
Karena sudah terpengaruh asap aneh dari ruangan sebelah, Cakra mulai mencumbu istrinya.
Dalam keadaan Helen baru saja kembali dari alam mimpi bumil itu merasakan gelanyar tak kala sang suami mulai mengecup dan menyesap ceruk lehernya.
Tak mau membuang kesempatan, Cakra tidak sedikit pun membiarkan dua gundukan itu menganggur, tangannya dengan perlahan mer-emas bongkahan kembar itu.
"Aku di atas Yank!" ucap Helen dengan mendorong tubuh suaminya agar terlentang, pasrah Cakra karena memang itu sungguh nikmat.
Dengan perutnya yang membesar tak mengurangi sisi seksi wanita yang kini telah berada di atas Cakra.
Bahkan servic yang Helen berikan kepada rudal keramat milik Cakra, membuat CEO tampan calon ayah itu semakin candu saja.
Tak tahan dengan goyangan erotis yang di lakukan Helen di atasnya, bahkan pemandangan luar biasa menggoda itu membuat Cakra tak tahan untuk diam saja, ia segera membalikkan posisi.
"Kau sangat seksi sayang." Bisik Cakra dengan melesakkan rudal keramatnya pada tempat yang seharusnya.
Hentakan-demi hentakkan Cakra lakukan perlahan, ia pun harus membatasi kegiatan yang bahkan dapat menghilangkan kendalinya itu.
Hingga sampai pada akhirnya mereka melepaskan bersama, dengan lenguh desah panjang, Cakra ambruk di sisi kanan Helen ia mengecup juga memeluk tubuh istrinya yang menurutnya semakin menggemaskan saja.
Terlelap sejenak keduanya, mungkin terlalu lelah dengan kegiatan panas barusan.
Setelah cukup beristirahat Cakra beranjak dari ranjang nyamannya dan melangkahkan kaki panjangnya menuju meja kerja.
Cakra terlihat sibuk dengan dokumen-dokumen yang ada di atas mejanya, sampai terdengar suara pintu ruangannya do ketuk oleh seseorang.
TOK-TOK-TOK...
Mengerut alis Cakra, jika sampai itu Celine maka ia sudah bersiap dengan segala penolakkan nya.
Jujur saja CEO utama Frans Group itu masih menaruh rasa jengkel setelah kebohongan yang Celine lakukan barusan.
"Masuk!" teriak Cakra akhirnya, dan terbukalah pintu ruangan itu dan muncullah sosok laki-laki dengan kemeja rapinya berjalan kearah meja Cakra.
"Ada apa?" tanya Cakra datar, sungguh hatinya merasa lega ketika ia tau kalau itu bukanlah Celine.
"Maaf Pak, ini harus di tandatangani, dan saya mencari sekretaris Bapak, dia tidak ada." Menunduk sopan staf kantor yang kini berdiri di hadapan Cakra.
"Aap harus sekarang, saya tandatangani?" tanya Cakra dengan meraih dokumen yang di ulurkan padanya.
Mengangguk sopan laki-laki itu, "Iya, Pak."
Menganggukkan kepala Cakra membuka setiap lembar dokumen itu, meneliti sebelum ia gegabah memberikan tandatangannya yang sangat berharga itu.
Didalam kamar pribadi...
Helen merasakan tidak nyaman pada perutnya, terasa mengeras, bahkan membuatnya susah untuk bernafas, jujur ini sangat sakit, hingga membuat wanita hamil itu terbangun dari tidur nyamannya.
Dilihatnya si sisi kanannya tidak ada siapa pun, bahkan di ruangan itu ia sendirian, berusaha sekuat tenaga wanita cantik itu bangun dari tidurnya, bahkan mengenakkan pakaiannya dengan menahan rasa sakit yang terkadang datang dan pergi.
__ADS_1
Baru saja Helen hendak memanggil suaminya, kini ia mendengar perbincangan di luar kamar itu.
Ya... Suara Cakra terdengar tengah berbincang dengan seseorang diluar sana, mungkin salah satu staf yang memberikan dokumen untuk ditandatangani.
Perlahan Helen berjalan keluar deng tertatih-tatih, bahkan tangan Helen berpegangan pada tembok dinding yang ada di sepanjang jalan keluar.
"Babyyyyhhh..." rintih Helen dengan bersandar di ambang pintu.
Menoleh Cakra ke arah sumber suara, "Ada apa sayang?" CEO bucin itupun segera beranjak dari kursi kebesarannya dan dengan segera mendekati sang istri yang sudah berwajah pucat.
"Sakiiiitttt..." keluh Helen dengan menggigit bibir bawahnya, mungkin begitu terasa sakitnya sampai raut wajah ayu itu berubah pucat pasi.
"Yang mana yang sakit?" tanya Cakra seolah ia siaga dan dapat mengobati rasa sakitnya.
"Sssshhhh... perutnya..." sahut Helen dengan tangan yang satu memegangi perut sedangkan tangan yang lain stay di pinggang.
Cakra dengan perlahan menuntun Helen agar duduk di sofa, sedangkan karyawan laki-laki tadi merasa kikuk melihat kebucinan CEO utama perusahaan besar itu.
"Hey kamu! Tolong panggilkan Tomy atau Bayu! Suruh dia kesini sekarang!" Perintah Cakra segera di lakukan oleh staf yang ada di ruangannya tadi.
"Siap, Pak!" ucapnya seraya berlari keluar ruangan.
"Sabar ya sayang." ucap Cakra dengan mengelus perut besar yang sedikit mengeras itu.
