Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 6 [Bertemu Malaikat]


__ADS_3

"Kau gila! Kenapa harus di habisi? toh dia masih Virgin!" samar-samar Helen mendengar nya.


Masih sangat penasaran gadis itu melangkahkan kakinya lebih dekat, agar suara yang didengarnya lebih jelas.


Tapi ternyata terlambat sepertinya Satria sudah mengakhiri panggilan nya, "Sudah gila kali si Cakra, apa susahnya coba buka hati dan terima Helen, toh dia sudah menyentuhnya, ini malah di suruh menghabisi nyawa yang tidak berdosa."


Menutup mulut Helen ketika mendengar gumaman Satria, gadis itu segera pergi ke kamarnya.


Semua barang-barang yang terlihat berharga ia kumpulkan, seperti outfit pemberian Cakra, ia foto kemudian dipostingnya di media sosial, pasti nya cepat laku, karena itu baju bermerek yang banyak di gemari kaum hawa.


Bahkan keesokan harinya saat ada kesempatan berbelanja bahan pangan untuk persediaan dapur, Helen mampir di toko perhiasan untuk menjual cincin tunangan dan cincin pemberian ibu nya bahkan perhiasan seperti kalung dan anting ia jual semua nya.


Dan terakhir, gadis itu berjalan menuju konter terdekat, ya di jual nya ponsel kesayangan nya itu.


Setelah mengumpulkan hasil jual menjual barang-barang pribadinya, Helen kembali ke kediaman Satria, gadis itu menata belanjaannya di tempat yang tersedia.


Bertahan hampir satu bulan lama nya, setelah mengumpulkan gaji mingguan yang lumayan besar akhirnya Helen memutuskan untuk segera pergi dari orang yang masih bersangkutan dengan Cakra itu.


Siang hari ketika kediaman pak dokter itu sepi Helen keluar hanya dengan membawa tas selempang kecil, gadis itu menuju bandara terdekat, ya tiket pesawat sudah di pesan nya semalam.


Kini gadis itu sudah duduk di dalam pesawat, ingin pergi jauh saja dan hidup seorang diri, "Maaf dok saya tidak bisa lagi menjadi ART di rumah anda." batin nya ketika pesawat itu lepas landas.


Perjalanan yang penuh dengan perasaaan yang tak tenang membuat Helen lelah dan akhirnya gadis itu tertidur.


Tak terasa gadis itu kini telah tiba di negara tetangga yang jauh dari negaranya sendiri, Helen membuka netra indahnya, mengedipkan mata melihat ke seluruh ruangan pesawat, terlihat semua tengah bersiap untuk turun.


Gadis itu yang tak membawa banyak barang hanya mempersiapkan hati dan mentalnya.


Turun dari pesawat Helen masih bingung, mau kemana dirinya, kenapa sejauh ini hanya menghindari cibiran tetangga dan juga laki-laki yang sudah menidurinya?


"Ah bodoh sekali, lalu sekarang bagaimana? Kenal siapa aku di sini?" gumam Helen dengan duduk di salah datu kursi tunggu.


"Excuseme, are you Indonesian?" terdengar suara wanita bertanya kepada Helen setelah gadis itu bergumam.


"Yes, can I help you?" sahut Helen berusaha ramah dengan wanita yang sudah terlihat tua namun masih dengan stylish yang segar dan modis.


"Akhirnya, aku menemukan orang yang mudah di ajak bicara." gumam wanita itu.


"Maaf bu, anda bisa..."

__ADS_1


"Ya... tentu saja, putra ku sering bolak-balik Indonesia." sahut wanita tua itu.


"Oh iya cantik, siapa nama mu?" imbuhnya dengan duduk di samping Helen.


"Helen bu..."


"No... No... No... jangan panggil aku ibu, aku ini sudah tua, mungkin kau seumuran dengan cucu ku, panggil aku nenek, ok!" sela wanita tua itu dengan tersenyum elegant.


"Baik nek, dengan nenek siapa?" memberanikan diri Helen bertanya.


"Friska." senyum ramah mengembang ketika wanita tua itu meyebutkan namanya.


"Oh iya, Helen mau kemana?" tanya Friska, sedangkan Helen hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Oh astaga! Jaga bilang kau..."


"Tidak nek, saya ingin mecari pekerjaan tapi ya begitulah, belum ada tujuan." sahut Helen.


"Maukah kau bekerja di rumah ku? jadi asisten pribadi ku, jadi kau hanya menemaniku kemanapun kau pergi." pinta Friska dengan memegang tangan Helen.


