Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 27 [PESTA]


__ADS_3

Mata tajam Cakra menatap tak suka kepada gadis yang saat ini tengah menahan lengannya.


"Jauhkan tangan mu dari ku!" dingin dan juga ketus, nada yang digunakan Cakra untuk menyahuti gadis yang menempel padanya itu.


"Ayolah Cak, lo jangan sok jual mahal deh, kalau emang lo itu bukan laki-laki be-lok!" cetus gadis itu yang tak lain adalah Celine.


"Cukup Celine! Saya datang ke sini hanya karena saya menghormati undangan orang tua mu! Tidak lebih!" Cetus Cakra dengan menghempas lengan Celine.


Tersenyum miring Celine mendapati sikap Cakra, ia melihat laki-laki idamannya itu berjalan dan mendekati seorang wanita yang sedari tadi asing dimatanya.


"Kurang ajar! Siapa dia?! ku pikir setelah Stela dijodohkan, akan berkurang satu saingan ku, ternyata malah bertambah!" geramnya dengan menghentakkan kaki kanan nya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Cewek!" dengan nada yang menggoda Cakra duduk di samping Helen, wanita itu melirik sekilas kearah CEO tampan yang tak lain adalah suaminya itu.


"Apaan sih! Kayak ABG aja!" gerutu Helen yang masih kesal.


"Kok gitu sih sahutan nya?" Cakra mendekatkan duduknya ketika Helen menggeser pantatnya menjauh dari Cakra.


"Ya lagian siapa suruh ninggalin, padahal bilangnya mau ngajakin." Cemberut wajah Helen.


"Apa?" Cakra menoleh kearah Helen, ditatapnya wajah cantik istrinya itu secara intens, "Kau bilang apa? Aku ninggalin kamu?" Sejenak Cakra menghela nafas.


"Yang ada kamu yang ninggalin aku! Kamu berangkat bareng Tomy kan?" ujar Cakra masih dengan menatap wajah Helen.


Tak perduli dengan kondisi sekitar yang mulai melirik kearah mereka berdua.


"Aku tadi masih di ruang kerja sayang, terus kamu yang ninggalin aku! Tadi papa telfon minta di kirimkan file." jelas Cakra dengan nada yang lembut, tak mau ia berbicara kasar di depan umum juga di depan wanita yang kini telah menjadi tambatan hatinya.


Perlahan Helen menatap Cakra kemudian lirikan mata bulat itu menyapu ke kanan dan kiri, ya... Saat ini merek tengah menjadi bahan gibah.


"Tuan... Apa kita menjadi pusat perhatian?" tanya Helen dengan lirih.


"He'em, mungkin." sahut Cakra dengan menaikkan salah satu alisnya, "Mau pindah?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Cakra dengan raut wajah yang mencurigakan.

__ADS_1


"Jangan macem-macem deh!" ketus Helen dengan suara yang berbisik.


"Nggak macem-macem kok... " Cakra mendekatkan wajahnya di telinga Helen kemudian berbisik, "Cuma satu macem."


Lirikan tajam segera Helen tujukan kearah wajah suaminya yang kini tepat ada disampingnya.


Wajah keduanya kini sangatlah dekat, bahkan hembusan nafas segar Cakra terhirup oleh indera penciuman Helen.


Merasai wajah nya memanas dan mungkin kini sudah terlihat memerah, Helen segera beranjak dari duduknya.


"Maaf Tuan, saya permisi ke toilet dulu." ucap Helen yang segera melangkahkan kakinya meninggalkan Cakra.


Tersenyum miring Cakra menatap punggung ramping yang tertutup surai hitam yang panjang itu.


"Hai Cak?" sapa seorang gadis cantik dengan gaun yang tak kalah mewah dari gaun yang dikenakan Helen.


Menoleh Cakra mendengar namanya dipanggil, "Ada apa?" aura dingin tiba-tiba saja merasuk dan memenuhi ruangan itu.


Namun bukan Celine namanya jika ia menyerah dengan sikap dingin Cakra, ya... gadis cantik itu sudah hafal betul dengan sifat Cakra, pria yang dulu hampir menjadi kekasihnya dan karena kesalahan dirinya yang mendua sebelum Cakra menyatakan perasaannya padanya.


