dia punya seorang ibu?
Pertanyaan yang banyak itu rasanya ingin Rania tanyakan pada seseorang di rumah ini. Tapi siapa? Rania celingukan di rumah besar nan megah yang serba putih ini.
Langkah Rania menuju keluar, sementara ia mengenakan piyama yang tidak terlalu mencolok alias sopan. Penjaga robot tampak menjaga dari kejauhan di pintu gerbang. Rania mendelik sebal. "Mereka seakan kembar semua, jadi aku tidak tahu mana dua robot yang mengantarkanku ke neraka ini. Lihat saja, aku akan membalasnya!"
"Selamat pagi, N-Nyonya," sapa Pak Albar, mengagetkan Rania. Ia adalah kepala pelayan di rumah ini. Usianya sudah tua tapi tampak masih kelihatan bugar, sebelas dua belas dengan Sekretaris Ardi.
"Pagi," jawab Rania dengan gaya seorang nyonya besar. "Ah, dengan dia saja kutanyakan," batinnya senang.
"Pak Albar, aku mau kau menceritakan soal orang tua Tuan Raga," perintah Rania kemudian.
Respon Pak Albar mengejutkan Rania. Tiba-tiba saja pria tua itu lari ketakutan, berputar menuju halaman belakang. Rania menaikkan satu alisnya. "Ada apa dengannya?"
Sampai Rania berbalik, betapa kagetnya ia begitu melihat...
***
__ADS_1