"Kau di negara asal mu, bekerja sebagai apa?" tanya Friska yang mula akrab dengan asisten barunya itu.


"Aerobik?" tanya Friska antusias, Helen hanya mengangguk mengiyakan ucapan bos barunya itu.


Keduanya asik berbincang, saling mengenal satu sama lain. Sungguh keberuntungan berpihak pada gadis itu.


Seperti bertemu malaikat yang membawa air, ditengah gersangnya gurun pasir, Helen merasa sangat beruntung karena dipertemukan orang sebaik Friska yang mau menerima dirinya bahkan memberikan nya pekerjaan.


Semakin semangat Helen untuk melupakan mantan kekasihnya yang mengkhianati dirinya, juga pria asing yang sempat bermalam dengannya.


"Baiklah kita mulai dari sini, aku yakin bisa hidup lebih baik di negara asing ini." batin Helen dengan senyum yang mengembang.


"Neneeeeekk!!!" Terdengar teriakan seorang gadis yang terlihat tengah berlari mendekati Helen dan Friska.


Helen hanya terdiam ketika nenek dan cucu itu saling berpelukan. Helen mengira kalau Friska akan melupakan dirinya, tapi ternyata tidak, nenek tua itu malah memperkenalkan dirinya kepada sang cucu.


Setelah berkenalan dengan orang-orang baik itu kini Helen ikut serta dengan mereka.


Menyusuri kota besar menggunakan mobil mewah dan duduk di sekitar orang-orang baik, membuat Helen seakan tak mempunyai beban hidup, bahkan masalah yang masih hangat di otaknya itu seolah hanyut entah kemana.

__ADS_1


Setelah hampir setengah jam lamanya mereka menyusuri jalan raya yang sangat ramai tapi tidak macet itu, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berbelok dan memasuki gerbang besi yang sangat tinggi.


Hunian mewah bak istana terlihat dari kejauhan, mobil yang Helen kendarai berhenti di halaman depan hunian mewah itu, "Gila, ini rumah apa hotel?" batin Helen setelah ia turun dari mobil yang ia tumpangi.


"Ayo kak, masuk!" ramah Alinda menggandeng tangan Helen, gadis dewasa itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Tampilan Helen.



Gadis dengan kacamata cupu itu berdiri di sisi cucu wanita tua tadi, "Oh iya, kakak tadi namanya siapa?" tanya gadis yang masih dengan setia memegangi lengan Helen.


"Helen." sahut Helen dengan senyum ramahnya pula, ia pikir tak perlu menyamar menggunakan nama lain, karena ia yakin di sini tidak ada yang akan mengenali rakyat sepele seperti dirinya itu.


"Aku Alinda, salam kenal ya?" senyum pepsodent Alinda suguhkan, kedua nya terlihat sangat cocok dan satu frekuensi.


"Ayo, ayo masuk!" ajak Friska yang melihat cucunya masih saja mengajak ngobrol asisten barunya itu.


"Iya nenek cantik." ucap Alinda dengan berjalan menuju pintu utama hunian mewah itu.


Tak lupa tangan Alinda masih menggenggam erat tangan Helen, sedangkan gadis berkacamata itu masih dengan celingukan menatap keindahan bangunan yang kini di hadapannya.


"Manusia apa mereka ini? kok bisa tinggal di gedung sebesar ini? Bahkan halamannya sangat luas, waaaahh... bisa mati kecapekan aku kalau harus menyapu halaman ini sendirian." batin Helen dengan mengedarkan pandangannya ke sana kemari.


CEKLEK!!!


Akhirnya pintu utama itu tertutup dan nampak lah laki-laki yang sudah berumur itu menyambut hangat Friska yang baru datang.


"Oh mungkin itu putra nya nenek Friska, secara Alinda memanggilnya Papa." mengangguk pelan Helen berusaha mengerti.


Setelah sambutan hangat itu semua masuk ke dalam rumah namun tidak dengan Helen, gadis itu di hadang oleh seorang laki-laki, laki-laki itu berdiri tepat di hadapannya.


BLEDAR!!!


Bagai tersambar petir di siang bolong, Helen terkejut bukan main setelah mendongakkan kepalanya dan melihat wajah laki-laki dihadapannya itu.


"Mampus aku!!...


Hai my readers, jangan lupa jaga kesehatan kalian ya? juga jangan lupa berikan like dan komentar terbaik kalian, see you next episode 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2