Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 31 [Kok pakai Sarung?]


__ADS_3

Suara lembut itu keluar dari bibir seksi yang dilapisi lipstik merah yang menggoda.


Cakra tak menjawab pertanyaan istrinya, Helen membelai dada berotot milik suaminya itu, bahkan dengan tatapan mata yang sangat menggoda.


Ditariknya kerah baju Cakra, kemudian Helen mengecup ceruk leher suaminya, hingga warna merah pada bibirnya kini sudah berpindah di setiap permukaan kulit leher Cakra.


"Ada apa dengannya? Apakah dia sakit?" batin Cakra dengan menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.


"Kau pikir aku sakit?" cemberut sudah Helen mendapati perlakuan Cakra yang terlihat memastikan wanita itu demam atau tidak.


"Bukan begitu sayang." Sungguh bingung Cakra dibuatnya karena baru saja ia merasakan gelanyar menjalari tubuhnya, kini kembali hilang karena sang istri berbalik badan dengan wajah yang cemberut.


"Bodoh!" gumam Cakra merutuki kebodohannya.


Punggung polos tertutup rambut terurai itu terlihat samar didalam redupnya sinar lilin malam hari ini.


Ya... Cakra baru saja menyadari jika ruangan kamarnya dihiasi dengan kelopak-kelopak mawar merah dengan penerangan beberapa cahaya lilin.


CEO tampan itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kamarnya, suasana romantis seperti pengantin malam pertama yang ia dapati.


Teringat malam pertamanya, ia begitu ketus kepada sang istri, dan kali ini setelah dinginnya sifat Helen beberapa hari belakangan, kini sudah mulai menghangat, buktinya saja wanita itu mau menghias ruang kamar mereka sedemikian cantik berbau romantis.


"Sayang... " bisik Cakra dengan memeluk tubuh seksi itu dari belakang, seperti biasa dagu dengan rahang tegas itu ia tancapkan di pundak Helen.


Tercium aroma parfum yang sudah menjadi ciri khas wanita itu, ya harum yang sangat menenangkan hati, dan sangat nyaman untuk posisi seperti ini.


Cakra memiringkan kepalanya demi memandang wajah ayu istrinya, walau pun hanya terlihat dari samping.


Dilihatnya wajah ayu itu masih terdiam dan cemberut, "Jangan cemberut dong, kan sudah dandan cantik begini, masa cemberut?" kembali Cakra berbisik dengan mencubit dagu Helen agar memandang kearahnya.


Helen hanya menghela nafas, sudah lelah ia menghias kamar, memantapkan hati, meluruskan niat dan tujuan, bahkan ia sudah keliling kebun mawar menjelang petang hanya demi menyempurnakan kejutan ini, eh si suami tampan yang katanya berotak genius itu malah menganggapnya sakit, ya walau pun tidak bicara secara langsung tapi tindakan Cakra sudah merusak moodnya.


"Baby... senyum dong." deep voice itu terdengar dari bibir CEO tampan itu.


Helen menghadap kearah Cakra, "Kau tau, aku bukan wanita penggoda, dan itu bukan keahlian ku! Sudah susah payah aku mempelajari, menyiapkan, bahkan kaki ku sakit hanya demi bunga yang ku tabur di ruangan ini, dan dengan mudahnya kau bilang aku sakit, huh..." kembali wanita itu bersedekap dan memalingkan pandangannya.


Ya... Cakra sudah mengenal Helen, wanita pemarah yang sudah ia pikat hatinya tanpa mereka sadari.


"Iya sayang, aku mengenal mu, aku paham akan sifat mu, bahkan aku sudah mencium aroma cemburu saat kau merasakan, tanpa kau ucapkan, tapi... jujur, ini sangat mengejutkan bagi ku..." terdiam sejenak Cakra.


"Kau melakukan semua ini demi kita?" imbuhnya, berharap agar Helen menjawab YA dan mereka bisa memulai kehidupan yang harmonis layaknya pasangan suami istri lainnya.


"Kau pikir?! Aku melakukannya untuk siapa? Untuk tetangga?" cetus Helen yang sudah kadung bad mood.


Cakra menghela nafas, sungguh istrinya itu sulit untuk di tebak, di tebak saja sulit apa lagi dirayu, "Ya sudah aku mau mandi dulu." ucap Cakra dengan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.


