
Terkejut Cakra mendengar penuturan istrinya itu, ia pun memandang Helen, hingga kedua netra itu bertemu kembali.
Dan kembali Cakra memangkas jarak diantara dua benda kenyal itu hingga keduanya menyatu.
Terjadilah kegiatan pagut-memagut antara Cakra dan Helen pagi itu, semakin kesini semakin menuntut saja ciuman itu hingga tak terasa keduanya kini saling memainkan aset inti mereka.
Kembali terbakar gairah yang semakin memanas, Cakra melepas kancing celana juga resleting nya, kemudian ia duduk di atas toilet duduk, lalu perlahan ia menuntun Helen untuk duduk di atas pangkuannya dengan menghadap kearahnya.
SLEP!!!
Sedikit tersentak kaget Helen karena dengan mudah namun masih terasa sesak pusaka keramat itu masuk begitu saja kedalam lembah yang mulai basah.
Kedua tangan Cakra memandu pinggang istrinya agar sedikit bergoyang, sedangkan bibirnya kembali fokus dengan bibir ranum yang mulai meracau gila, karena rasa yang tiada tara.
Tak mau membiarkan kedua gundukan kembar itu menganggur, tangan Cakra merambat keatas kemudian dengan pelan dan lembut ia mengusap benda kembar yang menggemaskan itu.
Sesekali dipelintirnya ujung benda menggemaskkan itu hingga menimbulkan sensasi yang berbeda bagi Helen, adegan panas itu berlangsung, bahkan keduanya kini berganti-ganti gaya, penasaran dengan fantasi liar yang ada di dalam otak mereka.
...πππππ...
Ditempat lain...
Di sebuah hunian mewah terlihat seorang gadis muda tengah berdebat dengan laki-laki tua yang tak lain adalah ayahnya.
"Daddy! Pokoknya pesta besok Stela mau berangkat bareng Tuan Cakra!" ngotot Stela masih kekeuh dengan obsesinya.
"Apa kau tidak malu dengan istrinya?" tanya Steven yang masih stay di kursi besarnya dengan membaca koran pagi ini.
"Stela tidak percaya kalau Tuan Cakra itu sudah menikah! Lagi pula dia itu tipe pria dingin yang tidak sembarangan mau menyentuh wanita." jelas Stela dengan bersedekap.
"Kau tau kalau dia tidak sembarangan menyentuh wanita, maka kau juga jangan berharap jika dia akan mau ke pesta nona Celine bersama mu." sahut Steven dengan menyeruput kopi hitamnya.
"Iiiiiiihhh Daddy!" Menghentakkan kaki gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri, dan berlari menuju garasi.
Hanya tersenyum Steven dengan melirik punggung anak gadisnya yang masih labil itu.
__ADS_1
"Keluarga kita tidak pantas dengan keluarga konglomerat kelas kakap itu, lagi pula Daddy sudah menyiapkan jodoh untukmu nanti." teriak Steven dengan menutup korannya dan meletakkan nya dimeja santai yang ada disampingnya.
"TIDAK MAU!! STELA MAU NYA TUAN CAKRA!" sahut Stela dengan berteriak dari teras depan.
"Terserah saja, Daddy mau berangkat ke kantor dulu, kamu kuliahlah dulu baik-baik, nanti kalau ada kesempatan, Daddy akan bantu kamu untuk bekerja di kantor milik tuan Cakra." jelas Steven yang membuat Stela mengembangkan senyum manisnya.
"Owkay Daddy!" sahutnya sambil berlari kembali mendekati sang ayah dan kemudian "MUACH!" gadis belia itu mengecup pipi ayahnya yang hendak berangkat ke kantor.
...πππππ...
Dikediaman Cakra...
"Tuan?" lirih Helen dengan mengoleskan krim Coklat di atas roti tawar yang akan ia sajikan untuk sang suami.
"Hem?" sahut Cakra terlampau dingin, ya pria itu tengah fokus dengan gawai tipisnya yang sedari tadi menyita perhatiannya.
Mengerutkan alis Helen meletakkan roti itu di atas piring Cakra, tanpa memandang Cakra segera meraih dan melahapnya, "Loh kok nggak ada selainya?" tanya Cakra dengan melihat roti yang baru separuh saja yang terkena olesan selai.
