
"Mau sampai kapan?" mengerutkan alis Helen bertanya, sedangkan Cakra terlihat menghela nafas panjang.
"Tukan! Kamu nggak siap punya bayi! Jadi aku hanya kau jadikan sebagai pemuas saja?!" geram Helen bersedekap, wanita itu enggan untuk menatap suaminya.
Cakra memegang kedua pundak Helen, "Bukan begitu sayang, look at me! Apa kau melihat di dalam mata ku ada niat untuk ku yang hanya mempermainkan dirimu?!" Serius Cakra menatap netra indah Helen.
"Tidak, kan? Aku serius Baby, percaya sama aku, hanya kamu, dan juga baru pertama kamu, yang mampu menempati rating tertinggi di sini!" imbuh Cakra dengan meraih lengan Helen, kemudian ia letakkan telapak tangan Helen di dadanya.
Netra bulat dengan bulu mata lentik itu terlihat mengedip beberapa kali kemudian menatap wajah tampan suaminya, lalu detik berikutnya ia menatap tangan yang memegang dada kekar berotot itu.
"Kenapa kau bilang, aku hanya menggunakan mu sebagai pemuas nafsu ku? Bukan kah semalam kau juga menikmatinya? Bahkan teriakan mu lebih keras dari pada suara ku." ucap Cakra dengan suara setengah berbisik, ia tak mau pembicaraan intim itu di dengar oleh orang lain.
Memerah pipi Helen bak kepiting rebus, "Enteng sekali dia bicara begitu, yah memang yang berasa encok di sini pinggang ku, tapi ya sudahlah, bisa dirancang rencana lain, di lain waktu." batin Helen dengan memandangi suaminya yang memang memancarkan ketulusan dari dalam mata sipitnya itu.
"Ya sudah makan lah dulu, ini sudah hampir siang, bukan kah pagi ini kau ada meeting?" tanya Helen.
Cakra tersenyum dengan mengacak pelan pucuk kepala wanita yang berstatus istrinya itu.
Kemudian dengan kelembutannya ia kecup kening Helen sebelum ia menyantap hidangan yang dibuat oleh tangan istrinya sendiri.
"Lihat lah bahkan kau lebih paham jadwal ku ketimbang sekretaris ku Sarah." puji Cakra dengan duduk di samping Helen.
"Itu harus dong, bagaimana jika kau lebih menyayangi Sarah karena dia lebih memahami mu?!" mulai membahas pembicaraan lain, namun nada Helen terdengar ketus.
Cakra kembali menatap istri cantiknya itu, "Ini masih pagi sayang, jangan mulai dengan pembicaraan yang akan merusak mood mu, ok?!" ucap Cakra mengingatkan.
"Tapikan memang benar, bahkan dia seharian penuh bersama mu..."
"Hanya bersama, sayang. Bukan tidur bersama! Toh jika malam aku bersama mu!" sela Cakra.
"Witing tresno jalaran soko kulino *Asalnya cinta berawal dari biasa bersama* begitu kata orang Jawa." cetus Helen lagi.
"Itu kata orang Jawa, tapi kata ku, cinta ku hanya pada mu sayang, dan jangan tanya kan alasannya, karena embun tidak punya alasan untuk mencintai daun..."
"Tapi kamu bukan embun yang tidak bisa berkata." sela Helen yang memulai lagi dengan perdebatan receh yang akan menyulut pertengkaran.
"Ok Baby, alasan ku, ya karena aku cinta!Sudah! Makan! Atau mau aku memakan mu pagi ini?" Terkatup mulut Helen mendengar pertanyaan suaminya.
Mengingat keganasan Cakra semalam, yang sampai membuat pinggangnya encok saja ia masih merasa nyeri, bagaimana jadinya jika pagi ini ia digempur lagi?
__ADS_1
Ya... memang keinginan punya keturunan besar, tapi... Kasih waktu Istirahat untuk pinggang yang encok lah sebentar.
Kini keduanya melahap sarapan pagi itu hanya berdua, karena Tomy dan Bayu tidak pulang malam tadi, entah tidur dimana kedua bujang itu, tak usah difikirkan, mereka berdua kan anak muda yang banyak cuan.
...πππππ...
Sore hari, Helen tengah bersantai di teras depan, wanita itu tengah fokus dengan gawai canggih nya.
Ya... Dimana lagi kalau bukan di link situs dewasa yang kemarin baru saja di kirim oleh Charoline.
Terlihat serius wanita itu, sampai-sampai kedatangan Agata dan Charoline tidak disadarinya.
"Hemmm... mulai deh ngelamun! Awas ntar kesambet baru tau rasa." cetus Charoline dengan menoel pundak Helen.
