Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 35 [Sindrom Couvade]


__ADS_3

Mendengar ucapan Alinda yang terdengar seperti candaan itu bukan membuat Helen tertawa, mendadak wajah Helen berubah, wanita cantik itu terdiam seolah merasa tersindir.


Kista yang melihat ekspresi menantunya yang tiba-tiba diam itu segera mendekatinya.


"Kau baik-baik saja? Apa Cakra nakal di rumah?" pertanyaan Kista buat sesantai mungkin.Tapi dasarnya Helen yang sudah takut, gadis itu tergagap hanya untuk mengatakan satu kata saja.


"I... iya Mah." Helen menunduk tak berani ia menatap ibu mertuanya.


"Iya? Baby, aku nggak nakal ya!" Sungguh sensitif dan mudah marah saja CEO Frans Group ini.


"Kau ini kenapa sensitif sekali Cak?" cetus Kista dengan menatap putranya yang duduk di atas ranjang pasien.


"Ya pokoknya Cakra nggak nakal!" Mempertahankan dirinya yang tidak nakal dengan kata-kata rengekan seperti anak kecil yang mulai merajuk.


"Bagaimana kalian berdua?" tanya Kista kemudian, yang mana itu membuat jantung Helen semakin berdegub kencang.


"Ma... Maksud Mama?" masih tergagap saja Helen saat itu.


"Apa kah sudah mau launching calon cucu ku? Akh tidak terasa aku akan segera menjadi seorang nenek." berbicara dengan sedikit nada candaan, tapi itu justru membuat Helen tertekan, wanita itu terdiam tak menyahuti sama sekali.


"Permisi saya mau ke toilet sebentar!" ucap Helen yang menghindar dari percakapan itu.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Setelah pertanyaan seputar cucu, Helen lebih sering menghindar saat bertemu dengan ibu mertuanya.


Hari ini, setelah kurang lebih dua minggu lamanya Cakra dirawat di rumah sakit, akhirnya CEO Frans Group itu memutuskan untuk melakukan perawatan di rumah saja.


"Sebenarnya lo sakit apa sih bro?" Tomy mengutarakan rasa penasarannya, karena dirinya sedikit kuwalahan selama dua minggu mengurus perusahaan di Britania Raya, hanya berdua dengan Bayu.


Ya... dua bujang itu terbang ke New York City demi menemui atasannya itu.


"Entahlah, pas di periksa, lambung gue nggak ada apa-apa sih, cuma kek kalau bau-bau makanan, bumbu di tumis gitu mual nya aduh, sampai bikin lemes." jelas Cakra dengan duduk di sofa ruang tengah.


"Bentar deh, jangan-jangan..." terdiam sejenak Bayu ragu untuk mengatakan kesimpulan yang ia rangkum di dalam otaknya.


"Jangan-jangan apa? Please Bay, don't make me curious, ok! *Tolong Bay, Jangan bikin gue penasaran, ok!*" Raut serius bercampur rasa takut kini telah mengisi penuh, hati dan pikiran Cakra.


Akhirnya Bayu menarik nafas panjang kemudian ia bersuara dengan sedikit berbisik, "you pregnant. *Kamu hamil*" bisik bujang berwajah tampan itu.


"WHAT??!" Teriak Tomy dan Cakra bersamaan. "Lo kalau ngomong jangan ngasal dong bro!" cetus Tomy.


Sedangkan Cakra terlihat mengusap wajahnya, CEO tampan itu lebih memilih untuk diam.


"Tapi mual di pagi hari itu, morning sickness, dan itu sering di alami oleh ibu hamil." jelas Bayu yang semakin membuat Cakra memijit kening nya karena terasa berdenyut mendengar ucapan sahabatnya itu.


Tapi berbeda dengan Tomy, laki-laki itu malah menatap Cakra dengan menyipitkan irisnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan, selama ini lo cewek? Lagi pula selama kita kenal lo nggak pernah tertarik sama cewek tuh..." tuding Tomy dengan berbisik.


"Wah!!! Jangan-jangan lo sebenarnya suka sama kita berdua?" cetus Tomy yang langsung mendapat jitakan di kepala, dan pastilah Cakra pelakunya.


"Ngaco lo!" ketus Cakra.


"Kok gue?! Kan yang punya persepsi kalau... " Tomy terdiam sejenak dan menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain.


"Lo hamil, Bayu!" imbuhnya dengan berbisik.


"Bukan gitu Tom maksudnya..." sela Bayu yang kemudian di sela lagi oleh Tomy, "Tunggu! Berati selama ini dia bukan rudal balistik dong?" Tomy menunjuk ke arah bawah perut Cakra.


PLAK!!


Dengan keras Cakra menampik tangan Tomy, "Bukan! Tapi dia burung yang bawa telur!" cetus Cakra yang mulai jengah dengan kedua temannya itu.


"Aw!!! Sakit cok!" Tomy meringis merasakan sakit dan panas di punggung tangannya.


"Stop Tomy! Don't stupid please." ucap Bayu yang akhirnya menjelaskan maksud dari persepsinya barusan.


