
Tak menyangka ternyata gadis belia itu begitu berani menyerang Helen bahkan didepan Cakra.
Hampir terjatuh Helen dari pangkuan Cakra karena Stela yang nekat menarik rambut Helen, namun CEO tampan itu segera merengkuh tubuh istrinya.
Saat Stela hendak mengulang lagi perbuatannya karena gagal melukai wanita yang ada di pangkuan laki-laki idamannya tiba-tiba suara bariton terdengar meneriaki dirinya.
"Dad??" lirih Stela, Steven yang berdiri di ambang pintu itu pun mulai melangkahkan kakinya masuk.
"Anak tidak tau malu!" hardik Steven kepada anak gadisnya itu, "Tuan Cakra dan Nyonya, saya mohon maaf atas kebodohan dan kelancangan putri saya, permisi."
Menunduk sopan Steven, kemudian ia menarik paksa Stela dari ruangan Cakra.
Setelah Steven dan Stela pergi...
"Sakit?" tanya Cakra dengan mengelus surai hitam yang baru saja ditarik oleh Stela.
Raut wajah Cakra sangat berbeda dengan yang barusan, sungguh penuh kelembutan juga penuh perhatian raut wajah Cakra saat ini.
Melirik tajam Helen kearah suaminya, entah mengapa dia malah menatap dengan tatapan tak bersahabat kepada Cakra yang mencurahkan perhatian kepadanya.
"Kenapa?" tanya Cakra masih tak mengerti.
"Jangan menyentuh ku jika alat kontrasepsi itu masih ada didalam otak mu!" ketus Helen, ternyata ia masih mengingat pembahasan alat kontrasepsi beberapa waktu yang lalu.
"Astaga!" gumam Cakra dengan mengusap wajahnya, sedangkan Helen turun dari pangkuan Cakra, "Baby mau kemana?"
"Pulang!" sahut Helen dengan ketus, sedikitpun Helen tak menoleh ke arah Cakra.
Tak mau membuat suasana hati istrinya semakin runyam, Cakra menghubungi para orang-orang kepercayaannya agar mengawasi Helen.
...πππππ...
Sore hari wanita berstatus istri CEO Frans Group itu tengah duduk di halaman belakang dengan jari tangan yang tengah sibuk mengikat tali sepatu.
Sedangkan di kursi malas samping kolam renang ada dua ibu-ibu sosialita yang berpakaian khas pakaian senam aerobik tengah duduk sambil berbincang dan sesekali bercanda.
Setelah selesai mengenakkan sepatu nya Helen berjalan mendekati Agata dan Charoline yang masih asik bergibah.
__ADS_1
"Mari kita mulai." ajak Helen dengan senyum semangatnya.
Jujur saja hati wanita cantik itu masih berkecamuk rasa kecewa namun bagaimana pun hidup ini akan terus berjalan, maka dari itu Helen lebih memilih mengesampingkan rada kecewa itu dan mencari kegiatan yang akan mendatangkan rasa Happy.
"Ok let's go!" sahut Charoline dengan semangat, sedangkan Agata mengikuti langkah bestienya itu dan Helen menyalakan musik.
Musik DJ mulai terdengar dan mulai dari gerakan pemanasan Helen mengajarkan senam aerobik kepada kedua tetangganya itu mulai dari gerakan yang paling mudah sampai yang mulai kombinasian.
"Masih kuat?!" teriak Helen mengimbangi suara musik yang sangat keras.
"Hah... hah... Ok... lanjut!!" teriak Charoline dan Agata bersamaan ditengah-tengah nafas yang mulai ngos-ngosan.
"Owkey! Kita lanjut! Yuk! Hak! Hak! Hak! Mana suaranya!" teriak Helen memberi semangat.
"Huuuuuuu!!!" sahut kedua ibu-ibu tanpa menghentikan gerakannya.
Saking asiknya Helen ia sampai melupakan masalah hidup yang masih hangat baginya bahkan baru di dapatnya hari ini juga.
Bahkan suara deru mobil suaminya yang baru pulang dari kantor pun tak disadarinya.
Cakra melangkahkan kakinya menuju lantai atas, ia masuk kedalam kamar lalu meraih handuk dan berniat untuk mandi, namun ia mendengar suara musik DJ yang berasal dari halaman belakang.
