Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 43 (The Baby Twins B)


__ADS_3

...Barnes Frankins & Bryna Frankins...



Di dalam ruangan khusus bayi, Celine dan Bayu menjaga kedua bayi mungil kembar yang berbeda gender.


"Lihatlah Bay, mereka begitu mungil, dan kecil, lucu sekali." lirih Celine dengan suara pelannya, mungkin gadis itu takut jika suaranya akan mengganggu ketenangan bayi kembar itu.


Belum tertera nama kedua bayi itu, hanya tertulis Ny.Helen & Tn.Cakra begitulah yang menandai box si kembar itu.


"Lo mau? Bagaimana kalau kita bikin lagi, satu aja dulu." goda Bayu dengan menancapkan dagunya di pundak Celine.


"Ish! Nggak ya! Cukup sekali itu saja sebelum lo halalin gue!" cetus Celine dengan mencubit perut Bayu.


"Aduh! Kok dicubit sih!" keluh Bayu dengan mengelus perutnya yang terasa berdenyut.


Mereka bercanda didepan box bayi, sampai akhirnya Bayu memeluk tubuh Celine dari belakang dan menahan pergerakkan kedua tangan gadis itu.


"Iiihh lepasin!" masih dengan tawa yang tertahan Celine berusaha melepaskan Bayu.


"Lo yakin mau gue halalin?" tanya Bayu di samping telinga Celine.


Terdiam gadis itu, entah mengapa jantungnya berdetak, ini pertama kalinya hati gadis itu bergetar selain dengan Cakra.


Ya... Bayu adalah laki-laki lain yang mampu meluluhkan gadis arogan itu.


Bungkamnya Celine membuat peluk erat yang Bayu berikan mulai merenggang, mungkin laki-laki itu merasa kehilangan percaya dirinya.


Celine merasakan tangan Bayu mulai melepaskannya, "Bay!" lirih Celine dengan berbalik menoleh kearah Bayu.


Bujang tampan itu masih setia menatap wajah cantik gadis yang ada di hadapannya, "Kasih gue waktu, buat nentuin pilihan gue, gue nggak mau gegabah yang akhirnya bakal nyakitin lo." ucap Celine.


"Gue ngerti kok." senyum tipis Bayu tampilkan di sana.


Menoleh keduanya ketika mendengar suara derap langkah kaki mendekat, "Kalian di sini? Lalu dimana Cakra?" tanya sang pemilik suara yang tak lain adalah Tomy.

__ADS_1


Laki-laki itu baru saja tiba karena menjemput keluarga Cakra terlebih dahulu.


"Bos Cakra masih mengurus istrinya, tadi kami sempat mendengar kalau bos cantik kehilangan kesadaran, dan di pindahkan di ruang ICU." jelas Bayu.


Mereka semua mendengarkan penjelasan yang Bayu ucapkan, "Jadi dimana cucu ku?" Kista menyela, wanita paruh baya dengan tampilan modis itu berjalan mendekati box bayi yang ada di belakang Celine.


Pandangan sendu terarah kepada dua bayi lucu yang masih terbungkus rapi kain bedongnya, sesekali terdengar helaan napas panjang dari keluarga Cakra.


Bagaimana hati ini tidak trenyuh melihat dua malaikat kecil yang begitu lucu, tapi bahkan ibu biologisnya saja belum melihat rupa cantik dan tampannya.


Helen masih koma, belum sedikitpun ibu dua anak itu menunjukkan pergerakkan nya, Cakra mengelus surai hitam istri yang masih setia memejamkan kedua netra nya.


"Sayang, bangun, apa kau tidak penasaran seperti apa rupa lucu baby kita, dia harus segera diberi nama Yank." gumam Cakra dengan duduk di kursi yang di sediakan tepat di samping ranjang Helen.


"Kau bilang akan memberinya nama, Barnes dan Bryna, ayolah, buka matamu dan lihatlah, mereka sangat lucu." Cakra terus mengajak Helen berbicara, tapi seperti biasa, tak ada sedikitpun respon dari istri tercintanya.


Semua alat masih setia menempel di dada dan tangan, bahkan selang oksigen terpasang dengan rapi demi membantu proses pernapasan wanita yang belum menemui kesadarannya itu.


Sudah hampir seminggu lamanya Helen di rawat di rumah sakit dengan kondisi yang seperti mayat hidup itu.


Bayi yang ada di dalam gendongan Kista terus menangis, mungkin dia lapar, pagi itu Celine mampir untuk meminta tanda tangan kepada atasannya yang tak lain adalah Cakra.


