
Cakra pusing memikirkan antara rasa trauma juga rasa sayangnya kepada sang istri, muncul lah pikiran negatif karena Helen keluar dari dalam ruangan pribadinya dengan hati dan pikiran yang berantakan juga sedang tidak baik-baik saja.
Tak mau jika sampai hal buruk terjadi pada istri kesayangannya itu, Cakra segera beranjak dari duduknya, ya...ia mengejar Helen.
Namun baru saja ia tiba di lantai bawah, netra tajam itu melihat seorang laki-laki tengah memegang tangan seorang wanita.
Terlihat sedikit memaksa pria yang dilihatnya itu, karena wanita itu terlihat memberontak untuk melepaskan tangannya.
"Ada apa itu?" gumam Cakra yang awalnya ingin mengacuhkan pemandangan itu.
"Maaf! Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, saya dan anda hanyalah pribadi masing-masing yang sudah menjadi orang lain, tolong lepaskan tangan saya!" Cakra mendengar ucapan tegas itu dari mulut wanita yang tertutup punggung laki-laki yang terlihat tengah memaksanya.
"Helen?" gumam Cakra yang hafal betul dengan suara itu.
Segera melangkahkan kakinya mendekat, Cakra menajamkan tatapannya dan sudah dapat ditebak bagaimana ekspresi wajah CEO Frans Group itu saat ini.
Ya... rasa khawatir kini berubah menjadi amarah yang membuncah, JEBRET!! Satu kepalan tangan dengan tenaga full power mendarat sangat keras di wajah laki-laki yang tak lain adalah Ferdi, si mantan calon suami Helen.
BRUGH!! Sekali lagi kepalan tangan besar Cakra menghantam wajah Ferdi hingga laki-laki itu terjatuh.
Masih tak mau berhanti Cakra kembali mengambil ancang-ancang untuk mendaratkan bogem nya kembali di wajah Ferdi.
"Tuan cukup!" teriak Helen dengan menahan lengan Cakra, mengerutkan kening Cakra menatap istrinya itu.
Terdiam cukup lama Cakra memandangi Helen, "Siapa dia?" dengan suara tercekat Cakra bertanya, sungguh CEO tampan itu.
"Bukan siapa-siapa." sahut Helen dengan datar.
Cakra yang tidak terima dengan jawaban istrinya itu segera menarik lengan Helen dan dibawanya menuju pintu lift khusus.
"A... Aw Tu... Tuan ini sakit!" rintih Helen dengan terus berjalan terseok-seok hingga mereka sampai didalam lift.
Tangan kekar Cakra masih tak melepaskan lengan sintal istrinya itu. Dengan kasar Cakra mendorong tubuh Helen hingga punggung Helen membentur dinding lift.
Cakra mengungkungnya, "Kau membela nya? Bahkan setelah aku menolong mu dari cengkeraman laki-laki itu?! Hem!" Entah mengapa rasanya hati Cakra sangat sesak kali ini, Cakra tak suka sedikit pun jika wanitanya disentuh oleh laki-laki lain, mungkin bisa di sebut cemburu atau keposesifanya kembali naik.
"Tuan, ini tidak seperti yang anda kira, dia hanya ingin..."
"Ingin apa? Hem? ingin menyentuh mu?! Ingin mencuri kembali perhatian mu dari ku?" sela Cakra dengan terus memangkas jarak tubuh keduanya.
__ADS_1
"Tuan kumohon jangan seperti ini, kalau ada yang... "
TING!!!
Belum sempat Helen menyelesaikan ucapannya, pintu lift sudah lebih dulu terbuka, dan di sana didepan pintu ruangan Cakra berdirilah laki-laki yang sangat tidak ingin Cakra lihat keberadaannya, ya... Ferdi sudah berdiri di sana untuk menunggu kedatangan dua sejoli yang baru saja keluar dari alat transportasi vertikal itu.
Cakra berjalan dengan gagahnya, bahkan lengan kekarnya memeluk posesif pinggang istrinya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Cakra setelah ia sampai di hadapan Ferdi, dengan nada dinginnya CEO tampan itu bertanya tanpa melepaskan tubuh istrinya sedikit pun.
"Maaf Pak, saya kesini, untuk bertemu dengan pak Tomy, tapi sepertinya beliau tidak ada dan... "
"Kalau mau bertemu Tomy kenapa harus berurusan dengan istri saya?" Nada ketus dengan mata elang yang seolah-olah siap mengoyak mangsanya, begitulah gambaran Cakra saat ini.
"Maaf tadi saya tidak sengaja bertemu dengan istri anda, dan kebetulan dulu kita pernah..."
