Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 42 (Launching Baby Twins)


__ADS_3

Setibanya di dalam mobil, dengan perlahan Cakra membantu istri cantiknya itu untuk duduk dengan posisi yang nyaman.


"Lo yang bawa Bay!" perintah Cakra, sedangkan dirinya duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Helen.


Bayu tak menolak sedikit pun, hanya saja ketika mereka hendak meluncur, tiba-tiba sebuah mobil menghalangi jalannya.


"Awas woy Tom! Ini darurat!" teriak Bayu dengan menongolkan kepalanya keluar dari jendela mobil, ia berbicara dengan orang yang mengemudikan mobil didepan yang tak lain adalah mobil Tomy.


"Lo yang awas! Gue mau masuk, bentar lagi jam istirahat habis cok!" sahut Tomy dengan mengeluarkan kepalanya dari jendela mobilnya juga.


"Lo minggir dulu ini darurat ini, Bos cantik mau melahirkan!" teriak Bayu dengan suara lantangnya.


"Adudududuh... Auwh... sakit lagi Yank!" Lagi-lagi perut besar Helen mengeras dan itu membuat semakin panik seisi mobil.


"Tunggu-tunggu Bos, saya akan segera luncurkan mobil ini!" ucap Bayu dengan menekan klakson berkali-laki agar Tomy segera menyingkir.


"Buruan jalan Bay! Kalau perlu tabrak aja yang ngalangin!" Mulai tersulut emosi, Cakra berucap tanpa pikir panjang.


"Ya jangan di tabrak juga kali Pak! Toh kalau di tabrak yang ada kita juga ikut bahaya!" ucap Celine menengahi.


Bukannya menepikan mobilnya, Tomy malah turun dari mobil dan mendekati Bayu yang sudah bertampang tak enak di pandang.


"Apa lo bilang? Bos cantik mau melahirkan?" tanya Tomy dengan berdiri di samping pintu mobil Bayu.


"Iya, buruan mobil lo minggirin dulu!" cetus Bayu.


Segera Tomy memundurkan mobilnya dari jalan keluar basement, sedangkan Bayu mulai memajukan mobilnya menuju jalan raya.


Ditengah perjalanan, seperti biasa perut Helen kembali tenang dan terkadang kembali kontraksi.


Namun berbeda kali ini...


CTHUK!!


Bumil itu merasakan ada yang pecah dibawah sana, "Baby!" ucap Helen dengan mencengkeram lengan Cakra.


"Iya sayang sabar ya!" masih dengan perhatian dan kelembutan Cakra berucap.


"Bukan, tapi ini, basah!" ucap Helen, seketika tatapan mata Cakra mengarah kearah kaki Helen bahkan Celine yang mendengar perbincangan mereka pun ikut tercuri perhatiannya.


"Astaga Bay! Buruan lo bawa mobilnya, itu pasti ketuban Nyonya Helen sudah pecah!" ucap Celine dengan menggoncang lengan Bayu.


"Iya-iya sabar, ini gue juga udah maksimal, tiga nyawa nih yang gue bawa, tanggung jawab gue juga kalau kalian kenapa-kenapa." teriak Bayu yang sesekali mengusap dahinya karena tiba-tiba berkeringat.


"Apa terasa sakit Baby?" tanya Cakra dengan memegang perut istrinya yang bulat.

__ADS_1


Helen menggeleng, bahkan senyum manis tergambar di sana, "Tidak, ini tidak sesakit tadi." sahut Helen santai.


"Apa? Tidak sakit? Tidak mungkin!" cetus Celine dengan menghadap kebelakang.


"Apa maksud mu Cel?" tanya Cakra yang tidak sepemikiran dengan sekretarisnya itu.


"Kalau ketuban sudah pecah harunya rasa sakit itu terus sampai Baby-nya keluar!" jelas Celine.


"Hah iya kah? Terus ini gimana dong? Jujur ini sedikit pun nggak ada rasa sakit!" panik Helen berucap, tangan nya masih stay mencengkeram lengan suaminya.


"Santai dulu Nyonya, jangan panik." Celine berusaha menenangkan Helen.


Setibanya di rumah sakit, sedikitpun Helen tidak merasakan kontraksi apa-apa, dan itu malah membuat khawatir semua yang ada di sana.


"Bagaimana Dok?" tanya Cakra yang saat itu berada di dalam ruang bersalin mendampingi istri tercintanya.


"Ketuban sudah pecah Pak, dan bayi tidak memberikan tanda-tanda pergerakan, lebih baik di lakukan operasi caesar." saran dokter itu membuat Cakra menatap sang istri yang terbaring di atas brankar pasien.


"Lakukan Dok, asal bayi ini selamat." Ucap Helen.


"Kau yakin?" kini Cakra menatap serius istrinya, Helen mengangguk.


Setelah melakukan persiapan dan segala macam untuk melakukan tindakan operasi, tiba-tiba perut Helen kembali kontraksi.


