
Terhenyak Cakra membaca pesan singkat dari ibu biologis nya, sungguh rasa lemas ia rasakan namun gejolak emosi mendatangi hatinya.
"Kan... udah gue bilang, mereka masih terlalu muda untuk menikah!" lirihnya dengan emosi yang tertahan.
Wajah CEO utama Frans Group itu memerah, Helen yang melihatnya pun berhasil mengesampingkan egonya, bagaimana pun yang ada di dalam otak suaminya bukan hanya dirinya seorang.
Ya... Cakra menjadi Anak, Menantu, Kakak dan tentunya suami, masih lagi ia menjadi atasan yang juga harus mensejahterakan para karyawan yang mau bekerja sama demi kesuksesan perusahaannya.
Betapa banyak yang harus ia pikirkan, jemari lembut itu mengusap rahang tegas yang berhias jambang tipis itu.
Cakra tersadar dari pikiran kalutnya yang mendadak menghampiri, di tatapnya netra bulat yang saat ini tengah menatapnya.
"Maaf, keinginanmu saja belum sempat aku memenuhinya, dan ini..." Tak sanggup Cakra melanjutkan ucapannya, sungguh terlalu berat beban itu dihatinya.
Helen menggeleng pelan, "Tak apa, tenanglah dulu." sahut Helen dengan menarik kepala suaminya kedalam dekapannya.
"Besok, kita terbang ke N.Y, ya?!" hibur Helen dengan menepuk-tepuk pelan punggung yang telah menjadi tulang punggung keluarga kecilnya itu.
Hanya anggukkan kecil yang Helen dapatkan, Cakra tak menjawab dengan suaranya, mungkin laki-laki itu berusaha mencari ketenangan didalam pelukan hangat yang istrinya berikan.
Malam kian larut, keduanya hanyut di dalam mimpi yang entah akan indah atau apa? Yang jelas mereka berdua lah yang tau.
...πππππ...
Seperti yang di katakan orang pada umumnya, jika malam terasa begitu cepat dan kini fajar mulai menyingsing, bahkan ayam jantan milik tetangga sudah berkokok menyuarakan suara khas demi menyambut hari barunya.
"Emmmhhhh..." menggeliat Helen, wanita itu masih di dalam pelukan suaminya, yah... masih polos tentunya.
Dan itu membuat sesuatu terbangun di sana, "Hem... Jangan bergerak!" gumam Cakra masih dengan mata yang tertutup, bahkan suara seraknya terdengar seksi, khas orang bangun tidur.
Terdiam Helen, ia menatap wajah suaminya yang masih memejamkan matanya, "Mengigau kah?" gumamnya.
Tak mau menghiraukan ucapan Cakra, Helen perlahan memutar tubuhnya membelakangi sang suami.
Niat hati ingin diam-diam turun dari ranjang, tapi lengan kekar Cakra dengan cepat menarik pinggangnya dan terasa sesuatu yang mengeras dibawah sana terhimpit oleh pantat Helen.
"Ough... Kan bangun! Di suruh diem nggak bisa sih!" bisik Cakra lagi, kini saat Helen menoleh kearah suaminya, laki-laki tampan itu sudah membuka sipit matanya.
Dan dengan cepat Cakra mengecup pipi istrinya, Helen yang tidak mau terlibat ciuman segera memalingkan wajahnya, dan kini Cakra mengecup tengkuk Helen, bahkan kecupan-kecupan nakal itu mulai memenuhi punggung atasnya.
"Tuan, ini masih pagi, bahkan masih terlihat gelap!" gumam Helen berusaha menyadarkan suaminya.
Cakra menghentikan aktivitas panasnya dan menyangkutkan dagunya pada pundak polos istrinya, "Justru masih pagi, karena di rumah mama, kita tidak sebebas ini."
Mencuat Helen mendengar alasan konyol itu, bagaimana laki-laki di belakangnya ini masih memikirkan seputar S e X sedangkan adiknya sedang sakit di sana.
"Alinda..."
"Ssssssstttt... menolak suami itu dosa loh." sela Cakra saat Helen hendak mengingatkannya.
__ADS_1
Pasrah sudah wanita bergelar istri itu, bagaimana pun dinginnya pagi itu akan sangat cocok dengan kegiatan panas yang menyisakan kenikmatan yang hakiki.
Setelah cukup puas dengan bercumbu, kini Cakra mulai memasukkan rudal keramatnya melalui jalur belakang.
Masih stay dengan memeluk tubuh sintal itu, Cakra mengarahkan benda keramat itu agar masuk kedalam tempat yang tepat, dan "Ahh..."
Lenguh panjang itu terdengar bersamaan dengan menggeliatnya tubuh Helen, menandakan yang dibawah sana sukses masuk tanpa halangan.
Mulai dengan gerakan pelan hingga ke gerakan yang cepat bahkan dengan posisi yang satu ini tak perlu Cakra menunggu waktu lama untuk mengeluarkan benih yang tersimpan.
...πππππ...
Di rumah sakit New York City...
Kista terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi.
"Kenapa tidak menunggu Cakra datang?" tanya Kista kepada Frans, atau mantan suaminya. Sedangkan Krisna, ia duduk terdiam tak mau menyahuti ucapan mertuanya.
"Aku sendiri pun takut terjadi sesuatu dengan putri kita! Toh darah ku cukup untuk di ambil!" sahut Frans yang tak kalah frustasinya siang itu.
"Sungguh aku tidak akan ikhlas darah pengkhianat seperti mu bercampur dengan darah putriku!" ketus Kista.
Perdebatan itu sedikit memanas sampai akhirnya Cakra dan Helen tiba di sana.
"Kalian ini sudah sama-sama tua! Buat apa berdebat!" kini suara Cakra menghentikan perdebatan sengit antara Kista dan Frans.
