
Cakra dengan segala kepenatannya melangkah kan kakinya untuk memasuki hunian mewah yang tak lain adalah rumahnya terlihat sepi karena tak ada lagi suara dua bujang yang selalu mengusik telinganya.
Ya, setelah perbincangan dengan Tomy dan Bayu di kantor barusan, ia sedikit merasa sepi karena ternyata kedua sahabatnya itu memutuskan untuk menyewa apartemen yang tak jauh dari kantor dengan alasan banyak pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk bolak-balik kantor.
Mau tak mau Cakra mengijinkannya, "Huuuuhhh... sepi juga nggak ada Tomy dan Bayu." gumam Cakra dengan kaki panjangnya yang terus melangkah gontai menuju kamarnya.
CEO tampan itu tengah berdiri di ambang pintu masuk kamarnya, dilihatnya wanita cantik yang tak lain adalah istrinya itu tengah memegang benda tipis mirip sekali dengan balon panjang.
"Baby? Kau sedang apa?" tanya Cakra dengan mulai melangkah mendekati Helen.
Tersentak Helen segera menggenggam benda bertekstur seperti karet tapi berminyak dan lembek itu.
"Ha... Hah?! Ti... Tidak ada." sahut Helen gugup, wanita itu menyembunyikan benda yang di anggapnya permen itu di belakang tubuhnya.
Cakra tidak bodoh, ia tau istrinya tengah menyembunyikan sesuatu, laki-laki tampan dengan jambang tipis itu menaikkan salah satu alisnya, dan melangkah mendekati Helen yang semakin berdebar saja.
"Jangan bohong, kau tidak pandai berbohong." bisik Cakra dengan meraih lengan Helen dan di rabanya hingga ke jemari yang masih saling terkait satu sama lain.
"Ini apa? Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Cakra dengan jemari yang perlahan membuka kaitan antara jemari Helen yang menyembunyikan sesuatu.
Berdegub kencang jantung Helen, karena sebelum suaminya menegur, otaknya sempat menerka kalau barang lembek yang di kiranya permen adalah barang penghalang yang di pakai suaminya kemarin malam.
"Bu... Bukan apa-apa." kilah Helen masih dengan mengeratkan genggamannya.
Cakra mengulas senyum kemudian, "Kau membukanya?" Dengan tatapan mata, Cakra melirik pada sudut kasur yang tersingkap seprei nya.
Helen menarik nafas dan seolah lupa untuk menghembuskan nya, netra bulat itu mengedip dan melirik kesana-kemari.
Cakra mendekatkan wajahnya kearah telinga Helen, "Mau coba lagi?" Pertanyaan konyol itu membuat Helen tersentak dan sontak ia mendorong dada suaminya.
Entah rasa malu-malu masih saja ia rasakan jika suaminya bertanya tanpa filter seperti itu.
"Apaan sih? Mandi sana! Bau asem!" cetus Helen, sedangkan Cakra tertawa dengan terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah punggung Cakra menghilang di balik pintu kamar mandi, Helen dengan segera membereskan sekumpulan box-box kecil yang tak lain adalah bungkus benda penghalang yang baru saja ia anggap sebagai permen itu.
Dan salah satu box, ia foto menggunakan gawai canggihnya, demi memastikan, benda apa yang ia temukan di sudut kasurnya itu.
π€[Malam Mrs. Charoline? Apakah anda tau ini benda apa? bungkusnya seperti permen tapi, apakah di Negara ini ada permen semacam ini?]
__ADS_1
Pesan itu terkirim dengan gambar yang ia kirim terlebih dahulu.
Beberapa kali Helen menatap layar ponselnya kemudian menatap pintu kamar mandi, entah wanita itu sedikit was-was malam itu.
TING!!
Satu notifikasi pesan masuk terdengar, buru-buru Helen membuka pesan yang masuk itu, yang tak lain adalah pesan dari tetangga sebelahnya, Ny. Charoline.
π₯[Astaga Say, itu kon-dom! Apa kau baru melihatnya? Hey... Hidup dimana kau selama ini?! Hahaha...]
Terbayang sudah wajah Charoline yang pasti tengah menertawakan pertanyaan bodoh yang Helen kirim padanya.
Sedikit rasa sesal, kenapa ia harus bertanya kepada si nyonya hyp itu. Membanting ponsel Helen tak membalas pesan dari tetangga sebelahnya.
TING!
Terdengar satu notifikasi lagi yang membuat Helen ingin sekali mengumpat, "Itu pasti Mrs. Charoline, huh? Kenapa? Apa dia berharap aku akan membalas chatnya yang menertawakan ku?" bergumam sendiri Helen memaki ponsel nya.