"Bagaimana ini Dok? Apa dilanjutkan saja, atau dilahirkan normal saja?" tanya Cakra yang masih setia menemani Helen.


"Sebentar lebih baik saya periksa dulu, jalan lahirnya sudah buka berapa, ya?" Dokter itu baru saja akan memeriksa jalan lahir milik Helen, sudah siap untuk dilewati bayi ataukah belum.


Tapi terhenti karena tiba-tiba Cakra menghentikan nya...


"Tunggu! Dokter mau apa?" tanya Cakra.


"Ini akan saya periksa dulu Pak." Sahut Dokter.


"Baby, ja...ngan ganggu peker...jaannya, kau tidak merasakan sa...kit ini! Diamlah dulu, dia terus saja ingin segera keluar!" Helen masih dengan sekuat tenaga mencengkeram lengan Cakra, agar suami tampannya itu tidak mengganggu pekerjaan dokter.


"Sungguh ini luar biasa Pak, istri anda sepertinya bisa melahirkan normal, tapi tunggu ya, ini baru pembukaan ketiga." ucap Dokter.


"Harus menunggu sampai kapan? Ini uuuuhhh rasanya dia mau keluar!!" Helen terus saja berucap, bahkan tangan Cakra dipegangnya dengan erat.


"Sebentar lagi ya Bu, tarik nafas... Keluarkan pelan-pelan ya... Ayo bu, jangan mengejan ya!" Masih dengan suara halus khas Dokter kandungan, Dokter dengan name tag Emma dan segala embel-embel di belakangnya itu menginterupsi agar Helen tidak mengejan.


"Huft... Haaaaahhhh... Huft... Haaaahhhh..." beberapa kali Helen mengatur nafas.


"Dok ini kepalanya terasa terjepit!" Meracau Helen merasakan rasa sakit yang tiada bandingannya itu.

__ADS_1


"Mana sayang yang terjepit?" panik Cakra bertanya dengan mengelus kepala Helen.


"Bukan kepala ku!!" tepis Helen dengan masih sibuk mengatur nafasnya.


"Sabar bu, ini masih lumayan, sebentar saya ambil handuk bayinya dulu.


Belum sampai tangan Dokter Emma meraih handuk bayi, " Dok aku tidak bisa menahannya lagi! Eeennnnnngggg!!!"


TRETEG!!


Terdengar sesuatu robek dibawah sana bersamaan dengan meluncurnya bayi merah berjenis kelamin laki-laki.


Dengan sigap Dokter Emma menangkap bayi kecil yang meluncur tanpa aba-aba itu.


"huuuuhh... huuuuuhhh... huuuuhhh..." Helen mengatur nafas lega setelah merasakan bayi mungil itu sudah keluar dari dalam perutnya.


"Selamat Bu, bayinya tampan." ucap Dokter Emma.


"Tapi kok nggak nangis ya Dok? Juga pas USG kemarin, kata Dokter bayi saya kembar." Masih sempat protes Helen disaat kondisinya sudah mulai melemah.


"Iya Bu, ini yang pertama mungkin sebentar lagi kembarannya meluncur." sahut Dokter Emma, dan benar saja baru beberapa detik yang lalu Dokter Emma berucap kini Helen kembali merasakan sakit yang sama seperti tadi, tapi untuk yang kedua ini ia tidak begitu kuat mengejan, hingga beberapa kali Dokter Emma mengingatkannya.


"Jangan merem Bu, ayo sedikit lagi, ini kepalanya sudah terlihat."


"Eeeennnngggg!!! Huuuuhh... huft... haaahh... Eeennngggg!!!" Masih terus berusaha Helen, sampai akhirnya tangis Bayi kecil yang lahir terakhir terdengar di telinga Helen.


"OOOEEEEEEKKK!!! OOOEEEEEEKKK!!"


"Utututu sepasang, pangeran dan putri cantik." Dokter segera membawa kedua bayi kembar itu untuk di berikan kepada perawat untuk di pakaikan baju.


Tangis bayi kedua di susul dengan suara tangis bayi yang pertama, membuat lengkungan senyum tipis dibibir Helen.


"Terimakasih sayang, kau hebat!" Cakra menghujani wajah Helen dengan kecupannya.


Hanya senyum tipis dengan kedipan mata sayu yang Cakra dapati, sampai netra indah yang berhiaskan bulu mata lentik itu perlahan terpejam.


"Sayang! Baby! Jangan memejamkan mata! Ayo lah Helen! Kau harus sadar!" Cakra menggoncang tubuh istrinya.


"DOKTER!!" teriak Cakra dengan masih menggoncang lengan istrinya yang sedikitpun tak memberikan respon.


"DOKTER!!" lagi-lagi Cakra memanggil dokter yang tak kunjung datang.


"Ada apa?" tanya Dokter Emma dengan sedikit berlari, "Helen tak sadarkan diri." lirih Cakra dengan memandang wajah istrinya yang sudah memejamkan mata, bahkan terlihat kulit putihnya sedikit pucat.


"Kita bawa ke ICU!!!...

__ADS_1


__ADS_2