"Uuutututu tayang Barnes kenapa? Kok nangis?" Celine mengambil alih bayi kecil itu dari tangan neneknya.


"Entahlah Cel dia mudah sekali menangis tidak seperti Bryna, yang terlihat lebih anteng." keluh Kista dengan menyerahkan bayi lucu itu untuk digendong Celine.


"Jangan dibandingkan Mah, gender mereka berbeda!" ketus Cakra yang baru saja datang dari arah dapur, terlihat di tangan CEO perusahaan FG itu membawa dua botol susu.


"Memang mereka berbeda Cak!" cetus Kista yang kurang menyukai bayi laki-laki yang cukup rewel itu.


"Ya walau pun begitu mereka anak Cakra semua Mah! Kalau Mama nggak bisa bantuin jaga baby twins, ya udah Cakra cari baby sister aja!" Cetus Cakra dengan memberikan botol susu kepada Celine, sedangkan gadis itu dengan sigap menerimanya, dan segera memberikan susu formula itu untuk Baby Barnes.


Sedangkan satu lagi botol susu, Cakra berikan kepada Baby Bryna yang stay di stroller bayi.


"Halah ketimbang kamu bayar mahal-mahal baby sister mending kamu menikah lagi saja! Biar anak kembar kamu ini ada yang ngurus!" cetus Kista.

__ADS_1


"Mah! Di rumah sakit sana, di ruang ICU Helen sedang berjuang untuk tetap kembali pada kita, Cakra nggak suka ya Mama bahas masalah itu lagi!" nada tinggi itu membuat Alinda dan Krisna yang tengah sibuk memasak di dapur berjalan keluar, "Ada apa ini?" tanya Alinda.


Alinda menatap bingung Kista dan Cakra yang sepertinya baru saja berdebat hebat.


"Mah, ada apa?" tanya Alinda dengan pelan.


"Kakak kamu itu, Mama kan cuma menyarankan, kenapa harus buang-buang duit buat bayar baby sister, kalau yang lebih baik dari itu saja ada!" Kista menjelaskan.


"Kakak mau memperkerjakan baby sister? Buat apa kak? Toh kita ada di sini, kita bisa bantu kakak, kebetulan Krisna dipindah kerjakan di dekat sini." jelas Alinda.


"Bukan itu yang membuat kakak marah Al!" sahut Cakra yang masih tetap fokus pada Baby Bryna.


"Terus?" Alinda berjalan dan duduk di sofa, di samping kakaknya.


"Mama bilang, dari pada bayar baby sister mending kakak nikah aja lagi, biar ada yang jagain baby twins." lirih Cakra.


"Apa?!" terkejut Alinda mendengar alasan itu, "Tapi bener kan Al? Harusnya memang begitu, lah kalau Helen cepat bangun mah nggak papa, lah kalau nggak bangun-bangun, perusahaan mau kamu kemana in? Juga bayi-bayi kamu ini mau di urus sama siapa?" Kista terus saja menyuruh Cakra untuk menikah lagi, dan itu membuat otak Cakra seolah meledak.


Pagi itu Cakra menitipkan kedua baby B kepada Alinda dan Krisna, setelahnya CEO tampan itu harus menghadiri rapat penting, kemudian barulah ia bisa menjumpai istri tercintanya.


Didalam mobil...


Cakra yang sedari tadi diam saja membuat Celine, memanggilnya, "Cak?"


Tidak ada panggilan yang membatasi kedudukan keduanya, "Hem?" sahut Cakra yang duduk di kursi kemudi.


"Coba lo pikir lagi deh, sebenarnya saran dari tante Kista itu nggak salah salah banget kok." Celine berusaha agar Cakra tak membenci ibu biologisnya itu.


"Dah lo diem aja nggak usah banyak bacot!" cetus Cakra.


"Tapi dengerin deh, lo itu CEO utama tanggung jawab lo banyak, dan baby twins juga butuh sosok ibu yang bisa menjaganya." cecar Celine dengan menatap Cakra yang kini duduk di sampingnya.


"Terus lo setuju sama pendapat Mama?" tanya Cakra dengan mata yang fokus ke jalanan.


"Ya... setuju nggak setuju sih, lagi pula lo untung banyak, pertama baby twins ada yang jaga, terus perusahaan nggak terbengkalai, juga kebutuhan pribadi lo ada yang layanin." bisik Celine dengan dibumbui tawa agar tidak terdengar serius.

__ADS_1


"Terus kalau gue setuju buat kawin lagi, siapa yang mau kawin cuma buat jagain baby twins, Lo mau?!" ketus nada yang digunakan Cakra tapi itu cukup membuat pipi Celine memerah...


__ADS_2