Tapi wanita itu sedikit penasaran dengan pesan yang baru saja masuk, "Bagaimana jika itu pesan dari orang lain? Atau bisa jadi itu pesan ibuk?" gumamnya yang segera meraih kembali ponsel yang tadi dilemparnya.
π₯[Segera kau buang saja alat penghalang benih itu! Agar segera launching baby kecil kalian! Good luck Say π]
Tapi walau bagaimana pun saran dari beliau memang menguntungkan untuk Helen, tanpa pikir panjang, wanita istri CEO Frans Group itu segera membuang jauh-jauh box-box kecil itu sebelum suaminya keluar dari kamar mandi.
Berdandan syantik dan seksih tentunya Helen malam ini, memasang pose menggoda di atas ranjang berukuran king size nya.
Sudah pasti Cakra yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi segera menghampiri istrinya yang sudah siap menantikan dirinya.
Seperti malam kemarin keduanya memulai pergulatan panas dengan saling mencumbu, bahkan malam ini Helen terlihat lebih aktif dari pada malam kemarin.
Namun ketika gairah mulai memuncak, Cakra kembali mencari sesuatu yang biasa ia pasangkan di rudal keramatnya, tapi nihil, tak satu pun ia menemukan barang itu.
Karena Helen terus saja menempel pada nya, membuat CEO tampan itu tak kuasa untuk menahan hasratnya.
Cakra pun melakukan penyatuan tanpa alat penghalang, semakin semangat Helen, wanita itu tersenyum menggoda, di atas tubuh suaminya.
"Yeah... You'r very sexy honey, ough... " Bahkan Cakra sampai meracau mengungkapkan kata-kata manis yang membuat istrinya semakin menggila malam itu.
Gerakan-gerakan erotis mereka lakukan, bahkan encok yang Helen rasakan pagi tadi seolah tak pernah ia rasakan, mungkin hilang tertimpa rasa kenikmatan tiada tara ini.
__ADS_1
Hingga di penghujung kegiatan panas keduanya, tiba-tiba Cakra membalikkan posisi, menjadi Helen yang dibawah kuasanya, dengan hentakan dan goyangan yang membuat mereka melayang, semakin menjadi saja malam itu, dan sampai pada akhirnya...
"Tuan?!" Mengerutkan kening Helen melihat kelakuan suaminya yang sungguh menyebalkan, dan mungkin membuatnya merasa kegiatan yang melelahkan juga menguras keringat ini akan sia-sia.
"Tuan?! Kenapa di Cabut? Bahkan kau belum selesai!" protes Helen dengan nafas yang terengah-engah karena baru saja ia sampai.
Cakra menatap istrinya dan mengecup kening Helen, kemudian ia beranjak dari ranjangnya, langkah besar Cakra menuju kamar mandi.
"Shial!" umpat Helen.
Sungguh lagi-lagi Cakra merusak moodnya, wanita itu meringkuk dan menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya.
TING!
Terdengar satu notifikasi masuk ke dalam ponsel Helen, ingin sekali ia mengabaikannya namun lagi-lagi rasa penasaran hadir di dalam hatinya.
"Mama?" gumam nya ketika ia mendapati pesan dari ibu mertuanya.
Dengan jantung yang berdebar Helen membuka pesan itu.
π₯[Apa kalian besok bisa datang ke N.Y? Alinda pendarahan.]
DEGH!!!
Serasa di hantam batu besar, Helen merasa sesak didalam dadanya, masalah trauma suaminya saja belum sepenuhnya selesai, ya memang Cakra sudah mulai membuka hati untuk dirinya.
Tapi untuk melanjutkan ke jenjang momongan, CEO tampan itu masih takut jika sampai bayi tak berdosa itu akan mengalami hal yang sama seperti dirinya diwaktu muda.
Masih dalam tahap mencoba menghadirkan makhluk kecil di dalam rahim Helen saja dua kali wanita itu gagal, karena malam ini pun Cakra tiba-tiba mencabut rudal keramatnya itu.
Dan apa ini? Alinda yang belum lama menikah mengalami pendarahan? Bagaimana perasaan Cakra jika mendengar kabar ini? Akan kah ia lebih membatasi dirinya lagi atau malah ia takut untuk menyentuh istrinya?
CEKLEK!!
Pintu kamar mandi terbuka, Helen menatap sendu suaminya, "Ada apa sayang?" tanya Cakra dengan duduk di samping Helen, dan membelai surai panjang yang tergerai.
"Maaf, untuk yang tadi, bukannya aku... "
Belum selesai Cakra mengutarakan alasan nya, Helen lebih dulu menunjukkan isi pesan dari Kista, atau ibu biologis Cakra.
__ADS_1
"Apa?!...