
"HAPPY NEW YEAR!"
Pesta malam Tahun Baru sekaligus pernikahan Raga dan Rania berlangsung sangat meriah. Semuanya tampak sungguhan terhibur kali ini dengan aksi dari penyanyi-penyanyi kelas atas dunia. Raga yang ada di kursi pengantin berlapis emas 24 karat itu pun dibuat ikut bernyanyi. Rania mendengarkannya dan tidak terlalu buruk juga. Malah suara Raga bisa dibilang bagus.
Tapi Rania Kusuma tidak bisa ikut bernyanyi. Bukan karena suaranya jelek. Bukan...
"Kau tahu, Rania, Ed ini penyanyi favoritku," bisik Raga pada Rania.
"Iya, Tu--Raga, aku juga menyukainya," sahut Rania. Sementara hatinya dipenuhi rasa takut yang mendalam. Terbayang omongan Raga saat di podium tadi, bahwa Rania akan dihukum sangat berat.
Rania takut membayangkan hukumannya seperti apa. Apa hukumannya? Apa hukumannya? Apa hukumannya? "Oh, Tuhan. Aku benar-benar melakukan kesalahan yang besar. Bagaimana kalau hukuman itu berupa nyawa ib--"
"Raga, kumohon jangan ibuku..." ujar Rania tiba-tiba, merangkul lengan Raga. "Kumohon..."
Raga mengangkat satu alisnya. "Kau bicara apa?" ujarnya kemudian tanpa memandang Rania. "Jangan membuatku bertambah muak."
Beberapa detik Raga menoleh ke arah Rania. Tatapannya penuh kebencian. "Dengan aksimu mempermalukanku di depan semua orang yang ada di sini, kau mendapatkan kerugian yang berkali-kali lipat. Beruntung ini tidak ditayangkan di TV, hanya dokumenter pribadi. Kau tahu, aku rela memboyong ratusan ribu orang di sini karena apa?!"
__ADS_1
Rania kaget mendengarnya, fakta bahwa malam pernikahan mereka tidak ditayangkan di TV. Ia sama sekali tidak menyangka.
"Iya, Raga, aku mengerti. Aku mengaku sangat bersal--"
"Cih. Kau sama sekali tidak mengerti, Rania," potong Raga, tanpa memandang Rania lagi. "Kau menyakiti hatiku. Sudahlah, sekarang manfaatkan saja hiburan yang sangat berkelas ini. Ambil semua rasa gembira yang dapat kau ambil. Karena diperlukan jutaan kegembiraan untuk menghadapi penderitaan dariku, Rania..."
Rania bergidik ketakutan. Ia hampir-hampir menangis. "Tidak, Rania... Kau harus yakin bahwa hukuman itu tidak membuat ibumu hilang. Kau harus yakin hanya kau yang terlibat dalam hukuman ini. Kau yang akan dijadikan objek kekejaman dari seorang Raga Anggara. Mungkin kali ini kau akan dicambuk, dirantai, disiram air panas. Itu mengerikan, tapi tidak apa-apa. Asal ibumu tidak kenapa-kenapa..."
Rania memejamkan matanya sebentar. "Benar, aku harus mengambil jutaan kegembiraan di sini sebelum menghadapi penderitaan yang dihasilkan oleh Raga Anggara. Dicambuk itu bukan hal main-main. Aku pernah menonton film yang ada cambuk-cambukkannya. Saking kejamnya, aksi cambuk tersebut tidak ditampilkan. Begitu selesai, baru aku melihat keadaan gadis itu yang sudah menangis tersiksa dengan punggung berdarah-darah."
"SIAL*N! KENAPA HIDUPKU SEMENYEDIHKAN INI?!"
Rania terengah-engah sendiri akibat rasa frustasinya. "Tidak dipukul aku menderita! Meski tidak sampai jutaan, tetap ratusan ribu ini jumlah yang sangat banyak! Raga Anggara! Kau pikir itu sangat tidak menjatuhkan harga diriku?! Hah?! Apalagi mereka kan punya ponsel pintar! Lalu memviralkannya! KAU IBLIS BEGO!"
Rania mengepalkan kedua tangannya diam-diam. Kembali muncul keinginan untuk memukul Raga. Memukulnya dengan sangat keras. "Aku benar-benar berubah, kau tahu?! Pukulanku dapat merontokkan gigimu!"
__ADS_1
"Tapi kalau dipukul aku tetap menderita juga! Argh! Lihat saja, sebentar lagi aku pasti dicambuk! Atau disuruh merangkak mengelilingi rumahnya yang luas sambil diikat rantai besi yang berat! OH, TUHANN!"
Tangannya terus terkepal kuat, sementara Raga asyik menyanyikan lagu dari penyanyi favoritnya itu.
"Raga!" Tiba-tiba Rania memanggil Raga dengan tatapan tajam.
Raga berhenti bernyanyi. Sedetik ia menggeram lalu menoleh. "Ap--" Ia tersentak saat melihat Rania menatapnya dengan tatapan serius. Omongannya terhenti dan membatin kesal, "Apa lagi yang mau dilakukan gadis ini... Apa, Rania? Kau tidak terima dengan hukumanku sesudah pesta ini berakhir?"
"Ya, aku tidak terima!" batin Rania membalas. "Aku mau membuat perhitungan padamu! Kau akan menyesal karena---hei!"
Mata Rania terbelalak ketika Raga tiba-tiba mencium bibirnya. "Kau tidak berhak, Rania Kusuma," balas Raga. "Kau adalah budakku, dan aku tuannmu. Seharusnya kau berterima kasih dengan keistimewaan-keistimewaan yang sudah kuberikan. Tapi malam ini... Kau tidak bisa dimaafkan!"
Raga terus menyerang Rania di tengah-tengah mereka yang semuanya asyik terhanyut oleh lantunan lagu yang sangat indah. Kecuali...
Seseorang yang mereka berdua kenal.
__ADS_1
***