
Bagai tersambar petir di siang bolong, Helen terkejut bukan main setelah mendongakkan kepalanya dan melihat wajah laki-laki dihadapannya itu.
"Mampus aku!!" batin Helen dengan susah payah menelan saliva nya.
Masih berusaha tenang, Helen meyakinkan dirinya sendiri, kalau orang yang ada di hadapannya itu hanya mirip saja dengan laki-laki waktu itu.
"Cak, itu Kak Helen yang bawa Nenek loh!" teriak Alinda.
Semakin di buat lemas dan gemetar tubuh Helen ketika Alinda memanggil nama laki-laki dihadapannya itu dengan sebutan CAK yang pasti bisa berkelanjutan CAKRA.
"Ada apa? Kau tidak suka aku membawa gadis itu untuk bekerja di sini Nak?" tanya Friska.
Terdiam Cakra masih berdiri di hadapan Helen.
Alinda berjalan mendekati Cakra dan segera menarik lengan Helen untuk di ajak nya masuk, "Cak! Lo boleh galak sama gue tapi jangan sama kak Helen, dia jauh-jauh dari Indo kesini cuma mau bekerja, hargai sedikit lah usahanya!" gertak Alinda.
Tak mau menunggu jawaban dari Cakra Helen sudah dibawa Alinda menjauh darinya.
Masih dengan tertegun tak dapat berbicara sedikitpun, Helen hanya mengikuti langkah kaki Alinda.
Sekali lagi, Helen merasa bahwa dunia ini memang sempit, yang awalnya dia hanya di dekatkan dengan teman Cakra, kini malah seolah ia masuk ke dalam kandang macan.
Ya... walaupun keluarga Cakra baik padanya, tapi itu tak dapat mengurangi rasa takutnya pada Cakra.
Bagaimana jika dia punya kesempatan dan melenyapkan dia di sana?
Apakah nyawanya akan berakhir di negara asing ini?
Sungguh otak Helen penuh dengan terkaan-terkaan ketakutannya.
"Sudah nak, kau aman bersama ku, jangan kau hiraukan dia, dia memang begitu, keras kepala.!" ucap Friska dengan membelai punggung Helen yang tertutup rambut panjang nya.
Helen sedikit pun tak berani mengangkat kepalnya, otak nya sudah kembali tenggelam dengan masalahnya yang bersama Cakra.
Dilihatnya sekilas, laki-laki berjambang itu meliriknya tajam kemudian berjalan keluar dari dalam hunian mewah ini.
Tampilan Cakra Frankins.
Tak mau lagi Helen menatap punggung Cakra yang sudah tertutup daun pintu, ia kembali menundukkan kepalanya.
...πππππ...
__ADS_1
Di halaman samping, Cakra terlihat gusar, calon CEO FRANS GROUP itu terlihat mengusap wajahnya frustasi.
"Mau apa dia kemari? Atau jangan-jangan benar di mengandung?" pertanyaan-pertanyaan beruntun itu mengantri di dalam otak genius Cakra.
"Satria... oh iya lebih baik aku telfon Satria." gumamnya dengan mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya.
Menscroll layar gawai canggih itu, Cakra mencari nomor telfon Satria, setelah ketemu dengan segera ia melayangkan panggilan itu kepada sahabat sebestienya.
Cukup lama Cakra menunggu dengan mendengarkan nada tuuuuttt... tuuuuuttt... tuuuuuttt... yang merasuk ke dalam telinganya.
π"Halo? Cak? Ada apa?" terdengar sahutan suara dari balik sambungan telfon itu.
"Lo gimana sih?! Kenapa dia bisa di sini? bukan nya lo bilang kalau dia sudah lo amanin?!" gertak Cakra langsung pada intinya.
π"Sorry bro, gue juga nggak tau kalau ternyata Helen kabur dari rumah gue." mendengar itu Cakra memutuskan panggilan secara sepihak.
"Aaarrrgghhh!! Shial!! Kenapa dunia ini begitu sempit?!" geram Cakra mengacak rambutnya.
...πππππ...
Helen berusaha tidak mengecewakan Friska, gadis itu petang ini segera membantu para pelayan untuk menyiapkan menu makan malam.
Ditengah-tengah kegiatan memasaknya tiba-tiba satu persatu pelayan di sana meninggalkan dapur.
