
"Garis dua." Dua kata itu terucap dari bibir CEO tampan yang saat ini tengah memegang benda kecil, pipih, dan lumayan panjang itu.
Alat tes kehamilan itu membuat semua orang yang hadir menjadi penasaran, "Coba lihat!" ucap Alinda yang saat itu penasaran kemudian memajukan kursi roda nya dan merebut alat kecil itu.
"Waaaahhh, selamat ya Cak! Akhirnya lo jantan juga, gue bentar lagi jadi aunty dong." cetus Alinda dengan suara yang menggelegar.
Semua melihat hasil test itu secara bergantian, namun Cakra tak terlihat bahagia, ia merasa cemas, dan langkah lunglai kaki panjangnya ia ayunkan menuju kamar.
Helen yang menyadarinya segera menyusul suami nya, "Mah, kayaknya Cakra kurang sehat, jadi Helen permisi ya." Menunduk sopan Helen sebelum meninggalkan keramaian di depan kamar mandi dekat dapur itu.
Kista tak mau menghentikan langkah Helen, ibu dua anak itu hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
...πππππ...
Helen memasuki kamar yang pintunya sedikit pun tidak tertutup itu.
"Sayang?" Panggilan yang sangat ingin di dengar oleh Cakra itu, kini terucap dari bibir seksi istrinya.
Tapi kali ini CEO tampan itu tak menoleh sedikitpun, tapi Helen yang merasa mempunyai mood yang baik, ia mendekati suaminya.
Dipeluknya pinggang kekar itu dari belakang, Cakra terdiam, ia merasakan sentuhan lembut pada punggungnya.
"Apa kamu tidak suka dengan kehadiran calon bayi ini?" tanya Helen dengan menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya.
Tak mendapat jawaban, Helen hanya menghela nafas, "Apa kau berniat untuk mendapatkan anak dari wanita lain?" cetus Helen dengan tetap memeluk pinggang Cakra.
Kali ini Cakra menoleh, kemudian jemari kekar itu melepaskan kaitan kedua tangan Helen yang melingkar di pinggangnya.
Cakra menghadap ke belakang ia menatap wajah istrinya, di tangkupnya kedua pipi Helen, "Jangan lagi kau katakan itu!" ucap Cakra dengan suara setengah berbisik.
Helen melihat betapa mata tajam itu menyembunyikan segala ketakutannya, mungkin ada rasa takut kehilangan, mungkin juga ada rasa trauma yang begitu besar.
Helen tersenyum tipis, dan itu sangatlah manis di pandangan Cakra, "Shial!!" umpat Cakra dengan mengalihkan pandangannya.
Helen meraih rahang tegas yang masih berhiaskan jambang tipis itu, "Kenapa? Kau tak suka aku tersenyum?"
"Jangan menggoda ku disaat seperti ini!" ucap Cakra dengan menundukkan pandangannya.
Helen mengernyit, "Kau akan tergoda hanya dengan senyuman ku saja?" Sungguh geli rasa hati Helen, ingin rasanya ia tertawa, tapi sekali lagi ia mengingat, suaminya ini sedang tidak baik-baik saja, mana pantas dia mentertawakan rasa ketakutan suaminya.
"Baby!" ucap Cakra dengan memegang kedua pundak Helen, wanita cantik itu balas memandang suaminya tanda ia mendengar bahwa dirinya di panggil.
__ADS_1
"Kau tau? Ini saat tersenyum begitu manis, dan aku selalu tidak tahan untuk tidak melahapnya, dan kau tau sendiri, susah untuk hanya sekedar mencium mu saja, aku selalu menginginkan lebih." Masih setia menatap wajah ayu yang tak pernah membuatnya bosan, Cakra membelai pipi istrinya.
Helen tersenyum dengan kedua tangan yang mulai ia kalung kan di leher Cakra, "Jika ingin lebih kenapa tidak di lakukan saja?"
Helen yang memulai, wanita itu berdiri di atas ranjang, di depan Cakra dengan bertumpukan kedua lututnya.
Namun ketika Helen hendak menyatukan kedua benda kenyal nan lembab itu tiba-tiba Cakra menghentikannya.
"Stop Beib!" Jari telunjuk, Cakra tempelkan di bibir yang jujur saja Cakra ingin segera melahapnya.
Helen mengerutkan kedua alisnya, "Bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Aku takut, pasti dia begitu kecil di dalam sana." cecar Cakra dengan mengelus pelan perut Helen yang masih rata.
"Kita akan menjaganya bersama, bukan?" tanya Helen, dan ia mendapat anggukkan dari kepala Cakra.
Helen menunduk, netra indahnya menatap tangan suaminya yang dengan pelan dan penuh kelembutan mengusap perutnya yang bahkan masih rata.
Senyum manis kembali terlihat di wajah cantik istri dari CEO Frans Group itu, "Ya sudah kita keluar ya, pasti yang lain sudah sibuk menyiapkan semuanya, nanti malam pasti mau mengadakan acara makan-makan." ajak Helen.
