Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Volume 2 Budak CEO Tampan (1. Kehidupan Baru)


__ADS_3

Setelah berlalu cukup lama Neraka itu...



Tampak seorang pria berparas rupawan. Dialah Raga Anggara. Ia tampak bahagia dengan menimang-nimang bayi yang sudah diberinya nama. Ia merasa bangga di kamar bayi tersebut. Sementara di dalam kamarnya, Rania masih sibuk dengan orgas**-nya akibat perbuatan Raga.



Suaminya sengaja melakukannya karena ingin menimang duluan bayinya. Alasan yang konyol. Sampai tega membuat Rania dibuat terkapar tidak berdaya. Rania berpikir kalau ia masihlah seorang budak.



"Budak istimewa. Ya, ya, ya, yaaaa!" Rania mencebik-cebikkan bibirnya. "Untung saja cinta! Coba kalau tidak, pasti sudah kutinggalkan dia pergi! Menangis-menangis saja sana!"



"Kau berkata sesuatu, Sayang?" kata Raga agak keras, yang dapat didengar Rania. Karena kamar mereka dan kamar si bayi bersebelahan.



"Eh, tidak, kok, Sayang. Aku sedang menikmati sisa keperkasaanmu!" balas Rania, lalu memanyunkan bibirnya. "Tapi herannya kenapa aku masih saja takut dengannya, ya? Menyebalkan."



Raga di seberang sana tersenyum miring. "Kau dengar ibumu," kata Raga pada si bayi dengan gemas. "Dia pikir papamu bodoh apa. Cup. Cup. Cup. Baa."



"Maaf, ya, jagoanku, kau menunggu papamu lumayan lama," kata Raga kemudian, masih menimang-nimang bayi pertama dalam hidupnya itu. "Ya, begitulah ibumu," bisiknya di telinga Raja Anggara. "Selalu minta jatah. Dunia terbalik, bukan? Hehe."



Setelah tenaganya pulih, Rania turun dari ranjangnya lalu ke kamar mandi. Ia mandi tidak sabaran karena ingin juga menimang-nimang anaknya. "Raga! Seperti anak kecil saja!"



Guyuran air shower melegakan tubuh Rania. "Segar..." gumam Rania seraya mendongakkan wajahnya ke atas.



Tapi Rania tidak mau berlama-lama di sana. Ia mau cepat mengakhiri mandinya. Keluarlah Rania dari sana dalam keadaan tanpa busana. Berpapasan dengan itu rupanya Raga bersama Raja masuk.



"Raga!" pekik Rania sambil menutupi tubuhnya. "Masuk ke kamar itu ketuk pintu dulu!"



"Hehe, ini kamarku, Sayang. Aku bebas keluar masuk tanpa mengetuk," gelak Raga lalu mendekati Rania dan mencolek dagunya. "Kau mau lagi, ya? Sabar, dong. Aku kan masih ingin menggendong-gendong bayi jagoanku."

__ADS_1



Rania mendengus. "Awas. Aku mau memakai baju dulu."



Raga pun minggir dan saat Rania melewatinya menuju lemari serba ada, Raga mencolek bagian bawah istrinya tersebut.



"Raga!"



Raga malah cengengesan kemudian bilang, "Aku dan jagoanku mau bersantai di halaman. Sesudah berpakaian kau langsung saja ke sana."



Gadis yang kini berusia dua puluh satu tahun itu mengangguk. Raga pergi dari sana setelah memonyong-monyongkan bibirnya, seperti melepaskan ciuman jarak jauh. Rania menghela napas sambil membuka lebar matanya. "Norak sekali."



Sesudah berpakaian santai blouse selutut, Rania keluar dan menyusul mereka ke luar. Setiba di halaman Rania melihat suami dan anaknya sedang duduk di kursi santai. Awalnya senyum Rania mengembang, tapi begitu melihat dua ekor anjing hitam milik Raga, senyumnya langsung menghilang.




Raga yang melihatnya dibuat terkekeh. "Kalian pergilah. Istriku takut pada kalian."



Seolah mengerti ucapan Raga, dua anjing hitam itu pun pergi lalu menghilang dari pandangan. Rania berkata sebal sambil berjalan mendekati suami dan anaknya. "Aku mau dua anjing itu dibuang ke tempat penampungan hewan!"



"Tidak boleh begitu, kau kejam sekali," kata Raga, memegang dagu Rania gemas lalu mengecup bibirnya. "Dua anjing itu yang menemaniku saat-saat penderitaanku."



Rania menelan ludah lalu tertunduk. "Maafkan aku, Sayang."



Raga tersenyum dan mengangkat wajah Rania. Ia menatap mata Rania selanjutnya dengan lama. "Aku mencintaimu, Rania Kusuma."



"Aku juga, Raga Anggara."

__ADS_1



Tanpa sadar, mereka berciuman hebat sementara si bayi akhirnya terbatuk di kursi bayinya. Raga dan Rania berhenti berciuman lalu menoleh.



"Haha," tawa mereka berdua serempak. Sementara Raja memasang tampang polos dengan mata memandang ke arah lain.



"Kau akan berciuman juga suatu saat nanti, jagoanku. Akan ada ratu di hatimu yang akan membuatmu bahagia untuk selamanya."



Setelah mengatakannya Raga memandang Rania dengan penuh arti. Tapi kali ini tidak ada ciuman. Raga tersenyum penuh kebahagiaan.



Rania-lah ratu di hatinya.



"Ya, ya, yaaa," batin Rania terkekeh, mendengar omongan Raga barusan. Kemudian tatapannya menjadi serius,  membalas tatapan cinta Raga.



"Kau tahu, Raga... aku masihlah budakmu... Ya, itu benar... Aku ini seorang anak kecil perempuan yang takut kehilangan tulang punggungnya..."



Cup.



"Uhuk." Raja terbatuk untuk kedua kalinya.



***



Author mau bilang selamat datang di kehidupan baru Raga dan Rania. Hehe. Dan makasih buat yang semangatin Author. kalian the best deh.



Selamat membaca dan semoga tetap suka!


__ADS_1


__ADS_2