Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Saran


__ADS_3

Raga dibuat kaget dengan saran Sekretaris Ardi untuk menikahi Rania. "Apa yang ada di otak pria tua ini? Mana mungkin aku mau menikahi seorang budak."



"Apa kau gila dengan saranmu itu, Sekretaris Ardi?" tanya Raga untuk memastikan.



Sekretaris Ardi menggeleng seraya tertunduk. "Tidak, Tuan. Kusarankan Anda harus menikah dengannya. Sebagai CEO dari perusahaan besar, tentu Anda harus menjaga reputasimu. Apa jadinya jika ada yang tahu kalau Anda menyimpan seorang budak."



"Itu konyol!" tugas Raga. "Peduli apa soal image! Aku takkan menikahinya! Dia budakku! Seperti tujuan utamaku sejak awal!"



Sekretaris Ardi sudah bertanya sejak pertama kalinya. Apa sebenarnya alasan dari tujuan utama tuannya itu. Rania Kusuma adalah tujuan utamanya, tapi apa alasannya hingga gadis itu dijadikan budak? Kecantikan Rania memang tiada tara namun kenapa hanya dijadikan budak, itulah yang jadi pertanyaannya.



Apakah Raga benar-benar anti terhadap sesuatu yang berhubungan dengan ikatan antara pria dan wanita? Semua wanita dianggapnya sama, makhluk rendahan. Padahal terang-terangan Raga mengakui kecantikan Rania. Ini sungguh tidak dapat dimengerti.



"B-baiklah, Tuan, jika Anda tetap dengan keputusan ini," kata Sekretaris Ardi kemudian meninggalkan ruangan pribadi Raga di villa milik keluarga Anggara tersebut.



"Tunggu dulu!" seru Raga menggeram marah. Ia mendadak muak dengan tingkah Sekretaris Ardi.



Tangan Sekretaris nyaris menyentuh gagang pintu dari kayu mahoni itu. Ia membalikkan badannya. Sontak ia langsung tersentak.



"Oh tidak, aku telah membangunkan kemarahan Tuan Raga," batinnya ketakutan. Ia dapat merasakan aura yang mencekam dari Raga Anggara.


__ADS_1


"Sekali lagi kau berkata yang tidak-tidak, aku pastikan kau akan kutendang keluar," kata Raga dingin.



Sesuai dugaannya, membuat Sekretaris Ardi menelan ludah. "M-maafkan aku, Tuan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."



Raga berdecak. "Baiklah, kau boleh pergi."



"Ada-ada saja sarannya," umpat Raga setelah Sekretaris sudah pergi. "Kalau saja ia bukan siapa-siapa, pasti sudah kutendang dari Anggara Group ini tanpa menunggu kesempatan kedua."



Raga kemudian bangkit dari sana. "Sudah cukup istirahatnya. Sekarang saatnya melihat apakah budak cantikku baik-baik saja." Ia tersenyum licik.



***




"RAGA IBLIS!"



Betapa tidak iblis, ketika Raga tega mengikat kedua tangan dan kakinya. Sementara di hadapannya ada dua ekor anjing hitam yang terus menggeram seakan siap menerkamnya.



Sebelum pergi, Raga mengatakan, "Semoga beruntung, budak cantikku. Terkadang kedua anjing peliharaanku ini menyerang tanpa kompromi atau perintahku."



Rania melongo mendengarnya. "T-tapi aku kan budak cantikmu, Tuan Raga Anggara. K-kalau aku tercabik-cabik, kau tidak akan bisa menikmatiku lagi..."

__ADS_1



"Siapa bilang?" Raga mengerlingkan matanya lalu pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa.



Ini benar-benar gila. Rania menjadi budak dari seorang CEO yang tingkat kewarasannya sangat rendah. "Kalau mau membunuhku, langsung saja! Biarkan aku mati dengan cepat! Kemudian aku akan gentayangan dan menuntut balas dendam padamu!"



"Budak cantikku mau memberontak, ya?"



Rania bukan main kagetnya, kemudian membalikkan tubuhnya dengan menghentak bok*ngnya. Meski dalam keadaan terikat, ia masih bisa bergerak dengan bok*ngnya.



"E-eh, tidak, Tuan! M-mana berani aku memberontak kepada Tuan! A-ampun, Tuan!"



Raga terkekeh geli. "Enak sekali kalau mempunyai kekuasaan semacam ini. Bisa menakut-nakuti semua orang rendahan. Ya, seperti dia... Meski kecantikannya menjauhi Angel atau siapapun di dunia ini... Sangat cantik-mu itu The Special One... ya... karena itulah aku mau menjadikanmu budak, Rania Kusuma."



"Bukan sebagai istri!" batinnya berteriak marah. Tiba-tiba ia mencengkram dagu Rania dengan kasar.



"Jadi jangan coba-coba untuk menyentuh hati ini, budak cantikku," kata Raga dingin.



Rania membeku seketika.



***

__ADS_1


__ADS_2