Cakra menggeleng cepat, "Pasti bau! Nanti aku muntah lagi!" tolaknya dengan cepat.
Menghela nafas Helen mendapati kelakuan manja suaminya, "Nanti kita duduk di depan saja ya?" bujuknya dengan suara lembut, entah mengapa, Cakra malah menjadi lebih sensitif, bahkan lengkap dengan mual-mualnya ibu hamil.
"Aku mau istirahat sebentar saja di sini." gumam Cakra.
Ya... walaupun di larang oleh para keluarganya, Helen tetap membantu untuk pekerjaan yang ringan-ringan.
...πππππ...
Malam hari tiba, dibawah pancaran indahnya sinar sang purnama, juga langit cerah yang berhiaskan kerlap-kerlip cahaya bintang.
Keluarga besar Frans Group itu berkumpul dan mengadakan acara makan bersama.
Tentu saja di taman belakang, kursi dan meja makan tertata di sana, keluarga besar itu akan mengadakan makan di luar, di bawah hamparan sinar bulan.
Cakra duduk di samping Helen, di saat semua sudah mulai menikmati hidangan yang tersaji di atas meja makan, Cakra terlihat diam dengan menutup mulutnya.
Helen tak melupakan suaminya, wanita cantik itu menawarkan berbagai makanan kepada suaminya, sebelum dirinya meraih satu sosis bakar yang di bumbui dengan saus tomat dan juga mayones, kemudian digigitnya sosis yang masih hangat itu, bahkan masih terlihat mengepul asap tipis di bekas gigitan Helen.
"Baby, aku mau itu!" ucap Cakra yang membuat Helen menatap suaminya.
"Mau sosis juga?" Helen bertanya dengan meraih sosis lain yang ada di piring.
__ADS_1
"No! Aku mau yang ini!" sahut Cakra dengan meraih sosis yang baru saja di gigit oleh Helen, dan tanpa ragu Cakra menggigit sosis itu tepat dimana bekas gigitan Helen berada.
Melotot Helen, netra bulatnya melirik ke arah semua orang yang saat itu juga tengah terfokus pada pasangan yang mungkin sedang bucin-bucinnya itu.
"Tapi Cak, itu bekas gigitan ku! Lebih baik kau makan yang ini, ini masih utuh. " bisik Helen.
"Tidak! Ini enak, dan itu... " Cakra melirik sosis yang ada di tangan Helen.
"Itu terlihat, hemmm..." CEO tampan itu menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang hamil, siapa yang rewel coba?" cetus Alinda dengan di sambung gelak tawa semuanya.
"Ssttt Lin, nggak boleh gitu dong!" Krisna mengingatkan istrinya.
"Iya Al, lo nggak boleh ngetawain gue, awas aja lo ntar kalau Krisna juga ngalamin kek gue!" timpal Cakra, yang merasa terdukung oleh ucapan Krisna.
"Eh Astaga! Jangan dong Cak!" Krisna menolak mentah-mentah, walau pun itu belum terjadi.
Cakra hanya tersenyum, ada kepuasan tersendiri ketika ia mampu memutar balik kan keadaan apalagi itu dengan adik nakalnya.
"Beiiibbb!!! Jadi lo nggak mau kalau gue hamil, terus lo yang ngidam, kan itu sweet banget Baby, jadi keliatan sehati gitu." ucap Alinda yang ternyata diam-diam mengagumi hubungan kakaknya.
"Bukan gitu sayang..."
"Au ah males gue! Apaan sih! Jadi cowok baru gitu doang udah takut!" cemberut Alinda dengan kursi rodanya meninggalkan makan malam itu.
"Mah, Pah, Krisna pamit nyusul Alinda dulu ya." dengan sopan Krisna membungkukkan tubuhnya, kemudian ia mengejar istrinya yang merajuk.
"Hahaha... Ngambek dia." tawa puas terdengar dari Cakra.
"Haish... Kau ini suka sekali membuat adik mu marah-marah." ucap Frans dengan menggeleng pelan kepalanya.
"Salah sendiri mancing keributan!" cetus Cakra dengan menikmati sisa sosis bakar yang ada di tangannya.
"Oh iya, besok Cakra harus balik ke Britania Raya." imbuhnya setelah ia menghabiskan sosis bakarnya.
"Lalu Helen?" tanya Kista yang saat itu mengkhawatirkan kandungan menantunya.
"Helen sehat kan? Atau mau di sini aja sama Mama?" Kista kembali menawarkan.
"Tidak, tidak, tidak! Lagi pula kemarin Helen tidak papa kok ke sini!" sahut Cakra yang tidak mengijinkan istrinya tinggal di Manhattan.
__ADS_1
Helen istri yang patuh setelah mendapatkan kasih sayang yang impas untuk nya, ia tak mau membantah, toh suaminya sudah menitipkan benih yang kini telah tumbuh di dalam rahimnya...