
Sudah beberapa hari setelah Celine menduduki jabatan sekretaris pribadi Cakra, gadis yang dulu mengejar-ngejar CEO tampan itu bekerja dengan baik, bahkan tak ada sedikit pun Celine menggoda Cakra.
Helen yang setiap hari selalu mengikuti kemana pun Cakra pergi, termasuk ke kantor, seperti halnya siang ini, Helen juga berada di sana, perut wanita cantik itu mulai membuncit bahkan ukuran perut Helen lebih besar dari pada ibu hamil pada umumnya, ya wajarlah kan ada calon dedek bayinya.
Terkadang ada juga rasa iba di dalam hati Cakra saat melihat istrinya tertidur di sofa yang teronggok di ruangan kerjanya.
Tapi mau bagaimana lagi? Toh Cakra tak bisa makan jika makanan itu belum tersentuh atau di cicipi Helen, terdengar lebay memang, tapi ya begitulah bawaan bayi yang tak mau ibunya yang sengsara merasakan ngidam.
Mungkin kata si embrio begini "Rasa in enak nya juga rasain mualnya ya Dad, toh Momy nanti masih harus mengandung ku selama 9bulan 10hari." biar impas, mungkin begitu kata si embrio yang tak mau jika si Cakra hanya merasakan enaknya saja.
Siang itu Cakra baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dan Helen tertidur di atas sofa empuk yang ada di sisi meja kerjanya.
TOK... TOK... TOK...
Terdengar suara pintu di ketuk, "Masuk!" teriak si CEO tampan yang kini asik memandangi sang istri.
"Permisi Tuan, ada meeting di ruang sebelah setengah jam lagi." ucap Celine setelah membuka pintu ruangan Cakra.
"Hem!" sahut Cakra singkat.
"Nyonya tidur? Apa tidak sebaiknya di pindahkan ke kamar pribadi milik Tuan di belakang rak buku itu?" Celine menyarankan, entah ada motif apa di balik saran baiknya itu.
Untuk pertama kalinya Cakra menatap gadis yang kini berstatus sekretaris itu, hanya karena ucapan Celine yang terdengar sangat perduli dengan istrinya, Cakra menatap Celine dengan tatapan serius.
"Maaf Tuan, jangan menatap saya seperti itu, saya memang cantik, kasian Nyonya yang sudah kau buat hamil jika sampai kau berpindah haluan." Cetus Celine dengan sengaja melenggang pergi.
Ya... selama ini pekerjaan gadis itu beres, tapi sikapnya masih sama saja, arogan, dan penuh percaya diri.
"Aaarrrgghhh mikir apa aku barusan, hampir saja aku berpikir dia baik." gumamnya.
Langkah kaki besar itu Cakra ayunkan demi mendekati sang kekasih hati yang masih terlelap di sofa.
"Sayang..." suara lembut Cakra membuat Helen menggeliat "Emmmhhh..."
"Baby... " Sekali lagi Cakra memanggilnya dengan membelai pipi yang mulai terlihat chuby itu.
Akhirnya Helen membuka matanya sipit, "Emh... eh sudah selesai?" suara serak itu terdengar dari bibir manis Helen Valensia.
__ADS_1
Tersenyum manis Cakra mengelus wajah istrinya, tak ragu Cakra mendaratkan kecupan singkat di kening Helen, kemudian beralih bibir sensual itu mengecup bibir merah Helen yang sedikit memucat.
Ibu hamil itu tidak selalu mengenakkan riasan wajah, hanya tergantung suasana hati saja.
"Sayang mau pindah ke kamar?" tanya Cakra dengan menyelipkan anak rambut Helen di balik telinga wanita cantik itu.
Mengerut alis Helen mendengar pertanyaan suaminya, kemudian di tatapnya jarum jam pada dinding ruangan itu masih menunjukkan pukul sebelas siang, ya... belum saat nya istirahat dan pasti akan ada karyawan yang setiap waktu masuk ke dalam ruangan itu.
"Belum waktunya." sahut Helen dengan perlahan duduk di sofa empuk itu.
"Maksudnya?" tanya Cakra tak paham.
"Bukan kah kau menawari ku untuk ke kamar?" Kali ini Cakra berpikir keras dan, "Oh astaga, bukan untuk itu sayang!" terkekeh CEO tampan itu dengan menutup wajahnya.
"Oh... bukan ya? Haha... Kirain." Helen pun ikut tertawa mendengar jawaban suaminya.
