Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 45 [Siuman]


__ADS_3

Masih dengan kegiatan yang sama, hati yang sama, status pun masih sama, rasa sayang bahkan bertambah, juga harapan yang masih kuat juga do'a yang tak akan pernah putus, hanya waktu yang terus berlalu, tak mau sejenak saja untuk berhenti menemani hati yang masih berhenti di satu sisi.


Seperti embun yang mencintai daun, juga seperti akar yang tak mendendam bunga yang mekar.


Begitulah Cakra, sang CEO tampan yang terus setia kepada istrinya, pagi itu entah mengapa Cakra enggan untuk bangun dari tidurnya.


Masih asik didalam dunia mimpi yang entah menceritakan kisah apa.


Dering gawai canggih yang ada di atas nakas sedikit pun tak mampu menembus labirin telinga Cakra.


Gawai canggih itu sudah berulang kali berdering tapi sang empu masih saja mengacuhkannya, sepertinya semangat Cakra mulai memudar, karena pagi ini harus ia putuskan, harus memilih menikah dengan Celine atau Kista akan membagi si kembar baby B untuk yang satu di asuh Alinda, semata hanya untuk kebaikan Cakra.


Lihat saja, CEO yang dulunya gagah nan tampan, kini menjadi kurus dengan bewok yang lebat, bahkan mata cekung dengan lingkaran hitam mulai terlihat di wajah Cakra.


Genap satu tahun sudah ia mengurus kedua bayi nya juga istri yang tak kunjung sadar dari koma panjangnya, bahkan perusahaan juga tak mau di abaikan.


"Daddy?" suara malaikat kecil yang kini tengah bermain-main di punggung Cakra sedikit mengusik ketenangan Cakra pagi itu.



"Daddy, wake up Daddy!" suara kecil dengan celoteh khas anak kecil mbuat Cakra kembali menemukan semangatnya.


"Hem... Yes Bryna, ada apa sayang?" Cakra berbalik dan menatap kedua bayi nya yang kini sudah tumbuh besar.


"Lihatlah Helen, senyum mu tertanam diwajah ceria mereka, bahkan binar mata mu ada di sana, apa kau tidak tertarik untuk menghabiskan hari-hari untuk bersama kita? Apakah masih nyaman kau berbaring di ranjang yang bahkan jauh dari kata nyaman itu, jika boleh aku meminta, agar waktu di putar kembali dan aki tidak mau kau mengalami semua ini, tapi...


Jika melihat kelucuan kedua buah hati kita ini, rasanya aku seperti manusia yang tamak, aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian, maka dari itu, kumohon kembalilah sayang, mari kita habiskan sisa hidup ini bersama."


"Dad-Dad... Mom-Mom..." celoteh baby Barnes memang berbeda, dia tak sepintar Bryna, bayi laki-laki itu lebih aktif bergerak dari pada berbicara.


"Hem, Barnes mau ketemu Momy?" dengan lembut Cakra membelai kepala Barnes yang ditumbuhi rambut-rambut yang masih halus.

__ADS_1


Terlihat balita itu menganggukkan kepalanya, "Beena duga, Daddy ayoooo..." timpal Bryna dengan bahasa yang lebih jelas dari Barnes.


"Wait in here! Daddy mandi dulu ya sayang, awas jangan kemana-mana!" titah Cakra dengan bahasa yang ia ucapkan dengan sangat jelas, dan disambut oleh anggukkan kepala kedua baby twins dengan beberapa kali anggukan kepala.


Cakra bersiap-siap, CEO Frans Group itu meninggalkan kedua balita kembar itu diatas ranjangnya.


Sebagai ayah siaga Cakra tak memerlukan waktu lama untuk bersiap-siap.


Kini bapak dua anak itu sudah rapi dengan kemeja merahnya, tak lupa ia juga menyiapkan kedua putra-putrinya setampan dan secantik mungkin.


"Sudah siap semuanya?" tanya Cakra memberikan semangat kepada dua balita yang sudah, "Yes Daddy, I'm ledy(Yes Daddy, I'm ready!)" sahut Bryna dengan semangat.


Barnes hanya melompat-lompat dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalian mau keman?" tanya Kista yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamar Cakra.


"Anak-anak ngajakin ke rumah sakit Mah." sahut Cakra.


"Tapi Mah, mereka mau bertemu dengan Mommy nya." jelas Cakra.