Mengangguk Helen dengan mengatur nafas panjangnya, "Ini udah mendingan Yank." lirih Helen dengan membenarkan posisi duduknya.
Cakra juga merasakan perut yang berisi baby calon pewaris FG itu mulai sedikit melunak, setidaknya tidak keras seperti tadi.
Di sisi lain...
Anton atau staf kantor yang baru saja diperintahkan oleh Cakra untuk mencari Bayu dan Tomy tengah berjalan menuju ruangan duo bujang itu.
TOK-TOK-TOK... terdiam cukup lama Anton berdiri di depan pintu ruangan yang sebenarnya tidak tertutup itu, tapi tak berani juga ia memasuki ruangan itu tanpa ijin dari si empunya.
"Kok sepi ya?" sedikit lancang Anton melongokkan kepalanya ke dalam pintu dan di sana tidak satupun orang dijumpainya.
"Apa mungkin mereka masih diluar mencari makan?" gumam Anton yang segera pergi dati ruangan Bayu dan Tomy.
Tapi ketika ia kembali ke ruangan CEO utama, dirinya dipertemukan dengan Bayu yang saat itu berjalan bersama Celine.
"Kalian? Dari mana saja? Istrinya Pak Cakra sakit." ujar Anton memberitahukan.
Bayu segera tanggap, "Sakit bagaimana? Apakah mau melahirkan?" tanya Bayu yang sedikit khawatir, karena saat ini Tomy pasti belum kembali ke kantor.
Bagaimana tidak khawatir, di negara yang jauh dari pelukan orang tua Cakra hanya dekat dengan Bayu dan Tomy.
Bayu segera beranjak menuju ruangan Cakra, "Gue ikut!" ucap Celine dengan menahan lengan bujang tampan itu.
"Buat apa! Ntar yang ada lo malah..." terhenti ucapan Bayu karena raut wajah Celine yang saat itu menunjukkan ketulusannya.
__ADS_1
"Setelah yang tadi, lo nggak percaya sama gue?" bisik Celine yang hanya dapat di dengar oleh Bayu.
Menghela napas, Bayu akhirnya menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan Celine untuk ikut masuk ke ruangan Cakra.
Ketiganya masuk ke dalam ruang CEO utama perusahaan FG.
Raut khawatir tergambar jelas di sana, sedangkan yang di khawatirkan terlihat baik-baik saja, Helen tengah menikmati buah anggur dengan duduk di sofa.
"Apanya yang sakit? Orang baik-baik aja gitu!" ucap Bayu mengomeli Anton.
Helen dan Cakra saling pandang sejenak, kemudian Cakra yang kini angkat bicara.
"Sorry Bay, tadi emang perut Helen sakit, dan ini udah mendingan sih." jelas Cakra.
"Gue tinggal deh, kalau gitu!" ketus Bayu yang merasa dibohongi.
Bagaimana tidak jengkel, Bayu sedang menikmati suasana hati baru yang tak lagi dirundung sendu sembilu yang sempat melukai kalbu, tiba-tiba mendapat kabar yang mampu mempermainkan ritme detak jantungnya.
Lalu ternyata yang di khawatirkan malah terlihat duduk bersantai dengan memakan buah segar.
Tapi baru saja dua langkah kaki Bayu meninggalkan ruangan Cakra tiba-tiba...
"Aahhh... Sa... sakit Baby... Auwhhh... emmhhh!!!" kembali raut wajah Helen memucat dan perut besarnya mengeras.
Bahkan Napas Helen seolah tercekat, bumil itu terlihat susah mengatur napasnya.
Celine yang sesama perempuan mendekat dan membantu Helen untuk berdiri, "Pelan-pelan Cel!" ucap Cakra yang khawatir dengan istrinya.
Bayu pun juga khawatir, bagaimana jika tiba-tiba Celine melukai Helen, toh beberapa jam yang lalu hati Celine masih menyimpan rasa kepada Cakra.
Tapi ternyata Celin menyuruh Helen untuk membungkuk dan berpegangan pada sandaran sofa.
"Rileks Nyonya, ini hanya sebentar." ucap Celine dengan mengelus perut besar Helen yang mengeras.
Bayu dan Cakra terus menatap Celine, apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu?
Mungkin begitu pertanyaan yang ada di dalam otak kedua laki-laki itu.
"Hey! Apa-apaan kalian memandang ku seperti itu? Aku tidak akan memakan nya, santai saja!" teriak Celine yang merasa dirinya terus diperhatikan.
Bersamaan Bayu dan Cakra mengalihkan pandangan, "Oh astaga! Apakah laki-laki semua sama saja? Hanya mau enaknya tapi giliran seperti ini tidak tau harus berbuat apa?!" geram Celine, tapi kedua tangannya masih mengelus perut buncit Helen.
"Lalu kita harus apa? Jika istri ku saja sudah tenang dengan kau elus begitu perutnya." sahut Cakra yang sebenarnya bingung mau berbuat apa.
"BODOH!! Istri mu ini kontraksi, kemungkinan sebentar lagi dia akan melahirkan!" geram Celine, gadis itu tak segan mengucap kata sarkas kepada atasannya.
"Cepat siapkan mobil! Kita bawa ke rumah sakit sekarang saja." ucap Celine menginterupsi.
Dengan segera Bayu mempersiapkan mobil sedangkan Cakra dan Celine memapah Helen untuk berjalan keluar.
__ADS_1
"Masih bisa jalan kan?" tanya Cakra khawatir.
"Masih, ini mendingan." Sahut Helen dengan memegangi perutnya...