
Setelah perbincangan yang cukup menyentil hati dan perasaan pagi tadi, Celine lebih banyak berdiam diri, pikirannya masih dirundung kebimbangan, di sisi lain ada Bayu yang selalu setia menanti jawaban darinya, lalu apa ini? Kenapa tiba-tiba Cakra menawarkan pernikahan secara dadakan?
"Tidak! Tidak! Tidak, aku yakin Cakra pasti hanya bercanda, dia tidak mungkin serius dengan ucapannya, kan?" gumam Celine.
Siapa yang tidak ragu dengan keputusan yang mana yang akan ia pilih jika yang satu seorang laki-laki dewasa mapan dalam segi apa pun menunggunya dengan setia, sedangkan di sisi lain, laki-laki yang telah lama di kejar nya malah seolah datang menawarkan pernikahan.
"Woy! Bengong aja! Jadwal meeting kita sebentar lagi loh!" lamunan Celine buyar karena Bayu yang mengagetkannya.
"ASTAGAH!! Apaan sih lo Bay! Ngagetin aja!" gerutunya dengan menumpuk kertas-kertas penting yang ada di atas meja kerjanya.
"Ya habis lo bengong, mikir apa sih? Mikirin gue ya?? Hayooo ngaku!" Bayu dengan sejuta kepercayaan dirinya berucap.
"Ish PD banget jadi orang! Dahlah meeting lima belas menit lagi!" cetus Celine dengan beranjak dari duduknya.
Gadis dewasa itu berjalan didepan, sedangkan Bayu mengekor dibelakang, keduanya beriringan memasuki ruang meeting yang sudah di isi beberapa kolega.
...πππππ...
Di rumah sakit...
Cakra yang terus-terusan mendapat keluhan dan juga omelan dari Kista manjadi pusing sendiri akhirnya.
CEO FG itu kini tengah duduk di dalam ruang ICU tepatnya di samping ranjang istrinya yang masih terbaring lemah di sana.
"Baby... Bangun dong, aku kangen." lirih Cakra dengan mengelus kepala Helen dengan sangat lembut.
Tak ada sedikitpun respon yang di dapatnya, "Sayang, kamu nggak pengen lihat baby twins kita? Dulu kamu lo yang ngebet banget pengen cepet-cepet punya baby." Masih dengan posisi yang sama, Cakra mengajak Helen yang sedikitpun tidak merespon dirinya berbicara.
Sudah hampir dua minggu lebih ini, Cakra selalu datang kekantor hanya untuk menyerahkan tanggungjawab meeting dan ketemu kliennya, setelah itu Cakra kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri tercintanya.
Di samping itu CEO FG itu juga harus mengurus kedua bayi kembarnya di rumah.
__ADS_1
Cakra tak menyangka dirinya akan dihadapkan oleh masalah sebesar ini, bayi-bayi mungil tak berdosa itu kini tengah tertidur pulas di box nya masing-masing.
Napas panjang sesekali dihirup Cakra kemudian di hembuskan dengan kasar, terlintas bayangan ketika Helen tersenyum kepadanya, menyiapkan segala kebutuhannya, bahkan walaupun dirinya terlampau dingin kala itu, Helen tetap profesional dengan kewajibannya.
Senyum wanita yang bergelar istri itu terus saja terbayang, akhirnya bayangan Cakra sampai pada ketakutan Helen yang sangat takut jika harus diduakan.
"Cak?" suara Alinda memecahkan bayangan Cakra seputar Helen, adik biologis Cakra itu kini berjalan memasuki kamar twins baby.
"Hem?" sahut Cakra dengan mengusap pipinya yang ternyata basah entah sejak kapan, bahkan laki-laki itu tak sadar sejak kapan bulir-bulir air mata itu meluruh pada pipinya.
"Lo rindu kak Helen ya?" Alinda menepuk bahu Cakra dan melihat wajah sendu kakaknya.
Hanya helaan napas kasar yang Alinda dapati, kakaknya kini tak lagi segarang dulu, Cakra terlihat kusut dengan wajah sedih nya itu.
"Jangan dipikirkan omongan Mama, Alin siap bantu jagain baby twins kok." berusaha Alinda menenangkan kakaknya.
"Thanks ya Al." hanya itu yang dapat Cakra ucapkan, tatapan mata Cakra pun masih tertuju pada kedua bayi mungil yang masih terlelap.
...πππππ...