Dilihatnya situs dewasa yang terpampang di layar ponsel itu, kembali Charoline mencetuskan banyolannya, "Awas ntar beneran ada hantu mesyum yang merasuki mu, malah bisa jadi kamu main sama bantal guling yang kau kira suamimu."
"Astaga! Cha! hati-hati loh kalau ngomong, ya kali Nona Helen main sama guling." timpal Agata yang di sambung dengan gelak tawa ketiganya.
"Hahahahaha..."
"Oh iya gimana semalam? Sudah star belum?" tanya Charoline dengan menaik turunkan alisnya.
"Ish, kata nya mau segera, punya baby kecil." cetus Charoline dengan mencubit gemas namun tidak meninggalkan rasa sakit pada lengan Helen.
"Oh..." Raut masam Helen tampilkan sore itu, Charoline dan Agata pun hanya saling memandang, kemudian kembali Charoline memegang pundak Helen.
"Gagal? Dia tidak mau melakukannya?" tanya Charoline yang sungguh mengkhawatirkan pasangan muda itu.
Menggeleng Helen menyahutinya, "Bukan begitu."
"Berati berhasil dong?" berbinar mata Charoline mendapati sahutan Helen yang tidak membenarkan dugaannya.
"Memang berhasil, tapi benihnya tidak berhasil masuk." lesu Helen berucap.
"Maksud kamu gimana Say? Aku nggak paham ini." tanya Charoline.
"Ya berhasil, suami ku tergoda, sampai encok malah ini pinggang." sahut Helen menggerutu.
"Tarus?" Bersamaan Charoline dan Agata meminta kelanjutan.
__ADS_1
"Terus entah dia dapat dari mana, bungkusan kecil mirip sekali dengan balon, dipasangin, tu alat di rudalnya... Yah... begitulah, jadi gagal mencetak baby kecil." lesu nada yang Helen gunakan.
"Sudah-sudah jangan sedih, kaya yang semalam malam terakhir aja, ntar malem dicoba lagi, ok! Dan pastikan di dalam kamarmu tidak ada lagi benda mirip balon itu." saran Charoline, sebelum ketiganya melakukan senam sore itu.
...πππππ...
Cepat sekali hari ini berlalu, hingga sang mentari yang menyinari belahan bumi ini sudah bergulir ke belahan lain.
Bahkan dinginnya sinar sang rembulan dengan ribuan pancaran cahaya kerlap-kerlip bintang sudah menghiasi kegelapan malam.
Di dalam kamar, wanita itu tengah duduk dengan menatap jauh keatas langit, di sana netra indahnya di manjakan oleh tebaran ribuan bintang.
Walau netra itu menatap ke indahan langit malam, tidak mampu keindahan itu mengubah hati yang kemelut bak berselimut kabut.
Ya... otak istri CEO Frans Group itu masih berpikir, darimana suaminya mendapatkan benda yang menyerupai balon itu?
Bahkan semalam adalah kejutan yang Cakra pun tidak ada persiapan, bukan kah yang bersiap-siap Helen, tapi kenapa seolah Cakra sudah siap dengan benda konyol yang menghalangi benih nya tertanam di tempatnya.
"Dari mana datangnya benda penghalang itu?" gumam Helen masih dengan berpikir keras.
Dengan otak yang terus mencari jawaban atas pertanyaan yang dibuatnya sendiri itu, Helen menatap kedalam kamarnya, ke atas ranjang dengan ukuran king size itu.
Di sana, di sudut ranjang Helen tak sengaja melihat kilatan plastik seperti alumunium yang berkilau terkena sinar lampu.
"Apa itu?" gumam wanita itu dengan beranjak dari duduknya.
Didekati nya benda yang membuatnya penasaran, "Mirip bungkus permen." gumamnya dengan memungut sobekan bungkus alumunium itu.
"Apa dia makan permen di kamar?" bertanya-tanya Helen dengan hati yang mulai gemas dan memanas.
"Enak saja, aku yang bersih-bersih, dia malah sembarangan buang sampah permen di sini, kalau banyak semut gimana coba? Awas saja kalau sampai dia menyimpan permen di kamar!" gerutu Helen dengan menyibak seprei bagian sudut, dan...
"ASTAGA!!" Menganga Helen mendapati banyak kotak-kotak kecil berwarna-warni.
"Jadi ini persembunyian permen?" gumam Helen dengan membuka satu kotak kecil berwarna merah itu.
"Apa sih? FIESTA? Ada ya permen begini?" Jemari lentik itu sibuk membuka satu bungkus kotak kecil itu.
"Nah bener kan bungkusnya sama, kek yang barusan." Di sobeknya sachet berwarna silver itu dan...
__ADS_1
"Kok lembek-lembek berminyak gini sih? Permen model apaan coba?" gumam Helen dengan menarik benda tipis yang menyerupai balon panjang...