"Kau tidak meminta ku untuk menyiapkan air hangat?" tanya Helen yang berhasil menghentikan langkah panjang kaki suaminya.


"Tidak sayang, aku tau kamu lelah, duduk lah di atas ranjang dan tunggu aku, aku tidak akan lama." Sudah tertata halus nada dan ucapan Cakra malam itu.


"Kau pikir aku ******? Yang menunggu pria hidung belangnya?" Mendengar ucapan istrinya, Cakra mengusap wajahnya, sungguh bingung CEO tampan itu, mau menjelaskan dan menjawab bagaimana agar tidak terdengar salah terus di mata istrinya.


Cakra berjalan kembali mendekati Helen "Bukan begitu sayang han..."

__ADS_1


"Bukan begitu bagaimana? Jelas-jelas kau menyuruh ku seperti ******!" sela Helen dengan nada tinggi.


"Lalu bagaimana mau mu?" terdengar dingin kini ucapan yang keluar dari bibir Cakra. CEO tampan itu berjalan kembali mendekati istrinya.


Tatapan tajam Cakra arahkan kedalam netra indah yang saat ini juga tengah menatapnya.


Wajah Helen mendongak demi membalas tatapan suaminya, beradu tatapan tajam kedua suami istri itu di tengah cahaya lilin yang temaram.


Cakra dengan tiba-tiba menarik tengkuk Helen kemudian menyatukan kedua bibir mereka.


Memaksa Helen agar membuka mulut dan mau menerima ciuman nya Cakra menggigit bibit istrinya itu dan...


"Aahh...emmhhh... " Berhasil Cakra menerobos masuk kedalam rongga mulut Helen, diabsen nya setiap barisan rapi gigi putih serta langit-langit rongga mulut Helen, bahkan tak tertinggal, indera pengecap itu membelit mengajak lidah yang terdiam itu untuk berperang panas didalam sana.


Tak mau berdiam diri, sebelah tangan Cakra me-remas bongkahan kenyal padat yang ada di bagian belakang Helen.


Ditekannya hingga perut bagian bawah Helen menghimpit sesuatu yang terasa mengganjal di bagian bawah sana.


Cakra merasa kini Helen mulai mengikuti permainan panasnya, ya dapat di rasakan istrinya itu mulai me-remas kerah kemejanya dan menariknya.


Menyadarinya, Cakra segera memindahkan kedua lengan itu agar melingkar di leher kokohnya.


Setelah kedua tangan Helen melingkar indah di leher kokoh suaminya, Cakra mengangkat tubuh sintal itu hingga kedua kaki Helen melingkar di pinggang Cakra, dan kedua kaki jenjang itu saling mengait di belakang pinggang Cakra.


Masih saling memagut, Cakra berjalan perlahan, membawa istrinya untuk menuju ranjang yang nyaman.


Perlahan Cakra duduk di atas permukaan kasur empuknya, laki-laki itu meraba punggung istrinya yang hanya tertutup surai panjang yang terurai.


Melepas sejenak ciuman panas itu, Cakra membuat Helen sedikit kecewa, namun kemudian Cakra kembali mendaratkan kecupan di pipi dan merambat ke telinga.


Cakra kembali menyerang ceruk leher Helen dengan sesekali menyesapnya dan pasti meninggalkan jejak merah di sana.


"Aaahhh..." desah manja terdengar dari mulut wanita di atas pangkuan Cakra itu, karena merasakan bagian bawahnya mulai berkedut, Helen sedikit menggoyangkan pinggulnya dan itu membuat Cakra semakin terangsang.


Jemari Cakra kini tak membiarkan si kembar yang terlihat menantang dan kenyal itu menganggur, di keluarkan nya si kembar itu dari dalam sangkarnya dan di remas di mainkan nya kedua bongkahan besar yang berukuran sama itu.


Bahkan kini Cakra mulai membuka mulutnya dan memasukkan ujung salah satunya.


Semakin kelojotan Helen dibuatnya.


Semakin membusungkan dada Helen berpegangan pada tengkuk suaminya.


Cakra perlahan membawa Helen untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman itu.


Mulai di jelajahi nya tubuh seksi itu dan perlahan di lucuti semua benang yang melekat pad tubuh indah istrinya itu.


Sampai akhirnya netra tajam itu terfokus pada titik segitiga berisi harta terindah itu, ditariknya dengan perlahan segitiga penutup aset berharga itu kemudian terlihatlah keindahan yang membuat jemari Cakra tertarik untuk membelainya.


