
"Nikahin aja udah Bay!" cetus Cakra yang keluar dari persembunyian nya.
"Cakra?" terkejut Celine dan Bayu sama-sama menoleh kearah Cakra.
CEO Frans Group itu berjalan mendekat, "Waktu bermain lo mungkin sudah habis Bay, tanggung jawab dengan apa yang lo lakuin, gue percaya sama lo, gue yakin lo nggak sebejat itu kok." ucap Cakra dengan menepuk bahu Bayu.
"Gue sih mau nya gitu, tapi Celine keknya lebih milih lo deh." senyum kecut Bayu tampilkan di akhir katanya.
"Cel, bayi yang ada didalam perut lo itu lebih butuh Bayu dari pada gue, gue udah cukup kok dengan Baby Twins dan Helen di sisi gue, dan maaf mereka bertiga tidak akan tergantikan." ucap Cakra.
"Tapi Cak, kondisi Helen saja belum pulih, bagaimana lo mau ngurus kedua bayi kembar lo?" Celine meraih lengan Cakra.
"Siapa bilang? Barusan Helen sudah membaik kok, dia sudah mulai merespon." kebahagiaan dapat mereka lihat dari raut wajah Cakra ketika mengatakan kebenaran itu.
"Benarkah?" tanya Bayu dengan kemanusiaan nya, "Gue mau liat bos cantik dulu!" Bayu ngeloyor pergi, sedangkan Cakra dan Celine mengekor dibelakangnya.
Bayu pelan-pelan membuka pintu kamar, "Sshhhttt jangan berisik, dia belum terbiasa, satu tahun dia istirahat total, benar-benar total." Cakra mengingatkan sahabatnya.
Mereka masih berdiri diambang pintu, dilihatnya dua balita kembar tengah duduk di kursi, yang satunya menepuk-nepuk kaki Helen yang satu terlihat mengelus pipi Helen, dan terdengar celoteh dari Bryna, mungkin baby cantik itu mengajak berbicara Mommy-nya.
"Mommy, al yu ote? (Mommy are you ok?)"
Tersenyum Cakra mendengar kata itu, sungguh empati bocah yang baru berumur satu tahun itu luar biasa.
Barnes tiba-tiba menoleh kearah pintu, "Dad-dad!" panggilnya dengan menatap Cakra, "Mom-Mom!" kembali Barnes berceloteh dengan menunjuk Helen dengan jari mungilnya.
Tersenyum Cakra menanggapi celoteh putra-putrinya, tiga orang dewasa itu berjalan mendekat dan dilihatnya Helen sudah membuka matanya.
Senyum tipis dengan hiasan selang oksigen tertampil di sana, "No Mommy, Mommy angan anis! (No Mommy, Mommy jangan nangis!)" Bryna mengusap pipi pelipis Helen yang tiba-tiba dialiri bulir bening.
"Mommy bahagia sayang, terimakasih sudah tumbuh dengan sehat." lirih Helen.
Cakra segera mendekat dan mengelus kepala Helen, "Jangan dipaksakan, kau baru saja sadar.
__ADS_1
Helen mengangguk pelan, senyum tipis ia suguhkan, "Makasih ya, untuk kalian semua." lirih Helen kala ia melihat Bayu dan Celine.
...πππππ...
Setelah keadaan Helen semakin membaik, Cakra memutuskan untuk membawa istrinya itu untuk pulang, masih sedikit lemah kondisi Helen tapi sudah lebih baik ketimbang hari-hari kemarin.
Pagi ini Helen duduk di atas kursi roda, Cakra baru saja menyelesaikan mengurus kedua balita kembarnya, baru sekarang ia mengurus istrinya.
"Sayang mau makan apa?" tanya Cakra yang sangat memanjakan Helen.
"Jangan begitu, aku ini sudah besar, aku hanya kurang sehat, aku bukan anak kecil!" ucap Helen yang tidak mau dimanjakan sama seperti kedua bayinya.
"Tapi Yank, kamu ini masih dalam tahap pemulihan."
"Iya, aku dalam tahap pemulihan, tapi bukan baru lahir, aku hanya belum kuat berdiri sayang, bukan tidak bisa kemana-mana." jelas Helen yang sangat ngeyel itu.
Menghela nafas Cakra, mungkin di dalam hatinya terus mengucap kata sabar, mengatasi Helen yang ngeyel dan keras kepala ini cukup menguras emosi.