"Oles saja sendiri!" ketus Helen dengan memalingkan pandangannya.
Menghela nafas Cakra, kemudian ia berpindah duduk di samping istrinya yang kelihatannya tengah merajuk itu.
"Nggak papa!" masih ketus Helen menyahutinya.
Cakra meraih dagu istrinya dan membawanya agar wajah ayu itu menoleh kearahnya.
"Kok cemberut?" tanya Cakra masih dengan jemari yang stay di dagu Helen.
"Baby marah?" tanya Cakra lagi.
"Siapa yang nggak marah coba? Saat kita bener-bener mau bertanya malah disahutinya cuek!" Helen menepis pelan tangan Cakra dari dagu nya.
" Maaf sayang, ini tadi ada chat masuk dan... "
"Siapa yang kirim Chat?" tatapan tajam seolah ingin sekali menerkam itu tersorot dari raut wajah Helen.
__ADS_1
Cakra yang menyadari perubahan raut wajah itu pun segera membuka kembali gawai tipis yang sedari tadi menyita perhatiannya itu.
"Ini lo, Tomy, dia bahas pekerjaan." sahut nya dengan memperlihatkan layar ponsel yang menunjukkan chatingan nya dengan Tomy.
"Coba lihat!" masih tak percaya Helen meraih ponsel itu dan menekannya di tombol kembali dan...
"Siapa Stela?" tanya Helen dengan terdiam dan menatap intens layar benda canggih di tangannya itu.
"Hah? Bukan siapa-siapa." sahut Cakra dengan merangkul pundak sang istri.
"Aku tanya sekali lagi, siapa Stela?" tegas Helen bertanya, kini bahkan nafasnya naik turun tak karuan.
"Aku memberikan milikku yang paling berharga karena satu pegangan ku, kalau kau sedikit pun belum pernah menyentuh wanita lain." lirih Helen dengan menatap Cakra.
"Ya... Memang benar, hanya kamu sayang jujur aku... "
"Lalu ini apa? Bahkan kalian kencan akan datang ke pesta malam nanti!" Jujur saja terasa sesak hati Helen saat ini, di samping itu Cakra pun bingung bagaimana mau menjelaskan.
"Sayang... " lirih Cakra dengan menangkup kedua pipi istrinya itu.
Helen menatapnya dengan netra yang sudah berkaca-kaca, mungkin pandangannya sudah mulai buram tertutup cairan bening yang siap berselancar di pipi.
"Percaya sama aku ya! Aku hanyatertarikk pada mu, dan tidak akan ada kata ketiga setelah aku dan kamu menjadi kita, ok!" terdiam sejenak Cakra menatap dalam manik indah yang berhiaskan bulu mata lentik itu.
"Setelah pertemuan kita, sedikit pun otak ku tidak pernah menampung wanita lain, kau tau sendiri bagaimana aku." ucap Cakra dengan nada yang sangat lembut.
Terdiam Helen, jujur rasa cemburu ini sungguh menyesakkan hati, bagaimana pun semalam keduanya baru saja saling membuka diri, dan apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah ada berita Chatingan dengan gadis lain. Bahkan Helen melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa kau lihat ada balasan chat dari ku?" kini Cakra bertanya lagi ketika ia masih menemukan setitik keraguan di mata Helen.
Gadis itu hanya menggeleng pelan, kemudian Cakra menarik tubuh Helen kedalam pelukannya, mencari ketenangan didalam peluk hangat itu.
"Tidak ada lagi yang aku tutup-tutupi dari mu, bahkan kau sudah tau rasa takut ku akan keluarga yang broken home, aku tidak mau keluarga kita seperti itu, aku mau, terus seperti ini, bersama mu, didekat mu." ucapan Cakra mampu menenangkan hati Helen yang tadinya terbakar cemburu, itu dapat Cakra lihat dari tangan dengan jemari lentik itu mulai membalas pelukannya.
"Lalu bagaimana dengan pestanya?" tanya Helen yang tiba-tiba meregangkan pelukannya.
__ADS_1
"Kita akan datang bersama." Sahut Cakra dengan menyelipkan anak rambut Helen kebelakang telinga gadis itu.
"Tapi aku tidak bisa." sahut Helen dan itu membuat Cakra mengerutkan alisnya...