"Jangan di lihat begitu, aku kan malu!" gerutu Helen dengan jemari yang hendak menutupinya.


"Jangan ditutupi sayang, ini sangat indah." ucap Cakra dengan menarik lengan Helen agar tidak menghalangi pemandangannya.


Menunduk perlahan wajah Cakra mendekati lembah syurga dunia itu, CEO tampan itu mulai menjulurkan lidahnya untuk mulai mengobrak-abrik seluruh isi di dalamnya.

__ADS_1


Setelah terasa sesuatu keluar dari dalam lembah itu, Cakra segera melepas kemejanya dan dengan cepat ia melepaskan kepala gesper yang masih aman menyegel rudal keramatnya.


Setelah terlepas ia lempar serampangan, tak lupa laki-laki tampan itu menggigit satu sachet bungkusan yang entah di dapat dari mana.


"Itu apa Tuan?" tanya Helen yang melihat suaminya memasangkan sesuatu pada rudal keramatnya.


Cakra tak menjawab, ia terlihat memejamkan matanya ketika benda mirip balon itu membungkus rudalnya yang sudah siap tempur itu.


"Kenapa harus pakai sarung, Tuan?" protes Helen, tapi mau menolak pun wanita itu sudah kadung merasa ingin lebih.


"Tidak apa-apa sayang, ini akan lebih mudah masuk." kilah Cakra yang tak mau merusak mood istrinya lagi.


Ingin sekali lagi Helen protes, namun rudal itu sudah menyentuh lembah syurganya dan menggesek pelan dibawah sana.


"Haaaahhh... emmmhhh..." Memejamkan mata Helen merasakan kenikmatan yang tiada tara.


Setelah dirasa istrinya mulai rileks Cakra perlahan melesakkan rudal keramat itu kedalam lembah yang jarang dijamah itu.


Berhasil masuk dengan lenguh panjang, terasa sempit namun lebih mudah dibanding beberapa hari yang lalu.


Mulai bermain keduanya, bahkan dengan imaginasi liar, mereka mencoba beberapa posisi yang membuat peperangan malam itu semakin memanas.


Hingga pagi menjelang, Helen yang tertidur didalam pelukan Cakra, mulai membuka matanya, tak mau bermalas-malasan, wanita itu perlahan bangun dan membersihkan dirinya di kamar mandi.


Segera setelah mandi, Helen melakukan kewajibannya, menyiapkan pakaian suaminya, juga menyiapkan sarapan.


Ditengah kesibukannya pagi itu Helen kembali teringat peperangan semalam.


"Kalau pakai sarung berati terhalangi dong? Gagal hamil dong?" gumamnya dengan raut wajah yang berubah masam.


"Baby..." Cakra memeluk Helen yang tengah menata makanan di atas meja makan, tak lupa Cakra mendaratkan kecup mesra di pipi istri cantiknya itu.


"Stop!" ketus Helen.


"Kenapa sayang?" bingung Cakra menatap istrinya.


"Semalam..." terdiam sejenak Helen, karena sungguh malu rasanya jika harus membahas kejadian yang hampir menghilangkan kewarasan semalam.


"Kenapa? Baby mau lagi? Hem?" goda Cakra dengan kembali memeluk istrinya dari belakang.


"Bukan! Kenapa... Kenapa semalam kau menghalangi..." Helen tak melanjutkan ucapannya, ia terdiam seolah tak mampu untuk bertanya lebih.


"Tuan jijik?" tanyanya kemudian.


"Bukan begitu sayang, dengarkan aku!" ucap Cakra dengan mendudukkan istrinya di salah satu kursi yang ada, kemudian Cakra berjongkok di hadapan Helen.


Cakra mulai menjelaskan ketika Helen terdiam dan menatapnya.


"Kita menikah mendadak bukan? Aku tidak mau punya anak pun juga mendadak, biar kita rencanakan dulu matang-matang." ucap Cakra dengan membelai pipi Helen.


"Mau sampai kapan?" mengerutkan alis Helen bertanya, sedangkan Cakra terlihat menghela nafas panjang.


"Tukan! Kamu nggak siap punya bayi! Jadi aku hanya kau jadikan sebagai pemuas saja?!...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan Subscribe 🥰🥰🥰 bunga, kopi dan lain nya di kirim juga boleh beri bintang 5 juga boleh 🤭


__ADS_2