"Sayang, biar aku sendiri saja, kau urus anak-anak." ucap Helen dengan berusaha meraih piring yang ada di tangan Cakra.
"Anak-anak sudah tidur, aman sekarang tinggal aku mengurus istri cantik ku yang lumayan rewel ini." sahut Cakra dengan berjongkok di hadapan Helen,bahkan dengan pelan Cakra menarik hidung bangir istrinya.
Mau tak mau Helen menerima setiap suapan yang Cakra berikan, di samping itu Kista bersama Alinda duduk di ruang tengah, dari sana keduanya dapat melihat perdebatan kecil yang di lakukan Cakra dan Helen.
"Akhirnya Helen bangun juga dari tidur panjangnya ya." gumam Kista, sedangkan Alinda melirik sinis kearah ibu kandungnya itu, "Kemarin siapa coba yang maksa-maksa Cakra buat kawin lagi? Coba aja kalau Cakra nurut, mau di kemana in kak Helen?" cecar Alinda dengan menikmati cemilan yang ada di atas meja.
"Iya... iya Mama minta maaf." Lirih Kista dengan cemberut.
"Minta maaf sana sama Cakra, jangan minta maaf sama Alin!" terdengar ketus Alinda tapi semua demi kebaikan semuanya.
Kista dengan cemberut beranjak dari duduknya, ia mendekati Cakra yang sedang menyuapi Helen.
"Cak, mama minta maaf ya? Mama nggak ada maksud buat misahin kalian, Mama cuma nggak mau kalau sampai anak-anak kekurangan kasih sayang, kamu paham kan sama maksud Mama?" Kista berucap dengan duduk di salah satu kursi yang ada di samping Cakra.
__ADS_1
"Iya Mah, wajar kok Mamah mikir begitu, Cakra juga minta maaf karena sudah sering berkata kasar kepada Mama." Cakra meletakkan piring di atas meja kemudian memeluk sang ibu yang akhir-akhir ini sering berbeda pendapat dengannya.
Helen yang tak mau merusak pemandangan kebahagiaan itu hanya terdiam dengan senyum simpul yang ia tampilkan di sana.
...πππππ...
Malam hari...
Setelah makan malam dan tentunya Cakra baru saja menidurkan kedua baby twins di kamar mereka, Cakra melangkah masuk kedalam kamar, terlihat Helen tengah duduk di depan pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon.
"Sayang?" lirih Cakra berucap, ia memelui Helen dari belakang.
Sedikit tersentak Helen, wanita itu sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
"Terimakasih sayang." sekali lagi Cakra berucap dengan mengecup pipi Helen.
"Buat apa sayang?" Helen malah terlihat bingung.
"Buat segalanya, buat kesabaran mu, buat kehidupan kita, buat segala yang ada pada dirimu bahkan dengan segala yang kau berikan pada ku." Cakra beralih duduk bersimpuh didepan kursi roda istrinya.
"Hey... Sayang jangan seperti ini, di sana dingin." ucap Helen dengan berusaha membangunkan tubuh Cakra agar tidak duduk di lantai.
"Tidak Beib, ijinkan ini untuk seperti ini, jujur saja ini sangatlah nyaman." ucap Cakra dengan meletakkan kepalanya di atas pahan Helen.
Helen tak menolak, ia hanya tersenyum dengan jemari yang ia gunakan untuk mengelus surai hitam milik Cakra.
Cakra merasakan nyaman dengan wanita yang tengah mengelus rambutnya, sungguh rindu selama satu tahun penuh kini sudah terbayar.
Tak lupa Cakra selalu mengucap syukur kepada sang Kuasa,, Begitulah keluarga Cakra yang bahagia dengan dikaruniai dua putra putri kembar yang sangat lucu, tak kurang dari apa pun, bagi Cakra yang penting keluarga mereka sudah menjadi satu sekarang.
...~SELESAI~...
Terima kasih untuk kalian yang sudah mengkawal novel ini dari awal sampai akhir, maaf jika kebahagiaan atau ending kurang berkenan, tapi yakinlah Cakra dan Helen sudah bahagia sekarang, author tidak bisa berkata lebih banyak lagi, hanya mampu mengucapkan terimakasih, semoga kalian semua sehat selalu dan dilancarkan segala urusan kalian, sampai jumpa di novel-novel Anggi Marlinda yang lain, see you bye-bye...
__ADS_1