"Keluar, ada perlu." sahut salah satu pelayan.
"Terus ini gimana?" tanya Helen dengan menunjuk sayur yang bahkan baru setengah matang.
"Kamu lanjut aja!" sahut si pelayan yang sudah sampai di meja makan.
"Gimana sih?" gumam Helen yang mau tak mau segera melanjut kan memasak sendirian.
Hening yang di rasa, gadis itu merasa sedikit merinding karena hanya sendirian di dapur itu, Helen merasa ada sesuatu yang tengah mengintainya.
Gemetar tubuh gadis itu hingga ia tak bergerak sedikitpun, perlahan Helen menoleh dan...
"HUAAAAMMmmmpphhh!!!" teriak Helen yang segera di bungkam oleh seseorang yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Ssshhhtttt... Diam!" bisik pria dengan tatapan tajam yang tak lain adalah Cakra, mata Helen membulat sempurna, nafasnya naik turun.
Seketika ia ingat akan percakapan Satria saat menelfon.
"Oh ya Tuhan, akankah ia melakukan aksinya sekarang? Bagaimana ini, aku masih ingin hidup, oh Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, lindungilah aku, aku masih ingin hidup walau pun tidak dengan orang yang ku cintai." merapal do'a sepanjang deru nafasnya yang memburu, Helen sungguh ketakutan kala itu.
__ADS_1
"Lo ngikutin gue?" tanya Cakra dengan nada pelan nya, bahkan pria itu sesekali melihat ke belakang, mungkin takut jika ada yang melihatnya.
Masih dengan mata yang membulat Helen menggelengkan kepalanya, ya dia tidak menjawab karena mulut nya masih di bungkam oleh telapak tangan Cakra.
"Jangan bohong!" gertak Cakra dengan suara berbisiknya.
Helen mengedipkan matanya beberapa kali, dan sebelah tangan Cakra mendekati kacamata yang digunakan gadis itu.
Baru saja jemari kekar itu menyentuk kacamata yang nangkring indah di hidung bangir Helen sebuah suara mengejutkan keduanya...
"Duh kok haus sih!" Terdengar suara Alinda yang mungkin ingin mengambil minum di meja mini bar, reflek Cakra segera melepaskan Helen, dan kemudian secepat mungkin meninggalkan gadis itu sendirian.
Terlihat Alinda melangkahkan kakinya mendekati Helen yang masih berdiri di sudut dapur.
"Eh kak Helen, lagi apa kak?" basa-basi Alinda bertanya setelah Cakra benar-benar pergi dari ruangan itu.
"Eee... saya mau ambil minun non." ucap Helen yang sebenarnya salah, karena gadis itu tengah memasak sedari tadi, karena ada gangguan ya ia berdiri di sudut ruangan itu.
"Ooo... Ok deh, kalau gitu Alin duluan ya!" Setelah menenggak minuman yang baru saja ia tuang ke dalam gelas, Alinda segera berbalik dan berjalan keluar dari area dapur.
Sebelum kembali melanjutkan kegiatan memasaknya, Helen memeriksa kondisi sekitar, takut kalau sampai Cakra datang lagi.
"Haaaahhh untung non Alin datang tepat waktu." gumam Helen.
...πππππ...
Makan malam ini Cakra berusaha untuk biasa saja, ya terlihat berbeda penampilan Helen waktu malam itu dengan malam ini.
Sedangkan Helen selalu menghindar agar mata nya tidak bertemu dengan tatapan tajam Cakra.
"Cih segala pakai kacamata, lo pikir dengan begitu gue bisa anggap lo cewek polos." batin Cakra dengan sesekali menatap Helen yang masih menata makanan di atas meja makan besar itu.
Hening ketika semua sibuk dengan hidangan masing-masing, hanya suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring beling yang ada di atas meja.
Setelah selesai makan malam, satu persatu dari anggota keluarga itu meninggalkan meja makan, baru lah Helen dengan cekatan membereskan meja makan itu.
GREP!!
Tersentak Helen ketika tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, "Diam dan jangan berteriak!...
Duh siapa ini? Jangan-jangan...
Kita cari tau di BAB selanjutnya ya guys... jangan lupa like dan komentarnya π₯°π₯°π₯°
__ADS_1