"Aku mau meeting di ruangan sebelah, kamu tunggu di sini aja atau mau ke ruangan sebelah?" tanya Cakra masih dengan senyum yang mengembang.
"Oh... ya udah sana, aku di sini aja, udah PW." sahut Helen dengan menyandarkan punggungnya di bahu sofa.
"Udah simpan lagi senyuman mu itu, berikan pada ku nanti, jangan kau berikan pada siapapun!" teriak Cakra yang sudah tiba di ambang pintu.
Helen hanya tersenyum melihat kebucinan suaminya yang semakin hari semakin akut saja.
Morning Sickness yang di alami Cakra sudah berkurang karena kini Helen sudah memasuki kehamilan trimester ke 3, tapi walaupun begitu Cakra masih suka makan makanan yang sudah di cicipi Helen, entah itu masih bawaan bayi atau itu hanya akal-akalan CEO tampan itu yang mau bermanja-manja dengan istrinya.
...~βββπΌβββ~...
Cakra berjalan menuju ruangan sebelah, dimana tempat itu masih sepi tidak ada satu orang pun didalamnya.
Netra tajam itu menyusuri ruangan yang kosong, "Dimana yang mau meeting?" gumamnya seraya melangkah memasuki ruangan yang hanya dipenuhi dengan kursi yang memang sudah tertata rapi, namun kemudian...
BRAK!!
Pintu tertutup dan tiba-tiba lampu di ruangan itu padam, dan mulai tercium aroma-aroma yang aneh, seperti asap, dan jujur saja itu membuat Cakra lumayan pusing, "Ada apa ini? Tidak mungkin mati lampu, kan?" gumam Cakra yang bingung.
Tersentak kembali CEO tampan itu ketika sepasang tangan membelai punggungnya kemudian merambat ke arah perut dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Cakra dengan berusaha melepaskan pelukan erat penuh gairah itu.
"Aku tau kau kesepian Cak, aku tau kau tidak bebas dengan kondisi istri mu yang tengah mengandung." berbisik lembut suara wanita itu dengan nafas panas yang menerpa tengkuk Cakra.
"Celine?!" Cakra dengan cepat berbalik dan mendorong tubuh gadis yang tengah menggodanya itu.
CETHAK!!
Tak sengaja punggung Celine membentur dinding yang ada saklar dan saat itu juga lampu ruangan itu menyala.
"Rupanya CEO tampan kita ini, suka permainan yang kasar ya? Biar saya layani Tuan!" Celine dengan kaki jenjangnya itu melangkah maju mendekati Cakra. Bahkan sengaja ia membuka kancing kemejanya beberapa sampai terlihatlah bongkahan indah yang masih tertutup cup berenda berwarna merah.
"Jangan hanya dilihat Tuan Cakra." bisik Celine yang entah sejak kapan gadis itu sudah menempel pada dada bidang Cakra.
"Hentikan Cel! Atau kau akan ku berhentikan!" gertak Cakra.
Senyum miring Celin tampilkan, "Mau dengan alasan apa? Alasan karena aku meniduri mu? Boleh juga, atau alasan karena aku terlalu menggoda iman mu?"
Terlihat Cakra menghela nafas! Tak mau lagi ia berada di ruangan itu, dengan kasar Cakra mendorong tubuh Celine kemudian ia membuka pintu yang memang tidak di kunci sama sekali.
Untung jam masih pada jam sibuk-sibuknya staf dan karyawan bekerja, jadi tidak ada yang tau jika Cakra keluar dari ruangan meeting itu.
Cakra terus berjalan menuju ruangannya, dan di sana ia berpapasan dengan Bayu, "Woy Cak, dari mana?" basa-basinya bertanya.
"Dari toilet!" jawab Cakra asal.
Tak mau berpikir panjang Bayu hanya mengangguk dan melanjutkan jalannya karena dia juga mau ke toilet yang ada di samping ruang meeting.
Tapi ketika bujang tampan itu melewati ruang meeting, ia mendengar suara wanita dari dalam ruangan itu.
"Oh sial padahal aku sudah menyiapkan semuanya, dan sedikitpun dia tidak menginginkan tubuh ku!"
Bayu pun membuka pintu ruangan itu dan mendapati Celine tengah duduk di kursi, bahkan kemeja Celine belum terkancing dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya.
"Cel? Lo ngapain?" tanya Bayu yang saat itu jiwa Casanova nya mulai meronta, karena melihat pemandangan yang sungguh susah dijabarkan ini.
"Bantuin gue Bay!...
__ADS_1