"Kenal! Ya dulu pernah kenal dan itu sudah lama sekali dan saya sudah tidak mengingat anda! Maaf!" sela Helen dengan suara lantangnya.
Cakra mengerutkan keningnya seolah mencurigai sesuatu, kenapa Helen harus menyela? Kenapa seolah Helen sangat perduli dengan kata-kata yang akan diucapkan oleh Ferdi?
Namun lagi-lagi Cakra mengesampingkan rasa curiganya itu, ia lebih memilih ketenangan hati istrinya.
"Dan lagi, jika sudah selesai silahkan keluar! Jalan ke lantai bawah ada di sebelah sana!" imbuh Cakra dengan menunjuk salah satu lift khusus karyawan.
"Baik Pak, sekali lagi maaf." ucap Ferdi yang sedikit pun tak mendapatkan sahutan dari Cakra.
Setelah Ferdi pergi, Helen melepaskan lengan Cakra yang masih stay di pinggangnya.
"Kenapa?" tanya Cakra dengan mengerutkan alisnya.
"Bukannya masalah sudah selesai? saya juga mau pulang!" ketus Helen, mungkin ia masih mengingat pembahasan alat kontrasepsi beberapa menit yang lalu.
"No! kamu nggak boleh pulang kecuali sama saya!" sahut Cakra dengan menarik tubuh Helen untuk diajaknya masuk kedalam ruangannya.
Pasrah Helen, karena ia sudah hafal betul bagaimana suaminya, ya... memang sangat susah untuk ditolak.
Namun walau pun Helen mengikuti kemana pun langkah kaki suaminya, Helen masih stay dengan raut cemberutnya.
Cakra menuntun Helen agar istrinya duduk di sofa yang teronggok di dalam ruangan pribadi CEO tampan itu.
__ADS_1
"Baby? Kok masih cemberut? Jujur aku yang nggak suka sama laki-laki tadi aja udah hilang loh rasa benci ku, karena melihatmu masih baik-baik saja." gombalan yang terdengar tulus itu terdengar dari mulut manis CEO tampan Frans Group.
"Ish gombal!" ketus Helen yang membuat Cakra gemas dan ingin sekali menggigit anggota tubuh yang baru saja mencetuskan kata-kata barusan.
Cakra hendak melancarkan aksi gemasnya, dengan memangkas jarak kedua wajah yang sudah berdekatan itu.
Berniat untuk menyatukan benda kenyal nan manis itu, CUP!!! keduanya saling terpaku, dengan mengatur nafas yang sedikit terengah, mereka mulai saling membelit.
Perlahan Cakra mengangkat tubuh Helen agar duduk di atas pangkuannya.
Di saat suasana mulai memanas tiba-tiba...
TOK... TOK... TOK...
Tak lama kemudian terdengar seperti ada seseorang yang tengah mengetuk pintu masuk.
"Siapa?" tanya Helen dengan mendorong tubuh atletis milik Cakra.
Cakra yang tak tau apa-apa hanya mengendikkan bahunya.
Tanpa permisi seorang gadis belia bersama dengan seorang security masuk kedalam ruangan pribadi Cakra yang memang tidak di kunci.
"Lepaskan saya! Saya mau bertemu dengan Tuan Cakra!" teriak gadis remaja yang tak lain adalah Stela putri Steven.
Helen yang tengah duduk di atas pangkuan Cakra merasa tidak enak, ia ingin sekali turun, namun lengan kekar itu mencengkeram kuat pinggang Helen agar tidak pergi jauh darinya.
"Biarkan saja dia Pak!" tegas Cakra, sedangkan Pak Security hanya mengangguk patuh kemudian turun ke lantai bawah, meninggalkan Stela yang masih terpaku di ambang pintu ruangan Cakra.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Cakra namun masih dengan nada yang dingin dan ketus seperti biasanya.
Masih setia memeluk pinggang ramping itu, Cakra membuat Stela berani bertanya, "Tuan Cakra, siapa dia?" tanya Stela yang masih berdiri di tempat nya.
"Dia istri ku!" Sahut Cakra dengan entengnya juga dengan kepercayaan diri yang penuh.
"Apa?!" Terkejut Stela, "Tidak mungkin! Kau! Turun kau dari pangkuan Tuan Cakra!" tanpa diduga Stela berjalan mendekati Helen dan menarik rambut panjangnya.
"HENTIKAN STELA!!" suara lantang itu membuat ketiganya menoleh kearah pintu...
Maaf ya othor sedikit sibuk di real, makanya baru up, jangan lupa tetep dukung, like dan komentar ya say... see you next episode...
__ADS_1