Bujang tampan itu mengeluarkan gawai canggihnya yang sedari tadi bersembunyi dibalik kantong celananya


"Sindrom Couvade, sepertinya Cakra mengalami itu, ya itulah penyebab Mual pada Calon Ayah


Meningkatnya hormon prolaktin dan kortisol menyebabkan para pria mengalami gejala morning sickness seperti yang dialami oleh ibu hamil." jelas Bayu dengan membaca sebuah artikel di layar ponselnya.


Bayu dan Cakra hanya menatap datar ke arah Tomy, "Ya... biasa aja kali matanya, kan gue cuma ini... gue cuma memastikan."


Saat itu Helen keluar dari dapur dengan membawa beberapa cemilan, dan di situlah Cakra kembali mual dengan bau-bau cemilan yang Helen letakkan di atas meja.


"Hemph... " Segera Cakra menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya, dan berlari menuju wastafel yang ada di dapur.


Khawatir dengan kondisi suaminya, Helen berlari mengikuti langkah kaki suaminya.


"Huegh!! Huegh!! Huegh!!" Cakra terlihat mengeluarkan semua isi perutnya.


Helen dengan cepat meraih gelas bening dan dituangnya air hangat dengan sedikit melarutkan garam kedalamnya.


Konon kata nenek jaman dahulu, air hangat dengan sedikit garam itu dapat mengurangi rasa mual.


"Ini minum!" ucap Helen dengan mengulurkan gelas yang berisi air asin itu.


Cakra menenggak habis air hangat yang berasa asin itu, "Kok asin, Yank?" tanya Cakra dengan menatap gelas yang sudah kosong itu.


"Iya itu air garam, biar kamu nggak mual terus." ujar Helen dengan mengambil alih gelas yang ada di tangan suaminya.


"Baby, aku mau tanya dong." ucap Cakra yang mempu menghentikan langkah kaki Helen.

__ADS_1


"Ya?" Helen menatap suaminya yang kini berjalan kearahnya.


"Kapan terakhir kamu datang bulan?" Helen mengernyit mendengar pertanyaan suaminya itu.


"Sejak kapan kau memperhatikan siklus tamu bulanan ku?" Bukannya menjawab Helen malah balik bertanya.


"Sindrom Couvade, Bayu bilang bisa jadi aku mengalaminya." jelas Cakra.


Tak mungkin Helen sebagai seorang wanita tak memahami istilah itu, apa lagi ia sering keluar masuk situs dewasa juga artikel-artikel kehamilan.


"Jadi?" tanya Helen dengan menatap dalam iris tajam suaminya.


"Coba kita tes, ya?" Cakra menawarkannya, dan Helen hanya mengangguk, ia menurut tak mau membantah.


Cakra keluar dari hunian mewah itu, dengan menaiki sepeda motor milik Alinda, "Woy Cak! Mau kemana lo?!" teriak Alinda yang saat itu duduk di taman depan bersama dengan Krisna.


Tak menyahuti pertanyaan adiknya Cakra terus melajukan kuda besi itu menuju salah satu apotek terdekat.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Helen kini masih berdiri di dapur, wanita itu masih mengingat serpihan-serpihan bayangan dimana dirinya dan Cakra melakukan hubungan intim.


"Malam itu, pertama kali, duh aku tidak begitu mengingatnya, tapi untuk yang kedua kita melakukan hubungan, bukan kah Cakra tidak mengenakkan pelindung?" bertanya-tanya sendiri Helen dengan berdiri di samping wastafel.


"Bukankah dia menggunakannya pas aku yang menyiapkan kejutan untuk nya." terkaan demi terkaan muncul di dalam otak Helen.


"Tapi kalaupun aku hamil, ya sudah sih nggak papa, kan ada suaminya." kembali tenang Helen dengan ucapannya barusan.


"Tapi, apakah Cakra mau menerima kehadiran bayi ini?" gumamnya kembali resah.


"Baby?" panggil Cakra yang saat ini sudah tiba di belakang Helen dengan membawa sebuah alat yang di gunakan untuk mengetes kehamilan.


"Apa itu?" Tanya Helen dengan menatap benda pipih juga panjang itu.


"Ini alat tes kehamilan, coba kamu tes!" ucap Cakra dengan menyodorkan alat itu, Helen segera meraihnya dan membawa alat itu ke dalam kamar mandi.


Cakra mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, sedangkan Helen di dalam kamar mandi, "AAAAAAAAAKKK!!!" teriak Helen.


"Baby, are you ok?" teriak Cakra dengan nada panik dari luar kamar mandi.


Terdiam Helen, kemudian wanita itu membuka pintu kamar mandi, bertapa terkejutnya wanita itu ketika ia melihat seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di depan pintu kamar mandi.


Bahkan Tomy dan Bayu pun sudah ada di sana, satu persatu Helen menatap wajah yang penuh kekhawatiran itu.


"Baby?" ucap Cakra menyadarkan pandangan Helen yang terlihat kosong.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Cakra dengan meraih benda kecil yang ada di genggaman Helen.

__ADS_1


"Garis dua?"


__ADS_2