"Terus mau kapan kamu ngurus pernikahanmu dengan Celine, cepat atau lambat figur seorang ibu itu perlu Cak untuk anak-anak mu!" tegas Kista.


"Haaaahhh... Bisa nggak Mah jangan ngomongin itu dulu! Pusing kepala Cakra." ketus Cakra berucap.


"Dah Cakra pamit! Sayang salim dulu sama nenek!" tetap Cakra mengajar kan sopan santun kepada kedua balita yang masih nurut itu.


Dengan mengendarai mobil mewah miliknya Cakra mulai membelah jalanan menuju rumah sakit dimana istri tercinta dirawat di sana.


Setibanya di rumah sakit...


Cakra seperti biasa duduk dengan mengajak Helen berbicara walaupun dirinya tak merespon, sedangkan keuda balita lucu itu bermain di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Sayang, aku bosan jika harus terus didesak untuk segera menikahi Celine, bagaimana jika benteng pertahanan ku runtuh, apa kau ikhlas jika suami mu ini beristri dua? Ayolah beib, bantu aku, kita bertahan bersama, jangan aku sendiri seperti ini, aku bukannya keberatan mengurus anak-anak, tapi aku juga merindukanmu!" gumam Cakra, tak lupa bulir bening itu juga membasahi punggung tangan Helen, 1...2...3... tetesan air mata itu membuat jari telunjuk Helen bergerak.


"Sayang? Kau mendengar?" Cakra yang kembali melihat telunjuk Helen bergerak mendadak panik dan segera menekan tombol Nurse Call yang ada.


Tidak sampai hitungan jam, seorang dokter dan beberapa perawat masuk kedalam ruangan dimana Helen dirawat.


"Ada apa Pak Cakra?" tanya Dokter karena melihat Cakra memasang raut panik dan air mata berceceran di wajahnya.


"Istri... istri saya menggerakkan jarinya Dok." tegas Cakra.


"Syukurlah, semoga ini awal dari kebaikan, sebentar biar saya periksa lebih dulu, permisi ya?" Dokter Emma memeriksa keadaan Helen, sedangkan Cakra memperhatikan dengan menjaga kedua buah hatinya.


Harap-harap cemas, lantunan do'a terus saja ia langit kan, gemetar seluruh tubuh Cakra, berharap semoga Tuhan tidak mengecewakan harapannya kali ini, sudah satu tahun penuh dia menanti kesadaran istri tercintanya dari koma panjang itu.


Hampir satu jam lama nya Dokter Emma memeriksa keadaan Helen, sampai akhirnya Dokter itu berjalan kearah Cakra, antusias Cakra, ia menunggu rangkaian kata yang akan keluar dari mulut Dokter Emma.


Sebenarnya ada sedikit rasa takut, jika saja kabar buruk yang akan diterima nya, mau bagaimana dia dengan kedua balita yang ada di dekapannya itu.


"Pak Cakra, kabar baik setelah sekian lama, bu Helen akhirnya bisa kembali mendapatkan kesadarannya, tapi pelan-pelan mengajaknya berinteraksi ya, mungkin akan sedikit kaku karena sudah satu tahun lamanya ia berdiam diri, dan untuk kaki, sementara agar duduk di kursi roda dulu, nanti pelan-pelan kita bantu terapi." jelas Dokter Emma dan itu membuat Cakra luruh kelantai, di turunkan nya kedua balita itu dan ditinggal untuk bersujud sebagai rasa syukur.


Setelah itu Cakra keluar dari ruangan, niat hati ingin mengabari orang rumah tapi tak sengaja ia malah bertemu Bayu dan Celine yang tengah berdebat di depan ruang dokter kandungan.


"Sedang apa mereka?" perlahan kaki Cakra mendekat, dan didengarnya sayup-sayup perdebatan itu.


"Itu anak gue kan?" terdengar suara Bayu.


"Sejak kapan Cel? Kenapa lo nggak ngomong sama gue? Dan kenapa lo malah mau menikah dengan Cakra, dia sahabat gue Cel! Gue nggak akan biarin lo nikah sama Cakra!" tegas Bayu yang saat itu segera meninggalkan Celine, gadis yang tak lagi perawan itu mengejar Bayu dan meraih lengannya, "Please Bay, jangan Bay! Kalau lo ngomong sama mereka gue gimana?" rengek Celine.


"Nikahin aja udah Bay!" cetus Cakra yang keluar dari persembunyian nya.


"Cakra?...

__ADS_1


__ADS_2