Segera Krisna bangkit dari duduknya, "Dok, bagaimana kondisi istri saya?" keantusiasan terlihat jelas diraut wajah Krisna tak kala menunggu penjelasan dari dokter.
"Butuh lebih banyak lagi pasokan darah." ujar Dokter berjubah hijau itu.
"Bisa langsung chek darah saya dok?" Cakra segera mengusulkan, bagaimana pun itu adalah adik kandungnya.
"Baik mari ikut saya." ucap sang dokter, sedangkan Cakra, Helen dan Krisna mengikuti langkah kaki dokter itu.
...πππππ...
Selesai pengecekan...
Terlihat raut wajah Krisna dan Helen yang menunjukkan kelegaan, berbeda dengan raut wajah Cakra yang berubah pucat pasi.
"Hah... syukurlah, akhirnya ada pendonor dari kalangan keluarga sendiri." gumam Helen dengan melirik ke arah Cakra yang terdiam, karena terpasang jarum yang tengah mengeluarkan darahnya dan memasukkannya kedalam sebuah kantung khusus untuk darah, melalui selang kecil.
"Are you ok Baby?" tanya Helen yang melihat wajah suaminya berubah pucat.
Cakra tak menyahuti dengan suara, CEO Frans Group itu hanya mengangguk pelan.
Cukup lama proses pengambilan darah, mulai dari pengecekkan sampai terisinya kantung darah hingga penuh.
Kini setelah selesai, Cakra bangun dari brankar layaknya orang lain yang baru saja melakukan donor darah, namun baru tiga langkah ia berjalan tiba-tiba penglihatan laki-laki itu seperti di penuhi kunang-kunang dan mendadak semua menggelap dan DHUBRAK!!!
__ADS_1
Pingsan Cakra di samping Helen, wanita berstatus istri itu terkejut hingga berteriak!
"ASTAGA! Cakra!" Dengan sigap perawat yang ada di sana segera membantu Helen dan Krisna untuk mengangkat tubuh Cakra dan kembali di tidurkan di atas brankar pasien, segera selang infus di pasangkan di punggung tangan kiri Cakra.
"Kira-kira kenapa suami saya Dok?" tanya Helen setelah dokter selesai menangani suaminya.
"Mungkin efek dari kecapekan, atau pak Cakra baru saja melakukan perjalanan jauh." jelas dokter.
Tapi Helen berpikir tidak mungkin, Toh sudah biasa suaminya dengan perjalan jauh. Kini Helen duduk di samping brankar, tepat dimana suaminya berada, sedangkan Krisna menuju ruangan dimana Alinda di rawat.
"Terlalu capek?" batin Helen dengan otak yang travelling menuju ke kegiatan panas pagi tadi.
"Astaga! Tidak mungkin!" gumamnya dengan menggelengkan kepala.
Setelah cukup lama Cakra tidak sadarkan diri, kini sudah lebih dari satu jam, akhirnya Cakra membuka sipit mata tajamnya.
Dilihatnya Helen dengan menundukkan kepalanya di samping tempat nya berbaring, tertidur pulas wanita itu dengan berbantal kedua tangan yang dilihatnya.
"Baby?" bisik Cakra dengan mengelus pucuk kepala Helen.
Merasa terpanggil Helen membuka matanya dan melihat kearah suaminya yang sudah mulai sadar.
"Sayang? Baby kau baik-baik saja?" tanya Helen yang saat itu diliputi rasa khawatir.
"Ya... aku hanya sedikit takut saja tadi." jujur Cakra.
"Takut?" Helen mengerutkan keningnya.
"Iya, sebenarnya, aku takut jarum, sedari tadi aku menahannya, tapi ternyata aku tidak kuat, maaf sudah menunjukkan sisi lemah ku di hadapan mu." Ucap Cakra jujur.
Ingin sekali Helen mentertawakan suaminya itu, tapi melihat kondisi dan perjuangannya demi sang adik, Helen mengelus rahang berjambang tipis itu dengan lembut.
"Tak apa, semua orang pasti punya sisi lemah masing-masing, masih untung saja kamu tidak lari saat dokter menunjukkan jarum besar itu tadi." Berusaha menghibur Cakra, Helen berucap layak nya ibu-ibu yang menasihati anak SD yang akan di vaksin.
"Hahaha... Ya kali aku lari-lari sambil nangis, terus bilang NGGAK MAU DI SUNTIIIIIIKKK!!!" Berhasil tawa ringan pecah diantara sepasang kekasih itu.
Keesokan pagi nya...
Harusnya Cakra baik-baik saja, tapi seolah kondisi tidak mendukung, tubuh CEO itu malah demam, dan sesekali laki-laki itu muntah-muntah.
Kini Cakra dirawat di ruang pasien dengan fasilitas suite room. Bahkan sudah hampir tiga hari ini Cakra berbaring lemah di atas ranjang pasien.
Alinda, sang adik yang butuh pasokan darah malah sudah di perbolehkan untuk pulang, tapi tidak dengan Cakra, selama perutnya masih belum ditemukan penyebab mual-mualnya, laki-laki itu belum mendapat ijin untuk keluar dari rumah sakit.
"Lo kenapa Cak? Kek yang hamil lo aja! Orang yang hamil haruskan kak Helen, kok malah lo yang mual sih!" Ledek Alinda yang hari ini sudah akan pulang ke rumah.
Ya... Adik kandung Cakra itu menyempatkan diri untuk menengok kakaknya yang telah memberikan donor baginya.
"Bacot lo! Lo nggak ngerasain sih gimana rasanya gue sekarang." kata sarkas namun terdengar seperti banyolan belaka itu membuat semuanya tertawa...
__ADS_1