
Hari itu Helen bersama dengan suami dan dua bujang, sahabat dari suaminya kembali ke Britania Raya.
Setibanya mereka di Bandara, Cakra mengajak kedua sahabatnya untuk menetap di rumahnya, dengan alasan, dia takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya yang tengah hamil muda itu.
Mau tak mau kedua bujang yakni Tomy dan Bayu menurut saja, toh pasti ada bonus di balik semua sikap menurutnya itu, termasuk makan gratis.
Sore ini Helen tengah duduk di teras belakang bersama dengan Charoline dan juga Agata.
Ketiganya memang tak sepantaran usia, tapi sangat nyambung saat bercerita, apa lagi ada Charoline dengan otak mesum nya, pasti semua dibuat tergelak oleh banyolan seputar s e x nya itu.
"Jadi gimana say? Kamu beneran hamil?" tanya Charoline dengan mengupas buah apel yang ada di tangannya, ya ketiga wanita itu kini hanya bersantai karena kondisi Helen yang tidak memungkinkan untuk berjingkrak-jingkrak.
Tersenyum Helen, "Iya, akhirnya saya hamil." sahutnya yang langsung mendapat ucapan selamat dari keduanya.
"Terus kamu nggak ngidam?" tanya Agata.
"Nggak sih, bukan saya, lebih tepatnya malah suami saya yang mengalami, sindrom couvade." jelas Helen yang membuat semuanya tertawa dengan lepas.
Bahkan Helen menceritakan jika Cakra hanya bisa memakan makanan yang di makan Helen.
"Jadi makanan apa pun suami mu tidak mau, kecuali makanan itu kau cicipi terlebih dahulu?" tanya Charoline dengan menggebu.
"Ya... begitulah." sahut Helen dengan senyum bahagianya.
"Ooouuuu... So sweet, tapi bagaimana jika suami mu ke kantor?" tanya Charoline lagi, kini dengan mulut yang mengunyah apel yang sudah di potongnya.
"Entahlah, itu masih besok, dan dia berencana untuk membawa ku." jelas Helen lagi, tak tertinggal lengkungan senyum masih menghiasi wajah cantiknya.
...πππππ...
Hari semakin gelap saja, sang surya yang panas tiada tara kini sudah berganti dengan rembulan malam yang membawa pasukan bintang kecilnya.
Di dalam hunian mewah itu, Helen tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk semua penghuni rumah besar itu.
"Baby? Kau sedang apa?" tanya Cakra yang tiba-tiba sudah memeluk istrinya dari belakang.
"Menyiapkan makan malam, memang nya di sini mau apa lagi?" ujar Helen dengan melirik sekilas suami tampannya.
"Kan sudah ku bilang, jangan capek-capek, nanti kita makan di luar saja." Ucap Cakra dengan menahan kedua lengan Helen yang baru saja akan meraih butiran telur ayam yang masih mentah.
"Tapi... "
"Kita makan diluar atau aku tidak mau makan sama sekali." Pemaksaan itu membuat Helen menghela nafas.
"Apa kau tidak malu? Bahkan kau memakan makanan sisa ku." Helen berbalik menatap suaminya, dengan tangan yang melingkar di leher kekar Cakra.
__ADS_1
"Tidak!" sahut Cakra singkat kemudian ia mengecup singkat bibir Helen, "Karena ini begitu manis." imbuhnya.
"Dasar, kang gombal!" cetus Helen dengan mendorong dada bidang suaminya.
Mereka segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang ada di lantai dua, guna bersiap untuk makan di luar, cara gaul nya dinner kali ya, atau nggak quality time tapi ada duo bujang yang ikut sih pastinya.
...πππππ...
Di dalam mobil Cakra mengendarai mobilnya, jujur saja semenjak mendengar bahwa istrinya hamil, CEO Frans Group itu tidak lagi mempercayai siapa pun, bahkan kemarin saat di Bandara N.Y calon ayah itu berpesan pada pilot nya untuk berhati-hati saat mengendalikan pesawat yang di tumpanginya.
Pilot profesional saja tidak dipercayai Cakra, apa lagi Tomy dan Bayu yang belum pasti SIM yang mereka miliki itu SIM hasil nembak atau SIM asli, tak mau su'udzon, akhirnya Cakra lebih memilih untuk mengendalikan mobilnya malam ini.
Setibanya mereka di sebuah Restaurant, keempatnya turun dari mobil dengan cara elegan, Helen berjalan berdampingan dengan Cakra, sedangkan Tomy dan Bayu bak bodyguard berjalan di belakang sepasang suami istri itu.
Ruang VIP yang sudah Tomy pesan sebelumnya lah tujuan mereka.
Ya... Tomy yang memesan dan itu juga pasti suruhan dari Cakra.
Makan malam kali ini pun berjalan lancar sampai akhirnya seorang gadis secara tiba-tiba masuk ke dalam ruang VIP tersebut.
"Celine..." lirih Bayu yang saat itu melihat Celine menggeser pintu kaca ruangan itu.
Mendengar suara Bayu menyebutkan nama gadis lain, Helen sontak menoleh dan iris mata itu mendapati wajah gadis yang tak asing di pandangannya.
