
Dini hari itu keadaan mereka berdua sangat basah. Di temani bulan yang bersinar terang di balik jendela yang terbuka bagian samping. Letak kamar Raga itu berada di lantai pertama yang berdekatan dengan aula depan dan samping. Rania sebenarnya mau bertanya kenapa tidak di lantai teratas seperti orang-orang kaya di luar sana. Menunjukkan derajat mereka. Tapi sepertinya itu tidak penting. Pasti soal selera saja kenapa Raga memilih di sini.
Sementara itu soal bercintanya mereka yang bisa dibilang terbuka, para tetangga takkan bisa mengintip. Karena terhalang hamparan rumput yang luas dan tembok tinggi. Ditambah lampu kamar Raga sengaja dimatikan. Niat besarnya itu agar terkesan seperti percintaan zaman dulu yang tidak menggunakan lampu.
"Tuan, kau memang perkasa," puji Rania dengan peluh membanjiri tubuhnya.
Raga juga sengaja mematikan AC agar suasana bercintanya semakin panas. Alhasil Raga mendapatkan sensasi yang ia inginkan. Dilihatnya kecantikan alami Rania dengan bantuan sang sinar ciptaan Tuhan.
"Sangat sempurna," batin Raga terpesona. "Aku takkan pernah melepaskannya sampai aku mati sekalipun. Jika aku mati, aku akan melakukan cara Romeo dan Juliet dengan alur yang berbeda... Mati bersama."
Raga pastilah sudah tersesat jauh hingga akan melakukan segala cara demi memiliki Rania seutuhnya. Entahlah...
"Mau lagi?" tanya Raga seraya mencengkram dagu Rania.
Rania tersenyum, kemudian melakukan dengan caranya, memohon seperti budak yang tidak tahu malu. "Tidak apa-apa, aku sudah mulai terbiasa..." batinnya.
"Haha, bagus," kata Raga tertawa mengejek. "Tapi aku mau istirahat sebentar. Mengobrol denganmu soal pelayan kita yang baru kau hukum."
Rania agak kaget mendengarnya. Ia sudah menduga Raga akan membahas ini juga, dan Rania punya jawabannya. Ia siap dengan segala resikonya jika Raga kembali mengejutkannya.
"Boleh aku tahu siapa yang mengadu padamu, Tuan? Kurasa aku melakukannya di tempat yang aman."
__ADS_1
Raga diam sebentar hingga tawanya terdengar cukup keras. "Ada banyak mata, telinga bahkan tanganku di sini, budak cantikku. Sekalipun kau melakukannya di lorong pipa rumah ini."
Rania tersenyum. "Kalau begitu hukumlah aku, tuan tampanku, karena telah lancang memberi hukuman pada pelayanmu. Aku hanyalah budak meskipun istimewa. Aku pantas--"
"Apa yang telah dilakukannya sampai kau menghukumnya, budak cantikku?" potong Raga sambil meletakkan jari tangannya di bibir Rania. Sementara tangannya yang satu lagi bermain-main di leher Rania. Seperti sedang bersiap-siap melakukan sesuatu yang mengerikan.
Rania menguatkan mentalnya agar tidak jatuh. Tetaplah tersenyum seperti yang Raga inginkan. Iblis ini mau... "Kau harus bertahan, Rania. Harus!"
"Ia menyebutku budak, Tuan..." jawab Rania akhirnya di saat jari telunjuk Raga masih menyentuh bibirnya.
"Benar."
"Lalu kenapa kau marah?" tanya Raga, menggeram. Rania berusaha sangat keras untuk bertahan di saat hatinya ketakutan setengah mati sekarang.
Rasanya mau berbalik arah dan kembali ke dirinya yang... "TIDAK! RANIA KAU HARUS BERTAHAN!"
"Hanya dirimulah tuanku, Raga Anggara," kata Rania memberikan senyuman terbaiknya. Ia menambahnya dengan mengelus rahang pipi Raga yang keras. Menyusuri bulu-bulu halus yang menggelitik nafsunya.
"Berarti hanya dirimulah yang berhak melakukan semaunya kepadaku bahkan memisahkanku dengan ibuku untuk selamanya..."
__ADS_1
Ada jeda puluhan detik setelah ucapan Rania yang terbilang sangat nekat. "Bagaimana jika benar-benar akan memisahkanmu untuk selamanya dengan ibumu?"
"Tidak akan," batin Rania penuh keyakinan. "Tidak akan. Kami akan bersama kembali. Pasti!"
Sebuah keyakinan yang luar biasa ditunjukkan oleh Rania. Ia tak boleh sedikitpun berubah arah keyakinan atau hal itu benar-benar terjadi. Menguras air matanya kembali yang sudah ditahannya sejak tadi pagi.
"Sepertinya aku mulai mencintaimu, Rania..."
Omongan Raga terlontar begitu saja, membuat Rania terkejut. Raga tidak terlihat canggung setelah mengatakannya. Ia masih tampak kalem dan dingin. Sial bagi Rania sehingga tidak bisa melihat warna rona di muka Raga.
Apakah Raga serius atau tidak dengan ucapannya...
Apakah ini ungkapan cinta? "Hei, Raga Anggara!"
"Tapi tidak tahu ke depannya," ujar Raga dingin, lalu mencium bibir Rania hingga mereka kembali bercinta di bawah sang bulan.
***
__ADS_1