Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 11 [Rumah Baru]


__ADS_3

Setelah berpamitan, Cakra memboyong istri nya itu ke Prancis, kebetulan di sana ada satu perusahaan Frans yang perlu penanganannya.


Kini kedua sejoli itu sudah berada di dalam pesawat, dikursi yang berdekatan, sesekali Helen menatap suaminya yang sudah mengenakan headphone dan memejamkan matanya.


"Tampan sih, tapi dingin bin munafik, mau jadi apa rumah tanggaku nantinya? Tidak ada sedikitpun cinta di antara kita, ahsudahlah yang penting aku melakukan tugas ku sebagai istri yang merawat suami saja." batin Helen dengan ikut memejamkan matanya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Setelah kurang lebih delapan jam lamanya menempuh jalur udara, kini pesawat yang di tumpangi Cakra dan Helen mendarat di BIRMINGHAM AIRPORT.


Tak perlu menunggu lama ternyata Tomy dan Bayu sudah stay di parkiran yang tersedia, "Hello Bos ku! Sebelah sini!" teriak Tomy dengan melambaikan tangannya.


Cakra yang melihat sosok yang sangat dikenalinya itu segera berjalan mendekat, tak lupa lengan Helen masih digenggamnya sejak turun dari pesawat tadi.


"Oh pantas saja tadi tidak kelihatan, ternyata sudah di sini, awas nanti kau ya!" geram batin Cakra yang masih mengingat tissue sachet berwadah hitam semalam.


Masih berdiam diri Cakra memendam dendam kesumatnya kepada dua bawahan yang kini ada di hadapannya, ya Tomy dan Bayu duduk di kursi depan sedangkan Cakra dan Helen duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Bos cantik?" sengaja Tomy memanggil Helen, sedangkan gadis berstatus istri itu reflek langsung meilhat ke arah depan, tanda ia merespon panggilan itu.


"Semalam gempanya besar ya?" Helen mengerutkan alisnya, ia tak mengerti maksud dari pertanyaan Tomy, sedangkan Cakra terlihat melotot mendengar ucapan itu.


"Kok diam Bos? Berati saking kerasnya guncangan sampai tak terasa gempa ya?" Kedua asisten itu terlihat cekikikan.


"Maksud kalian apa?" tanya Helen yang benar-benar tidak tau, dan itu semakin membuat Cakra geram.


"Tom, Tom, lo gimana sih? Mana paham dia gempa, tanya nya gini dong, gimana Bos semalam rudal balistik karatan nggak? Huahahahahahaha... " ucap Bayu kemudian di sambut dengan tawa keduanya.


PLETAK!!


PLETAK!!


Jitakan satu persatu mendarat di kepala Tomy dan Bayu, dan Cakra adalah pelakunya.


"Nggak bisa diem kalian ya?! Apa belum ngerasain potong gaji?!" geram Cakra, ia menekuk wajahnya, sedangkan Helen yang tak tau apa-apa ia hanya memilih untuk diam.


Berbeda dengan Tomy dan Bayu kedua asisten sekaligus sahabat Cakra itu saling menahan tawa.


"Lo sih! Kelewatan!" bisik Tomy.


"Kok gue? Si Bos gagal MP kali makanya sensi kaya perawan lagi PMS aja." sahut Bayu dengan berbisik pula dan ternyata itu tak luput dari telinga Cakra.


"Masih nggak bisa diem ya?!" gertak Cakra yang membuat Tomy dan Bayu mendadak mingkem (mengatupkan bibir atas dan bawahnya secara bersamaan).

__ADS_1


Cep! Hening suasana di dalam mobil itu, hanya deru mesin yang terdengar memenuhi indera pendengaran.


Saking sepinya, Helen pun kembali memejamkan matanya, hanyut dengan suara deru mesin mobil gadis itu serasa seperti di nina bobokkan kembali.


Tak lama kemudian mobil yang di kendalikan Bayu berbelok ke sebuah hunian mewah bergaya klasik.


"Bos cantik tidur, kecapekan kali dia, semalem lo gempur berapa ronde Cak?" celetuk Tomy dengan senyum jahilnya.


"Bacot lo! Mending kalian cepetan turunin barang-barang deh!" ucap Cakra menyuruh Tomy dan Bayu.


"Bos cantik perlu diturunkan juga, atau..."


"Nggak Perlu!" sela Cakra dengan nada sewotnya.


Bayu dan Tomy hanya cekikikan melihat punggung Bos sekaligus sahabatnya itu berlalu dengan menggendong istri dadakannya itu.


"Lo jahil banget sih Tom?" gerutu Bayu.


"Bukan jahil, kita bantu dekatkan mereka, toh Cakra masih kekeuh dengan trauma nya tentang rumah tangga yang broken home kayaknya." ucap Tomy dengan mengeluarkan koper-koper yang ada di dalam mobil.


"Jadi maksud lo? Dia nikah terpaksa? Jangan-jangan semalem..." Bayu tak melanjutkan ucapan nya karena Tomy mengendikkan bahunya.


"Bisa jadi, ya semoga dengan mereka setiap hari kontak fisik, bisa mendekatkan hubungan keduanya." ucap Tomy, sedangkan Bayu hanya mengangguk paham.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Cakra menurunkan Helen di atas permukaan ranjang yang empuk, tapi saat Cakra akan meninggalkannya Helen menarik lengan Cakra.


