Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 16 [Terngiang]


__ADS_3

Setelah selesai makan malam Helen sedikitpun tak mengucapkan sepatah kata, gadis itu segera meninggalkan meja makan.


Di dalam kamar hanya dengan menyalakan lampu tidur, Helen kembali teringat kata-kata Cakra, "Ntar kalau lo kurus, gue yang kena marah." Selalu terngiang kata itu di dalam otak kecil Helen.


"Jadi bukan perhatian nyata yang ku terima?" terlihat Helen menghela nafas dengan mendongakkan kepalanya berusaha agar bulir bening yang memburamkan matanya tidak menetes.


Tapi tidak bisa, sesak hati gadis itu, entah mengapa ia merasa seperti terkhianati, tapi siapa? Dirinya sendirilah pelakunya.


"Goblok banget sih! Gitu aja baper! hiks..." Tak sengaja satu bulir bening berselancar di pipinya.


"Ini juga! Ngapain keluar?! Murah banget sih!" ucap nya sewot dengan mengusap kasar pipinya.


Berusaha mengembalikan keteguhan hatinya untuk tidak berharap lebih kepada sang suami, air mata tak tau malu itu malah semakin deras membanjiri pipinya.


"Duuuuhhh kok nggak mau berhenti sih nangisnya!!" kesal gadis itu mengusap terus air mata yang keluar tanpa permisi.


Hingga rasa kantuk menguasai gadis itu, Helen tidur dengan mata yang masih basah karena air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Sedangkan di ruang tengah Cakra bersama dengan Tomy dan Bayu tengah mengurus beberapa berkas-berkas penting yang mereka bawa pulang dari kantor.


"Gimana tadi?" tanya Cakra dengan mata tetap fokus menatap dokumen yang ada ditangannya.


"Gimana apanya?" tanya Tomy yang langsung menanggapi.


"Yang orang baru tadi." jelas Cakra.


"Oh yang tadi, sementara sih belum ada lowongan selain di kantor lo, gimana?" Tomy balik bertanya.


"Kalian ngomongin siapa sih?" tanya Bayu yang baru saja menyelesaikan merapikan dokumennya.


"Ferdi, yang mau kerja sama tadi loh, yang tadi lo ketemu di depan lift." jelas Tomy.


"Ooh... Gue pernah liat dia deh kayak nya, perusahaannya bagus juga kok, dia kayaknya sekarang lagi buka pemasaran baru deh, soalnya kalau nggak salah dia dari YUZU Group." jelas Bayu.


"Jadi gimana?" tanya Cakra.


"Bagus dia, peluang buat kita makin maju juga." jelas Bayu.


"Ya udah terima aja, tapi lo harus awasi dia!" ketus Cakra.


"Iya gue awasi kok." sahut Tomy.


"Awasi? emangnya kenapa?" tanya Bayu yang lagi-lagi ketinggalan informasi.


"Jadi CEO tampan kita ini tadi jelous, karena Ferdi mendekati juga ngajak ngobrol bos cantik." jelas Tomy.

__ADS_1


"Bacot lo Tom!" ketus Cakra dengan melempar pulpen ke arah Tomy.


PLETAK!!!


"Aduh!" Tomy mengaduh dengan mengelus keningnya yang terkena lemparan pulpen.


"Tapi Cak, jujur aja deh sama kita, lo tu sebenernya ada rasakan, sama bos cantik?" tanya Bayu kini dengan suara pelan dan raut serius.


"Apaan sih lo?! Sok tau!" kilah Cakra dengan menutup dokumen terakhir yang baru saja di bacanya.


"Bukan sok tau bro! Gini-gini kita tu cuma mau yang terbaik buat lo, mending los aja deh, jangan lagi dibentengi tu hati, toh sekarang bos cantik udah sah jadi bini lo." cecar Bayu.


"Siapa juga yang bentengin! Asli lo, sok tau!" sahut Cakra kemudian ia melihat jam yang melingkar ditangannya, "Oh udah malem, gih pada tidur! Gue juga capek, lo juga Bay, jangan nggremeng mulu, buru tidur!" cibir Cakra yang segera meninggalkan ruang tengah itu.


Cakra melangkahkan kakinya memasuki sebuah kamar, dan dengan nyaman juga santainya ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.


"Aaahhh... nyaman nya, semalem badan gue sakit semua tidur di sofa." gumamnya sebelum akhirnya matanya terpejam dan mulai melangkah menuju alam mimpi.


Pagi hari yang masih menunjukkan hawa sejuknya, Helen merasakan kehangatan yang sangat membuatnya nyaman, gadis itu mengusakkan kepalanya pada guling yang ada di sampingnya.


Semakin nyaman gadis itu ketika ia merasa benda yang ia anggap guling itu balik memeluknya, "Emmhhh... hangat sekali..." gumam Helen masih dengan mata yang terpejam.


Gemas dengan benda empuk yang di peluknya, Cakra semakin mengeratkan pelukannya.


Helen mulai merasa sesak, gadis itupun membuka matanya, melihat kondisi sekitar dengan mengucek kedua mata yang baru terbuka.


BRUGH!! Cakra kembali menarik tubuh Helen hingga gadis itu kembali menghambur kedalam dekapan Cakra.


"Ssshhhhtttt... diem! Gue masih ngantuk!" bisik Cakra dengan memeluk tubuh sintal nan seksi itu.


