
Cakra tak percaya, Helen menolak ajakannya, laki-laki itu reflek mengerutkan alisnya di hadapan gadis yang kini telah beralih profesi sebagai istri kesayangannya itu.
"Kau menolak ku?" tanya Cakra dengan masih menatap manik coklat tua yang pinggirannya di hiasi bulu mata lentik.
"Maaf, tapi kemarin aku sudah ada janji untuk memulai kelas Aerobik dengan ibu-ibu komplek." jelas Helen dengan membelai jambang halus suaminya.
"Jam berapa?" tanya Cakra.
"Sorean sih, jam empat terus belum lagi ntar aku siap-siapnya lama." ucap Helen.
"Nggak papa aku tunggu." sahut Cakra dengan mengelus surai hitam milik istrinya. Setelah itu keduanya sarapan bersama.
...πππππ...
Siang hari sebelum jam makan siang, Cakra yang baru saja menyelesaikan dokumen terakhirnya tiba-tiba mengingat permainan panasnya malam dan pagi tadi.
"Kok gue jadi kepikiran ya? Kalau Helen hamil gimana? Apa kita udah siap mengemban tanggung jawab sebagai orang tua?" gumam nya dengan menumpuk berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Apa gue tanya Tomy aja kali ya?" gumamnya lagi dengan melirik kearah gawai canggih yang ada di sisi kanan meja kerjanya.
Cukup lama Cakra menimbang waktu, haruskah ia bertanya kepada sahabatnya itu, atau sudah biarkan saja berjalan apa adanya?
Tapi jujur pikiran soal kehamilan sangat mengganggu otak genius laki-laki itu, bagaimana jika saat anak itu lahir malah muncul masalah diantara mereka berdua? Bagaimana jika masalah itu membuat mereka berpisah? Akankah anak-anak itu akan merasakan efek dari perpisahan keduanya?
Apakah anak mereka akan kekurangan kasih sayang dari salah satu keluarganya?
"Tunggu! Dari pada gue telfon Tomy, lebih baik gue tanya ke Satria aja, bukankah dia dokter kandungan?" gumamnya yang segera meraih gawai tipis itu.
Segera di scrollnya layar ponsel itu, hingga ia menemukan nomor yang ia harapkan, segera cakra menekan tombol untuk memanggil si dokter kandungan itu.
Tuuuuuuuttt...
Tuuuuuuuttt...
Tuuuuuuuttt...
Dengung suara sambungan telfon itu cukup lama berdengung, namun masih dengan kesabaran yang cukup Cakra masih mendengarkannya.
π"Halo?" terdengar suara dari balik telfon.
"Sat! Sibuk nggak lo? Gue mau konsultasi nih." sahut Cakra tanpa basa-basi.
π"Santai lah bro! Gue abis makan siang ini, mau konsultasi apa? jangan bilang lo nggak bisa berdiri dan mau tau ada obat yang bisa bikin si anu berdiri!" sebuah candaan terdengar dari suara Satria yang ada di seberang telfon.
__ADS_1
"BangS*t emang lo! Bukan lah! Lo pikir gue karatan! Lo pikir gue udah nggak jantan lagi!" cecar Cakra.
π"Hahaha... Ya syukur deh kalau emang masih bisa berdiri mah, berati sobat gue masih bisa mencetak goal dong." gelak tawa terdengar sangat renyah dari balik sambungan telfon.
"Sialan lo!" umpat Cakra yang terlihat masih menyusun kata-kata yang pas untuk ditanyakan kepada sahabatnya itu.
π"Hahaha... Sorry, sorry, sorry... em... jadi ada apa nih, CEO kita yang super sibuk ini menghubungi?" tanya Satria dengan nada suaranya yang masih terdengar penuh canda.
"Gue mau tanya, apa dengan sekali atau dua kali berhubungan akan membuat wanita langsung hamil?" tanya Cakra dengan rasa antusias yang sangat tinggi.
π"Hahaha... Jadi udah Un boxing nih ceritanya?" tawa kembali terdengar dari balik sambungan telfon.
"Bacot lo! Gue cuma nanya, tinggal jawab doang apa susahnya sih!" ketus Cakra.
π"Hahaha... Ok ok ok, jadi gini-gini, dengerin yak!" ucap Satria yang mungkin tengah mempersiapkan jawabannya.
Cakra terlihat tengah mempersiapkan indera pendengaran nya dengan seksama.
π"Jadi gini, lo berhubungan dengan wanita itu belum tentu atau malah bisa jadi wanita itu hamil."
"Maksud lo?" tanya Cakra yang terlihat bingung.
π"Ya gini aja, wanita lo itu lagi masa subur atau nggak? Terus kondisi tubuh lo dan benih yang lo tanam itu juga apa kabar? sehat kah atau nggak? Karena untuk benih yang sehat itu bisa bertahan di sana kurang lebih dua sampai tiga hari, nah bisa juga karena takdir." jelas Satria.
