Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Berlutut


__ADS_3

"Aku haus."



Rania tahu apa yang mesti dilakukannya. Ia segera mengambilkan minum untuk tuannya. Ada teko kaca di meja nakas. Sudah terisi air dan ada gelasnya.



"I-ini, Tuan."



"Kau minum duluan," kata Raga. Rania tidak mengerti tapi menurut saja. "Bagaimana?" tanya Raga tanpa memandang Rania.



"R-rasanya segar, Tuan. Rasa capekku jadi hilang."



Mata Raga langsung menatap tajam setelah mendengarnya. "Apa kau bilang, budak cantikku? Kau melawanku?"



Rania menggeleng-geleng. Rania tidak merasa melawan Raga. Mana berani Rania dengan posisi amat terdesak seperti ini.  "Apa maksud, T-Tuan?" tanyanya. "Dia kenapa, sih?" Ada rasa kesal di hatinya, karena melihat perubahan Raga ini sangat horor. Itu membuatnya kesal di samping rasa takutnya.



"Kau bilang rasa capekmu jadi hilang!" kata Raga menggeram marah. Mendekatkan wajahnya ke arah Rania yang langsung menahan napas.



"A-ampun, T-Tuan."



Rania memohon ampun saja meski ia benar-benar tidak tahu apa kesalahannya. "Raga Anggara! Jangan begini padaku! Kau memang ib--"



Cup.



Seketika Raga mencium bibir Rania. Lalu beberapa saat ia melepaskannya. Raga mengangkat tangannya dan Rania reflek memejamkan matanya. Tapi Raga cuma mau mengelus pipinya yang mulus dan lembut.



"Bantu aku minum," kata Raga, masih mengelus-elus pipi Rania.



Rania cepat-cepat meminumkan air pada Raga dengan tangan gemetar. Ia berdoa gelas itu tidak tumpah sehingga memancing kemarahan Raga.



"Benar, airnya segar. Nah, sekarang berlutut," kata Raga selanjutnya. Rania menurutinya dengan patuh.



"Jangan ubah posisimu. Aku mau mandi sebentar."



Dua puluh menit menunggu dengan hati bergemuruh marah, Raga akhirnya keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan busana. Reaksi normal Rania seharusnya menjerit histeris sambil menutup mata seperti yang dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Tapi Rania di sini sudah terbiasa melihat kejantanan Raga yang sempurna itu. Besar, panjang dan merah menyala.



"Kenapa kau melihatku sampai segitunya?" ejek Raga. Rania cepat-cepat menunduk dengan muka memerah. "Sudah, tidak usah menolak birahimu. Awalnya menangis-nangis, besoknya malah ketagihan. Sudah pantas aku menjadikanmu budak terlepas dari status istimewamu. Juga melepas kecantikanmu yang sempurna itu... kau adalah seorang jalang."


__ADS_1


Hati Rania langsung sangat panas mendengarnya. "Aku bukan jalang!" serunya marah di dalam hatinya. Ada setetes dua tetes air mata yang tidak mampu ditahannya.



"Jangan menangis," ujar Raga dingin.



"T-tidak, Tuan. Aku hanya kelilipan."



Raga mendengus lalu beralih ke lemarinya untuk mengambil pakaian. Setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna merah.



"Aku mau keluar, makan malam dengan klien," beritahu Raga selesai berpakaian dan ia langsung terlihat memesona seperti biasanya.



Rania diam-diam berdecak. "Tanpa jas pria setampan apapun pasti tampak sama rata! Jadi kau memesona karena jasmu itu, Raga! Jadi jangan sombong!"



Sambil menyisir rambut pomadenya, Raga melanjutkan omongannya. "Klienku seorang wanita. Kau cemburu? Cih, kau tidak berhak."



"Y-ya, Tuan, aku tidak berhak," kata Rania. Sementara di dalam hatinya ia mengumpati Raga. "Tidak ada kata 'cemburu' untukmu, Iblis! Aku tidak mencintaimu dan takkan terjadi!"



"Jadi selama aku pergi, aku tidak mengijinkan kau ke mana-mana," kata Raga lagi. "Kau harus tetap berlutut seperti ini. Ada CCTV rahasia yang akan mengawasimu, sehingga kau tidak bisa melanggarnya."



Rania menelan ludah. "I-iya, aku akan melaksanakan perintahmu, Tuan."




"P-paham, Tuan," kata Rania. Bisa mampus ia karena keram atau apapun itu jika tidak bergerak dan mengubah posisinya.



Raga kemudian mencengkram dagu Rania sambil tersenyum dingin. "Lalu saat pintu kamar terbuka dan melihat sosokku yang sempurna, kau harus..."



"Memberikan senyuman paling cantikmu."



Bibir Rania menaikkan secara perlahan kedua ujung bibirnya, didasari rasa takutnya. "Seperti ini, T-Tuan?" tanyanya.



"Kurang."



Rania lebih menaikkannya lagi sampai ke titik maksimalnya. Sehingga Rania tidak bisa menaikkannya lagi.



"Hentikan, kau seperti badut!" hardik Raga. "Perbaiki!"



Setelah sekitar tiga menit sibuk dengan hal tersebut, akhirnya Raga mendapatkan senyuman yang ia mau. "Bagus."

__ADS_1



"Oh, ya, sebelum aku berangkat, calon istri harus mencium kaki calon suaminya," kata Raga, menggerakkan sebelah kakinya ke depan. Sepatu hitam pantofel brand mahal itu menanti untuk dikecup oleh Rania.



Betapa terhinanya Rania. Ia masih tidak bergerak setelah Raga menunggu selama sepuluh detik. Pria muda itu menggeram marah.



"Kau tidak mau? Baiklah jika itu--"



Omongan Raga terpotong begitu Rania akhirnya mencium kakinya.



"Bagus, budak cantikku," kata Raga sangat puas seraya menepuk-nepuk bagian atas kepala Rania.



Kemudian Raga pergi dari sana dan menutup pintu dan menguncinya sehingga Rania tidak bisa keluar.



Beberapa detik... "Hiks, hiks, hiks!" Air mata Rania akhirnya bercucuran tidak tertahankan.



Menangis sejadi-jadinya tanpa ada yang peduli. "Huaaaaaaaaa!!! Ibuuuuuu!!!"



Sekretaris Ardi bahkan dapat mendengar tangisan Rania saat mobil yang ditumpanginya sudah berjalan. Ia duduk di samping tuannya. Dijadwalkan akan menemui seorang klien wanita untuk membahas sebuah proyek pembangunan hotel bintang lima.



"Kenapa mukamu seperti itu, Sekretaris Ardi?" tanya Raga, mengagetkan sekretaris pribadinya itu. "Apa yang kaupikirkan?"



"Tidak, Tuan, saya tidak memikirkan apa-apa," jawab Sekretaris Ardi menunduk.



"Kau menyarankanku untuk menikah, Sekretaris Ardi," kata Raga beberapa saat kemudian. Ada senyum mengejek yang terpancar. "Tapi aku heran sampai sekarang kenapa kau tidak pernah menikah. Kau hanya bermain dengan pelac*r lalu membuangnya."



"Aku hanya belum menemukan jodoh, Tuan," jawab Sekretaris Ardi dengan sopan.



"Hahaha!" tawa Raga meledak. "Aku suka sekali caramu membuat alasan, Sekretaris Ardi!"



Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Mobil mewah itu melaju sedang, sementara Raga menguap sesekali karena bosan.



"Tunggu aku pulang, Rania Kusuma," gumam Raga setengah melamun.



***



__ADS_1


__ADS_2