"Jangan tinggalkan aku!" lirihnya, Cakra menoleh, "Ternyata hanya mengigau." gumam Cakra dengan mengelus pucuk kepala Helen.


Namun detik berikutnya gadis itu membuka mata dan menepis kasar tangan Cakra, PLAK!!


"Tuan jangan melewati batasan anda ya!" sontak Helen mendorong tubuh Cakra dan segera mundur menjauh dari Cakra.


"Apa? Batasan?" tanya Cakra yang tak mengerti apa-apa.


"Iya, barusan anda mau memanfaatkan ketidak sadaran saya kan?" berucap Helen sambil menyilang kan kedua tangannya demi menutupi gundukan yang pasti akan menggoda mata kaum lelaki itu.


"Hah? Lo gila, orang jelas-jelas tadi lo yang narik tangan gue!" ngotot Cakra mendebat ucapan Helen.


Memicingkan mata bulatnya Helen menatap sang suami yang tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.


"Kalau begitu siapa yang membawa saya sampai kesini? Tidak mungkinkan kalau saya tidur sambil berjalan?" masih dengan pandangan penuh intimidasi Helen menatap suaminya.

__ADS_1


"Iya gue yang bawa lo kesini, tapi bukan berarti..."


"Nahkan bener! Tuan pasti mau cari kesempatan kan? Ngaku!" sela Helen dengan berdiri di atas ranjang, ia menunjuk Cakra menggunakan jari telunjuknya.


"Singkirkan jari telunjuk mu ini dari ku!" Cakra menggenggam jari lentik berkulit halus itu dan menurunkannya.


"Dengar baik-baik, Nona Helen Valensia, gue Cakra Frankins nggak minat sama tubuh lo! Jadi hubungan kita ini hanya sebatas ikrar ijab qobul saja! Jadi jangan berharap gue bakal nyentuh lo!" cecar Cakra panjang lebar.


"Heh Tuan munafik! Siapa juga yang akan berharap dengan sentuhan mu?! Saya sudah cukup dengan satu malam yang sudah lewat itu, tidak akan lagi saya menjadi gadis bodoh yang melayani laki-laki munafik seperti mu!" balas Helen tak kalah ngotot.


"Lo!" ngotot Cakra menggertak Helen.


"APA?!" tak kalah tinggi nada yang Helen gunakan.


Kemudian keduanya sama-sama bersedekap dan memalingkan wajah masing-masing dengan posisi Cakra yang berdiri di samping ranjang sedangkan Helen masih stay di atas ranjangnya.


TOK... TOK... TOK...


Pintu kamar itu diketuk, ternyata Tomy dan Bayu sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu yang tak tertutup itu.


"Eh mas Tomy." ucap Helen dengan melompat turun dari ranjang dan mendekati Tomy dan Bayu.


"Untuk barang-barang saya, tolong di masukkan ke sini ya!" halus dan sopan gadis itu berucap, kemudian Helen melirik sekilas ke arah Cakra.


"Dan untuk barang-barang dia..." terdiam sejenak Helen berpikir, terlihat ia menimang-nimang pertimbangan.


"Bawa ke kamar lain saja." sambungnya dan itu membuat Cakra membelalak.


"Nggak bisa gitu dong!" Cakra spontan berteriak.


"Bisa dong! Saya nyonya rumah juga berhak atas tempat ini, dan anda sebagai suami saya harusnya bisa menghargai privasi saya sebagai seorang istri." tegas Helen.


Cakra terdiam, dan itu membuat Helen kembali memicingkan matanya, "Ooo saya tau, jangan-jangan anda merencanakan sesuatu malam nanti?"


Semakin membelalak mata Cakra mendengar penuturan istri dadakannya itu, "Kenapa diam? Benarkan anda pasti ingin mencuri kesempatan, dasar Tuan munafik, tampang Casanova mu itu tidak akan bisa membodohiku!" cecar Helen dengan berjalan mendekati Tomy dan menarik kopernya.


"Sudah gue bilang! Gue bukan Casanova!" tegas Cakra yang tidak terima, toh memang benar dirinya sama sekali belum pernah menjamah tubuh wanita selain tubuh Helen, dan pada dasarnya julukan Casanova adalah untuk mereka yang suka menjelajah dan bergonta-ganti wanita.


"Heh masa?" menoleh Helen berucap, sungguh berbeda gadis yang ada di hadapan Cakra ini, seolah Helen mulai menunjukkan sisi aslinya yang mulai berani.


"Jangan melewati batasan mu Helen Valensia!" gertak Cakra yang mulai tersulut emosinya.


"Batasan yang mana Tuan? Bukankah sejak awal anda sendiri yang membatasi diri anda? Saya hanya menunjukkan pada anda kalau saya bukan boneka Barbie yang siap anda mainkan dengan dalih saya adalah istri anda! Saya akan berlaku sebagaimana anda memperlakukan saya!" gertak Helen, kemudian gadis itu dengan santai menata perlengkapan nya di dalam kamar itu.

__ADS_1


Mau tak mau Cakra keluar dari kamar itu, di ikuti Tomy dan Bayu, pria genius itu berjalan menuju ruang kerjanya, "Gila, bos cantik ternyata keren, bisa bikin Cakra si genius sampe speechless." cibir Tomy dengan cekikikan.


"Bisa diem nggak lo!" kali ini Cakra mencengkeram kerah baju Tomy.


__ADS_2