Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Sejak Awal


__ADS_3

"Jadi kalian belum menikah tapi sudah panggil suami-istri?" gelak Andin saat mendengar cerita Rania. Sementara Raga sedang keluar untuk meeting lain sehabis menggarapnya tiga puluh menit lebih.



Gadis budak itu mengangguk sambil memain-mainkan jari telunjuknya. "Begitulah. Kami norak, ya?"



Andin tertawa. "Jangankan kau, aku juga begitu dengan Roby. Kau masih ingat kan dengan dia?"



Rania mengingat-ingat kemudian memekik seraya memasang wajah tertawa. "Jangan bilang..."



Andin terkikik malu. "Ya, cowok culun itu akhirnya yang bersanding denganku di atas pelaminan."



"Serius? Jangan berbohong!" Rania tidak dapat mempercayainya. Semua orang tahu betapa culunnya Roby. Bahkan ia dapat mendengar sumpah Andin, sampai mati tidak akan pernah mau dekat-dekat dengan Roby.



Kehidupan berputar begitu cepat sekarang. Siapa yang dapat menebak ke mana arusnya akan mengalir. Tidak ada yang tahu, seperti arus kehidupan Rania yang seperti sudah menemukan lautannya.



Lautan penderitaan.



Rania dibeli oleh CEO kaya raya dan Jaya bilangĀ  akan dinikahi. Tapi Rania tidaklah bodoh, karena tahu kalau dibeli itu artinya ia akan menjadi budak. Ia diperkosa bagaikan binatang ternak, ibunya diancam jika berani melawan atau memberontak, ditakut-takuti dengan dua anjing hitam galak, hingga diperkenalkan sebagai budak kepada orang-orang di kantornya...



Meski ia mendapatkan keistimewaan dan kemurahan hati "untuk kali ini saja" dari Raga Anggara.



Tetap betapa sakitnya hati Rania... Sangat sakit.


__ADS_1


"Hiks." Meski juga akhirnya ucapan Jaya menjadi kenyataan: mulai diberi makanan enak-enak, perhiasan bahkan rumah akan dibelikan oleh Raga. Padahal awalnya Rania sama sekali tidak menduganya. Bahkan tidak ada label "untuk kali ini saja".



Dari sanalah Raga bisa dibilang tuan yang baik hati... "Baiiiik sekaaaliiii.. sehingga aku mau meludahi mukanya!"



"Sudah kubilang seperti sebelumnya, buat apa semuanya jika aku menderita dan tetap dijadikan budak?! Aku terpisah jarak dari ibuku! Orang yang paling aku sayangi!"



"LALU APA GUNANYA PERNIKAHAN ITU?!" batin Rania berteriak sekuat tenaganya.



Rania Kusuma tetaplah budak, budak dan budak! Tidak ada cinta!



Andin tersentak takut melihat perubahan ekspresi Rania. "R-Rania... k-kenapa kau malah jadi sedih? Ya, ya, aku tahu kisah cintaku tidak indah. Aku tahu, tapi kau tidak perlu ikut bersedih. Aku jadi terh-haru." Andin meneguk ludahnya kaku. Padahal Rania sedang marah.




Tapi percuma saja... Karena keputusan Raga sudah sangat bulat.



"Akibat kesalahanmu sendiri, budak cantikku. Coba saja kau tidak membuatku susah dengan akting mulut berbuihmu," ujar Raga saat mendengar penolakan Rania. "Jadi jangan berpikir untuk menolaknya, Rania Kusuma... Atau kau akan menerima konsekuensinya."



Andin kini dibuat sangat panik karena Rania tiba-tiba menangis histeris. "Rania! Rania! Kenapa malah menangis?! H-hei, jangan membuatku panik begini!"



"Huaaaaaa!" tangis Rania semakin menjadi-jadi.



Sangat menyesakkan.

__ADS_1



***



"Pernikahannya minggu depan," kata Raga sambil tersenyum pada seorang klien dari luar negeri. "Datanglah bersama keluargamu. Kita akan berpesta."



"Tentu saja saya beserta keluarga akan datang, Tuan," jawabnya sambil menciumi tangan Raga.



"Bagus. Kau klienku yang baik dan bijaksana."



Setelah undangan langsung dari Raga, kliennya yang berwajah gelap itu pun pergi. Raga terduduk di atas kursinya. Seorang diri.



Tidak ada siapa-siapa di sana selain dia sendiri.



"Haaa..." Raga menghela napas seraya mengendurkan dasinya. Kursinya dibalik hingga berhadapan dengan dinding kaca gedung pencakar langit miliknya. Panorama langit senja terpampang jelas di atas lautan di ujung sana.



"Rania, aku takkan jatuh cinta padamu," katanya dingin. "Kau hanyalah budak seperti tujuanku sejak awal."



Raga sepenuhnya menjadi dingin dan sadis sekarang. Hanya dirinya sendiri yang tahu alasannya kenapa.



***



__ADS_1


__ADS_2