Akhirnya laki-laki tampan itu mengurungkan niatnya untuk mandi, perlahan kaki besar itu melangkah menuju balkon.
Ya... Dari sana ia melihat tiga wanita berbeda usia itu tengah dengan asiknya bergeal-geol namun terlihat seperti gerakan dance.
"Syukurlah, ku kira dia akan larut dengan kesedihannya." gumam Cakra dengan terus memperhatikan Helen.
Namun tiba-tiba wanita cantik dengan pakaian senam yang super seksi itu menghentikan gerakannya dan mematikan musik yang asik itu, gelagapan Cakra takut jika sampai Helen melihat keberadaannya, CEO tampan itu secepat mungkin berbalik dan melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam kamar tapi DHUARRR!!! Naas kepala nya malah membentur pintu kaca yang ada di hadapannya.
Mendengar suara benturan yang begitu keras, ketiga wanita yang baru saja mengakhiri olahraga sorenya itu segera menoleh ke arah lantai atas.
"Say? Suami mu pulang?" tanya Charoline yang segera meriah hoodie nya yang berwarna dusty pink.
"Entahlah, tapi aku tidak mendengar suara mobilnya." sahut Helen dengan masih menatap kearah kamar nya, yang tak terlihat ada siapapun di sana.
"Ya udah say, besok-besok lagi ya, ini juga udah sore, kita pulang yuk Cha!" pamit Agata dengan menoel lengan Charoline untuk diajaknya pulang.
__ADS_1
"Oh iya, iya, iya see you next tiem Mommy-Mommy pejuang sehat!" ucap Helen dengan bersalaman dengan tetangga baiknya itu.
Setelah mengantar kedua tetangganya sampai ke teras depan, ia melihat mobil sang suami sudah terparkir rapi di halaman depan itu, Helen berjalan kembali masuk kedalam rumah.
Celingukan wanita itu mencari sosok suami yang tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.
"Mobilnya ada, kemana orangnya?" gumam Helen dengan membuka pintu kamar.
Setelah ia membuka pintu kamar, Helen mendapati suaminya tengah duduk dengan darah yang mengalir dari dalam hidung bangirnya.
"Astaga! Tuan, anda kenapa?" teriak Helen dengan berlari mendekati Cakra.
Tak menjawab dengan kata-kata, Cakra hanya menggelengkan kepalanya, "Kok bisa mimisan gini sih? Kamu jatuh? Hidung nya kepentok apaan?" Ngomong dong!" Cerocos Helen dengan mengelap darah yang keluar dari dalam hidung.
"Mau diantar ke rumah sakit atau gimana?" Cakra menggeleng, tanda ia tak mau ke dokter.
"Ya udah sini aku bantuin!"ucap Helen dengan merebut kain basah yang sudah ternoda darah yang keluar dari dalam hidung Cakra.
Dengan penuh rasa cemas dan khawatir Helen membersihkan darah yang masih keluar dari dalam hidung suaminya.
Cakra hanya bisa pasrah, namun tak dapat dibohongi hati laki-laki itu, kini terasa lebih damai.
Dengan sesekali Cakra melirik dan menikmati pemandangan indah di hadapannya itu.
Perlahan lengan kekar itu merambat dan memeluk pinggang sintal yang tak tertutup sehelai benang itu.
"Tuan! Jangan macam-macam deh!" cetus Helen dengan masih berusaha membuat darah yang baru saja keluar dari dalam hidung itu segera mampet.
"Kamu kok seksi sih pakai pakaian ini?" tanya Cakra yang tiba-tiba menceplos.
Dengan segera Helen beranjak dari duduknya dan itu membuat Cakra dengan cepat meraih lengan halus itu dan di tariknya kembali agar wanita itu mau duduk di atas pangkuan nya.
"Lepasin! Lepasin! Tuan, sekali lagi saya bilang lepas in!" teriak Helen masih dengan terus berontak.
Sedangkan Cakra yang semakin gemas, malah semakin erat memeluk tubuh sintal dengan pakaian mini itu.
Saling dorong-tarik Cakra dan Helen sampai-sampai, BRAK!!!
__ADS_1