"Cak, ini hari ulang tahun gue, lo nggak mau ngucapin apa gitu? Atau tiga kata yang akan membuat ikatan baru untuk kita." ucap Celine dengan duduk dan bergelayut manja di lengannya.


"Maaf! Aku tidak bisa! Dan... selamat ulangtahun untuk mu, semoga kedepannya, kau bisa lebih dewasa, menjalani hidup mu!" ucap Cakra, yang kemudian segera meninggalkan gadis itu.


Berjalan melewati seorang pelayan yang membawa beberapa minuman berwarna merah, Cakra menyambar satu gelas minuman yang berkadar alcohol sekitar 14% itu kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit.


Langkah gontai Cakra tertuju pada meja bartender yang menyajikan berbagai macam minuman di acara pesta itu.


TAK!!


"Berikan aku minuman yang sama!" ucap Cakra dengan datar, seorang laki-laki dengan sigap meraih gelas Cakra yang belum sepenuhnya kosong.


Tak mau membuat tamu undangan yang terlihat berkelas itu menunggu lama, seorang pra mutama bar itu segera menuangkan minuman berwarna merah kedalam gelas yang di sodorkan oleh Cakra.


Celine yang diam-diam mengikuti Cakra segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk mendekati CEO tampan yang terlihat sudah dipengaruhi minuman beralcohol itu.

__ADS_1


Namun terhenti langkah Celine ketika ia melihat ada seorang wanita dengan tampilan yang anggun dan menawan tengah berjalan mendekati Cakra.


"Tidak bisa dibiarkan!" gumam Celine dengan hati yang sudah mulai terbakar api cemburu.


Berjalan dengan cepat Celine meraih juga mencengkram lengah wanita yang hendak memapah Cakra


"Berani ya lo nyentuh cowok gue?!" teriak Celine dengan tatapan tajamnya.


"Cowok mu? sejak kapan?" enteng sekali wanita itu menyahuti ucapan Celine.


"Berani banget lo ya?! Lo nggak tau siapa gue?!" gertak Celine masih dengan mencengkeram lengan ramping itu.


Perlahan dan dengan santai wanita itu menepis cengkeraman Celine ditangannya.


"Kenapa? Baru pertama kali ada yang berani sama kamu?" Masih sopan wanita itu menyahuti ucapan Celine.


Termangu Celine tak dapat menjawab pemutaran ucapan barusan.


Saat Celine terdiam, wanita itu dengan segera memapah tubuh Cakra yang sudah teler akibat RED WINE yang diminumnya.


"Hey! Berhenti! Lo mau bawa kemana cowok gue?!" teriak Celine dengan satu tangan yang meraih pundak Helen.


"Maaf! Dia bukan cowok mu, dan juga perlu kau ingat! Dia suamiku!" ketus Helen dengan terseok-seok melangkahkan kakinya menuju basement.


Helen membawa Cakra untuk pulang terlebih dahulu, Helen tak mau jika sampai reputasi CEO tampan ini hancur hanya karena minuman beralkohol.


Setibanya di basement gedung itu, Helen segera meminta tolong kepada seorang security agar mengeluarkan mobil mereka dari jajaran mobil yang berparkir.


Helen duduk di bagian kemudi, lalu Cakra berbaring di jok mobil bagian belakang.


Dengan sangat hati-hati Helen mengendalikan setir lingkaran yang ada dihadapannya demi melajukan mobil milik suaminya agar selamat sampai tujuan.


Setibanya di rumah, Helen berniat untuk membuang kekesalannya, dengan bersusah payah membuatkan minuman dan makanan untuk mengurangi efek alcohol yang ada didalam tubuh Cakra.


Namun disaat Helen dengan asik nya bernyanyi dengan sendok sayur yang ia gunakan sebagai Mic, tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar indah di pinggang ramping nya.

__ADS_1


Tercengang Helen terkejut sampai ia terdiam, dan tak menoleh sedikit pun...


Yuk ramaikan dengan like dan komentar...


__ADS_2