Pasalnya Helen sudah tiga minggu lebih terbaring di rumah sakit, tak ada kemajuan sedikitpun, wanita dengan alat medis yang melekat pada tubuhnya itu sedikitpun tak memberikan tanda-tanda akan segera pulih.
Pagi ini Cakra duduk di samping Helen, seperti biasa, ia selalu mengajaknya berbicara dari hati.
"Sayang, kapan kau akan bangun? Lihatlah sekarang putra-putri kita sudah mulai berceloteh, apa kamu tidak ingin bermain dengan mereka? Sumpah demi apapun, mereka sangat lucu sayang, ayolah cepat bangun." bergumam sendiri Cakra dengan menunjukkan foto kedua bayi kembar yang ada di ponselnya.
"Sayang, cepat bangun atau mama Kista akan terus mendesak ku agar cepat menikah lagi." tak kuasa Cakra menitikkan air mata dan itu membasahi punggung tangan Helen yang sedari tadi digenggamnya.
Masih dengan kesetiaan yang sama Cakra selalu menjaga Helen di rumah sakit, akan terus seperti itu kegiatannya setiap hari.
Di sisi lain, tepatnya di kantin perusahaan, Bayu merasakan ada yang berbeda dengan Celine, gadis yang biasanya dekat dengannya itu kini semakin menjauh.
__ADS_1
"Woy Bay! Lo kenapa sih?" tanya Tomy yang kala itu mendapati Bayu tengah merenung sendiri.
"Nggak kok." singkat Bayu menyahuti.
"Udah deh lo jangan sekali-kali main rahasia-rahasia an sama gue!" ucap Tomy, kemudian ia menyesap kopi panas yang masih terlihat mengepulkan asapnya.
"Ya habis gimana ya, masa gue mau ngaku kalau gue..."
"Hai boleh ikut duduk nggak?" Celine tiba-tiba datang dengan membawa nampan yang berisi sarapannya pagi ini. Tomy dan Bayu memandangnya sejenak, lalu keduanya mengangguk secara bersamaan.
"Buset banyak amat porsi sarapan lo Cel!" cetus Tomy yang heran dengan porsi makan Celine yang sangat banyak.
"Gue sendiri juga nggak paham kenapa sih Tom, yang jelas gue kek nggak ada tenaga gitu kalau sampai gue kurang makan, bawaannya tu kek lemes-lemes mual gitu, meeting aja gue sempet-sempetin bawa cemilan." jelas Celine dengan memulai sarapannya.
Bayu yang mendengarkan sesekali menatap Celine, Bayu memang mengakui kalau Celine itu cantik, tapi hari ini seperti ada yang beda.
Pancaran wajah gadis itu semakin halus dan cantik saja, tapi sayang sifatnya tak sehangat hari-hari kemarin.
"Lo tadi juga mampir ke rumah Cakra Cel?" Tomy memecah keheningan pagi itu, ya... karena tidak mungkin jika Bayu yang mengajak Celine untuk berbicara, sudah pasti itu akan merusak suasana hati Celine.
Mungkin ada keajaiban pagi ini yang membuat Celine duduk dengan kedua bujang itu.
"Mampir, ya biasalah jengukin baby Barnes, dia tuh anteng sama gue, kalau Bryna, nggak mau dia sama gue." cetus Celine, yang membuat Bayu sedikit mengerutkan kedua alisnya.
"Jangan bilang lo mau ambil kesempatan di saat bos cantik belum sadar!" tuding Tomy yang dibalas senyum manis oleh Celine.
"Jangan ditanya lagi, lo tau sendiri kan gimana gue dulu ngejar-ngejar dia." sahut Celine yang sedikitpun tak memikirkan perasaan Bayu, Tomy sekilas memandang kearah Bayu, terlihat sobatnya itu mengalihkan pandangannya seolah dirinya tak mendengar ucapan Celine.
"Hemph..." Celin tiba-tiba menutup mulutnya, dan itu mencuri perhatian kedua bujang yang tengah asik dengan kopi hitamnya.
"Lo kenapa Cel?" tanya Tomy dan Bayu bersamaan.
__ADS_1
"Lo sakit?" tanya Bayu yang sudah tak dapat lagi menutupi rasa khawatirnya, tak menjawab Celin berlari menuju toilet terdekat, Bayu segera beranjak juga dari duduknya langkah kaki besar ia langkahkan untuk mengikuti Celine...