Cakra hanya mengendikkan bahunya, "Biar in aja, bukan urusan ku! Sekarang aku lapar cepat sendok kan nasi itu untukku atau aku akan memakan nasi yang ada didalam mulut mu!" gertak Cakra yang tak mau momen makan malam nya dirusak oleh siapapun.
Bahkan Bayu dan Tomy hampir saja tak di anggap nya ada di sana, mereka berdua seperti nun mati diantara idgham billagunnah, ya... begitulah, ada tapi tak dianggap ada.
Sungguh Celine di buatnya malu karena sedikitpun Cakra tak memandang dirinya, akhirnya Bayu lah tempat perhatiannya beralih.
"Tn.Bayu, excuse me, boleh saya duduk di sini?" tanya Celine, pakaian gadis itu terlampau ketat, bahkan bongkahan kembarnya sedikit menyembul dan membuat kedua netra Bayu dan Tomy dapat melihat belahannya dengan jelas.
"Yes, ada apa?" tanya Bayu berusaha profesional dengan membenarkan posisi duduknya.
"Saya dengar nona Sarah mengundurkan diri, apa benar? Dan bagaimana dengan kedudukan sekretaris pribadi Tn. Cakra?" Sungguh pertanyaan itu membuat Bayu susah untuk menjawab, tapi ya mau bagaimana pun ia harus menjawab dengan profesional juga.
"Ya, kedudukan itu kosong. Apakah nona Celine akan melamar jadi sekretaris Tn. Cakra?" awalnya ucapan Bayu itu tidak serius tapi berbanding terbalik ketika Celine mengiyakan pertanyaan tersebut.
"Ya... Lagi pula saya tidak bekerja dan saya juga ada pengalaman di bidang itu." Sahut Celine dengan mata yang berbinar.
"Mampus gue!" batin Bayu dengan melirik ke arah Cakra yang masih asik dengan makanan yang Helen berikan padanya.
"Cak! Gimana ini? Ada yang mau ngelamar jadi sekretaris lo!" teriak Bayu yang berharap agar Cakra menolaknya.
"Ngelamar pekerjaan di kantor nggak di resto!" Sahut Cakra tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
Terdiam Helen mendengar ucapan Cakra karena wanita itu sedikit menguping pembicaraan Bayu dan Celine.
"Kenapa sayang?" tanya Cakra yang merasa istrinya ini berubah.
"Nggak! Aku mau pulang!" ucap Helen yang segera berjalan keluar, Cakra yang masih bingung segera mengikuti langkah kaki jenjang istrinya.
"Baby! Tunggu dong!" teriak Cakra dengan mengejar istrinya.
Celine tersenyum puas telah membuat suami istri itu berdebat bahkan Helen terlihat marah.
Helen berhenti dan berbalik menatap Cakra yang kini sudah berdiri di belakangnya, "Ada apa sayang? ngomong dong, aku mana paham kalau kamu diam saja?" cecar Cakra panjang lebar.
"Aku mau Mangga Dermayu, yang masih mengkel! Jangan yang matang juga jangan yang mentah!" cetus Helen.
Cakra terbelalak dibuatnya, dikiranya istri cantiknya itu merajuk karena apa, tapi ternyata ia menginginkan sesuatu.
"Tapi Baby, mana ada di sini mangga Dermayu?" tanya Cakra dengan memegang kedua pundak Helen.
Sebelah tangan Cakra menyelipkan anak rambut Helen yang menghalangi keningnya.
"Tapi aku pengen!" mengerutkan alis Helen berucap, sungguh Cakra bingung dibuatnya.
"Kamu cuma pengen mangga? Bukan marah karena masalah lain?" tanya Cakra.
Helen menggeleng, "Bukan mangga biasa, aku mau mangga Dermayu!" dengan menghentakkan kedua kakinya bergantian, Helen merengek.
Cakra melihat ke kanan dan kiri, "Ok, ok nanti kita suruh orang untuk mengirim mangga ke sini ya?" bujuk Cakra dengan berharap agar istrinya mau menunggu.
"Kirim aja Bayu! Sekarang!" cetus Helen dengan alis yang masih mengkerut.
"Mampus gue, malam-malam begini harus terbang ke Indo." gumam Bayu yang tak sengaja mendengar pembicaraan kedua suami istri itu.
"Nanti kita suruh pengawal yang lain aja ya? Bayu kan sibuk di kantor Yank." masih berusaha Cakra membujuk istrinya.
"Sibuk? Ya udah berangkat sekarang aja!" masih ngotot Helen.
Mau tak mau Cakra memohon agar bayu berangkat ke Indo demi mencarikan buah mangga Dermayu, keinginan si bos cantiknya.
Malam itu juga dua bujang itu berangkat...
"Hadeh... nasib-nasib." lirih Bayu.
"Makanya kalau ngomong di jaga, gue yakin bos cantik pasti cuma ngerjain lo kok! Toh yang ngidam diantara mereka kan si Cakra!" cetus Tomy yang malam itu juga menemani penerbangan Bayu.
"Njir!! Bener juga ya, tapi masa iya begitu Tom?" berpikir kedua nya kini sudah di dalam pesawat...
__ADS_1