Membelalakkan mata yang belum lama terbuka itu, Helen mengedipkannya beberapa kali, gadis itu berucap dengan menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukan tangan kekar suaminya, "Tu... tuan, jangan seperti ini, nanti..."


"Ssshhhhhtttt... Bisa diem nggak? Apa emang lo sengaja pengen gue yang bikin lo diem?!" bisik Cakra dengan deep voice nya, ya sedikit serak-serak seksi suara Cakra berbisik di barengi dengan hembusan nafas yang menerpa telinga kanan Helen.


Terdiam sejenak Helen, berusaha main cantik, setelah dirasa pelukan Cakra mengendur, gadis itu berusaha lagi melepaskan diri, namun apa yang terjadi, kini malah Cakra terganggu karena gerakan-gerakan yang diberikan Helen.


SET!!!


Dengan gesit Cakra menarik tubuh Helen hingga gadis itu terlentang, kemudian Cakra menindihnya.


"Emang nggak bisa diem ya!" Cakra kini berada di atas tubuh Helen dengan menatap tajam gadis itu.


Terdiam Helen saat ini, entahlah otak gadis itu pun terdiam seolah nge-hang dengan apa yang dilakukan suaminya di atas tubuhnya itu.


"Tuan, anda bilang anda bukan penjelajah wanita bukan? Em..."


"Ya... memang bukan, tapi apa salahnya jika aku menjelajahi tubuh istriku sendiri?" sela Cakra dengan menatap gundukan kenyal yang terlihat menantang di bawahnya itu.

__ADS_1


"Tapi..." Terdiam Helen merasakan sesuatu mengganjal di atas paha mulusnya yang terekspos itu.


Tampilan Helen di bawah cahaya temaram lampu tidur juga tubuh seksinya yang di balut dengan lingerie berwarna gold dengan renda-renda hitam itu membuat Cakra semakin menggila.


Jangan lupa di balik sifat ketus juga dinginnya, Cakra masih laki-laki normal yang bernafsu menatap pemandangan indah itu.


Apalagi status sah pernikahan membuatnya semakin berani menyentuh gadis yang ada di bawah kungkungan nya.


"Lo sengaja ya? Pakai pakaian begini?" bisik Cakra dengan menarik tali lingerie Helen yang ada di dadanya.


SRET!!


Menyembul lah dua gundukan kembar dan kenyal, ketika tali yang di tarik Cakra berhasil terlepas dengan mudahnya.


Memerah wajah Helen, tangan gadis itu perlahan menutupi aset berharga yang berbentuk indah itu.


"Kenapa kau tutupi? Ingin kau perlihatkan kepada siapa memangnya ini?" tanya Cakra dengan mencekal kedua tangan Helen ke atas kepala gadis itu.


Semakin menggila Cakra melihat tubuh Helen dengan tangan yang terangkat ke atas kepala itu.


Entah kerasukan setan mana, kini Cakra berfantasi liar, laki-laki itu melepas T-Shirt yang ia kenakan dan mengikat lengan Helen.


"Tuan! Apa yang kau lakukan?!" Melotot Helen berusaha berontak.


Tak menjawab, Cakra malah mengaitkan tangan Helen yang terikat itu dengan besi yang ada di sandaran ranjang besar itu.


Nafas Helen naik turun menambah kesan seksi di sana, sedangkan netra tajam Cakra menatap setiap inchi tubuh istrinya itu.


Membelai setiap lekuk indah itu Cakra semakin terbakar gairah, "Tuan jangan seperti ini! Ku mohon! Kau menyakitiku!" ucap Helen dengan berusaha terus menggerakkan tangannya yang terikat.


Tak sedikit pun Cakra menghiraukan ocehan dari istrinya itu, "Tuan, apa kau takut aku akan menyerang mu? Bukan kah jika kau mengikat ku maka kau hanya akan seperti bermain dengan boneka?" cetus Helen, setelah ia berpikir ulang.


Cakra menatap wajah Helen, yang entah sejak kapan menurut nya wajah itu sangat cantik dan menggoda, *Mending los aja deh, jangan lagi dibentengi tu hati, toh sekarang bos cantik udah sah jadi bini* Terngiang kembali nasihat yang semalam Bayu ucapkan.


Terdiam cukup lama Cakra memikirkan kata-kata itu sampai akhirnya ia kembali melepas ikatan tangan Helen.


"Apa? Berhasil? Apa dia tersinggung dengan ucapan ku barusan? Ah, tapi bodolah yang penting aku terlepas dari nya." batin Helen dengan mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit.


Semakin bingung lagi Helen ketika melihat Cakra yang segera beranjak dari ranjang dan laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Ada apa dengannya?" gumam Helen masih dengan memandangi punggung suaminya yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, tepatnya didepan kaca wastafel, Cakra melihat pantulan dirinya sendiri, "Gue kenapa sih? Apa bener yang dibilang Tomy, kalau gue mulai ada rasa?" gumam Cakra.


"Nggak, nggak, nggak! Gue nggak mungkin ada rasakan sama tu cewek? Gue cuma seneng aja liat dia kelabakan, gue cuma seneng aja jahilin dia, iya cuma sebatas itu!" terdengar Cakra meyakinkan dirinya, didepan cermin.


Jangan lupa klik Favorit juga like dan komentar πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2