π"Yaaaa bisa dibilang gitu." sahut Satria santai.
"Kok gitu?" tanya Cakra semakin bingung.
π"Iya gitu, siapa juga yang bisa menentang kehendak dari-Nya? Kalau nggak mau punya anak ya udah jangan berhubungan, toh berhubungan itu kan pada dasarnya niat utama nya itu untuk mendapatkan keturunan." jelas Satria.
"Tapi kalau yang memakai alat kon... kon... kon... apa itu yang untuk mencegah kehamilan?" tanya Cakra yang memang belum paham di bidang itu.
π"Kon apa? Kon-dom?"
"Bukan!" teriak Cakra.
π"Kontrasepsi?"
"Nah itu!" Seolah Satria menebaknya dengan benar sampai Cakra menyahutinya dengan suara yang lantang.
π"Belum pasti juga." jawaban yang mengecewakan itu membuat Cakra kembali bertanya.
"Loh bukannya alat kontrasepsi itu dapat mencegah kehamilan..."
__ADS_1
"Memangnya siapa yang memakai alat kontrasepsi?" Helen masuk kedalam ruangan Cakra secara tiba-tiba hingga membuat Cakra tercengang, terdiam, tak dapat mengucap satu katapun.
Di samping itu Satria masih menjelaskan, dan kini Helen mendengar ucapan Satria dari gawai tipis yang Cakra letakkan di meja kerjanya.
Ingin rasanya Cakra menekan tombol merah namun tatapan Helen seolah akan mengoyak jantungnya jika sampai jarinya menekan layar ponsel itu.
π"... Jadi ya itu tadi belum tentu bisa 100%, kembali lagi pada kehendak-Nya, jika Tuhan memberikan kepercayaan pada mu untuk segera memiliki keturunan maka, ya itu, wanita mu bakal hamil entah kau berhubungan baru satu kali pun." jelas Satria.
"Terimakasih pak dokter atas jawabannya." ucap Helen dengan mendekatkan wajahnya pada gawai canggih yang ada di hadapan Cakra.
π"Oh ok, sama-sama Nyonya Cakra." sahut Satria dengan ramah.
Kemudian tanpa pamit atau basa-basi lain, jemari lentik Helen menekan tombol merah yang tertera pada layar ponsel itu.
"Tuan Cakra? Apa maksud dari semua ini? Alat kontrasepsi? Kehamilan? Berhubungan entah berapa kali? Pembahasan macam apa ini?" dengan tatapan tajamnya Helen bertanya.
"Bu... bukan apa-apa itu hanya, hanya aku ingin tau saja." alasan yang tidak logis itu pun membuat Helen memicingkan matanya.
"Kau tidak mau mempunyai keturunan?" cetus Helen.
Bagai di sambar petir disiang bolong, Cakra terhenyak dengan tebakan yang sungguh 100% benar itu.
Ingin rasanya ia menyoraki bahwa jawaban istrinya itu benar, namun ini bukan waktu yang tepat untuk menjadi suporter didalam acara tebak kata.
Cakra hanya terdiam, dan Helen menyimpulkan dengan kediaman suaminya itu berarti benar, dengan hanya diamnya Cakra saja sudah membuat hati Helen serasa teriris, bagaimana jika sampai suaminya itu menjawab dengan tiga huruf satu kata yang berarti *IYA*
Menggeleng pelan istri cantik yang kini masih berdiri di samping Cakra itu, "Aku tidak menyangka, ternyata semalam itu kau hanya bersenang-senang dengan tubuh ku, tidak lebih." ketus Helen dengan berbalik dan meninggalkan Cakra yang kala itu bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Sungguh kacau pikiran Cakra saat ini, dan sudah pasti istri yang baru saja di dapatkan hati dan juga tubuhnya itu akan menjauh dan kembali dingin terhadapnya nanti.
...πππππ...
Helen terus berjalan keluar dari gedung perkantoran milik suaminya itu, dengan mata yang buram karena tertutup oleh cairan bening yang ia tahan sebisa mungkin agar tidak berceceran di pipi mulus yang sudah ia cover dengan bedak tipis.
Ya... gadis berstatus istri itu berdandan natural kali ini, untuk menemui sang suami, namun siapa sangka ternyata ia mendapati kabar tak mengenakkan hati dan juga pikiran itu.
Ketika Helen berjalan mendekati sebuah taksi yang masih terparkir di sisi jalan, tiba-tiba lengannya diraih oleh seseorang.
"Helen Tunggu!...
Yuk cus like dan komentarnya, jangan lupa klik favorit juga, berikan Vote juga tidak apa-apa, semoga yang berbaik hati akan diberikan kemudahan dalam segala urusan dan dilancarkan rejekinya, juga di sehatkan jasmani maupun rohani nya...
Ok my readers see you next episode...
__ADS_1