
Sudah berhari-hari setelah kejadian malam itu, kini kehidupan Cakra dan Helen kembali dingin, bahkan wanita itu terlihat selalu menghindari suaminya.
Walau begitu kewajiban untuk menyiapkan segala keperluan Cakra tetap Helen lakukan.
Seperti halnya pagi ini, Helen bagun pagi bahkan sebelum Cakra membuka mata nya, wanita itu menyiapkan pakaian suaminya lengkap dengan Jas dan juga sepatu yang sudah ia bersihkan, jadi tak ada kesempatan Cakra untuk memanggil wanita itu untuk dimintai tolong.
Bahkan sarapan pagi ini, sudah tertata rapi di atas meja makan.
Saat semua laki-laki sarapan, Helen hanya melayani suaminya, setelah itu ia melangkahkan kaki jenjangnya hendak meninggalkan ruang makan, tapi...
"Mau kemana?" tanya Cakra dengan meraih lengan istrinya menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanan tetap fokus menyendok makanan yang tersaji di hadapannya.
Terdiam Helen, sedikit pun gadis itu tak mau menyahuti pertanyaan suaminya.
Tomy dan Bayu yang merasa kikuk dengan suasana ini pun saling pandang kemudian Tomy mengkode untuk mereka keluar dari ruang makan itu dan di angguki oleh Bayu.
"Em... Cak gue mau lihat dokumen yang kemarin dulu deh." ucap Bayu beralasan, tanpa sahutan dari Cakra kedua bujang itu segera berjalan keluar meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Duduk!" ucap Cakra dengan nada yang cukup dingin, sedangkan Helen masih stay berdiri dengan lengan yang di cengkeram oleh lengan kekar milik Cakra.
"Aku bilang duduk!" sekali lagi Helen tersentak dengan ucapan dingin suaminya.
Perlahan kaki jenjang itu melangkah menuju kursi yang ada di sebelah Cakra dan meletakkan pantatnya di atas permukaan kursi.
"Makan!" ketus Cakra dengan menyodorkan satu sendok nasi lengkap dengan lauknya ke hadapan bibir Helen yang masih terkatup sedari tadi.
Tak mau bertele-tele Helen pun membuka mulutnya dan melahap satu suapan itu, terlihat senyum tipis tersungging di ujung bibir Cakra.
"Nanti acara pernikahan Alinda dan Khrisna, kamu mau aku antar pulang atau bagaimana?" tanya Cakra kini dengan suara yang mulai melembut.
"Antar? memangnya kamu mau kemana?" tanya Helen kini dengan menatap suaminya.
Tak di sangka, suaminya kini sangat tampan dengan stelan jas yang ia siapkan, apa lagi dengan jambang tipis dan netra sipit yang tajam, ingin sekali Helen membelainya namun lagi-lagi niat manis itu ia urungkan karena mengingat suaminya itu rak menginginkan bayi dari dalam kandungannya.
"Aku ada urusan kerjaan, jadi untuk beberapa hari ke depan aku pulang malam terus, jadi tidak bisa datang, kalau kamu mau datang nanti aku antar." ucap Cakra menjelaskan.
"Kalau kamu tidak datang, maka aku juga tidak usah datang, bagaimana jika mereka berpikir kita tidak baik-baik saja?" jelas Helen, Cakra terdiam sejenak, kemudian mengangguk paham.
"Dan lagi, bagaimana jika mereka menanyakan soal... " Helen terdiam tak melanjutkan ucapannya, hingga membuat Cakra pun menghentikan kegiatan makannya.
"Apa? Kenapa berhenti?" tanya Cakra setelah ia menelan nasi terakhir yang ia suap kedalam mulutnya.
Helen hanya menghela nafas dengan menggelengkan kepalanya, serta memalingkan pandangan matanya.
"Baby... please jangan buat aku bingung!" ucap Cakra dengan memegang kedua pundak Helen.
__ADS_1
Wanita di hadapan Cakra kini menatap dalam netra tajam itu, "Ya... Apa lagi yang akan di tanyakan orang tua kepada pengantin baru, eh... bukan baru lagi sudah berapa bulan kita ini tinggal di sini."
Cakra terdiam seolah menyimak setiap kata yang keluar dari mulut manis istrinya.
"Masih nggak ngerti?" tanya Helen yang melihat suaminya masih terdiam tak berucap.
"Ya sudah ini sudah siang! Sana berangkat, ribuan karyawan menunggumu kedatangan mu." ucap Helen dengan meraih tangan kanan Cakra kemudian mengecup hikmat punggung tangan yang sudah memberinya nafkah lahir itu.
Cakra segera mengusap surai hitam Helen kemudian mengecup sekilas kening istrinya itu.
Di dalam perjalanan ke kantor, sampai di kantor, bahkan sampai jam makan siang pun, Cakra masih memikirkan ucapan Helen pagi tadi.
"Lo kenapa sih Cak? kurang service?" ceplos Tomy.
"Ngaco lo! kalau ngomong dijaga dong Tom, tempat umum ini!" sela Bayu dengan mengetuk kepala Tomy menggunakan sumpit yang di pegang nya.
"Ya habis dari pagi murung terus, kenapa? Semalem nggak di jatah sama bos cantik?" cetus Tomy lagi, namun Cakra kali ini tak menyahuti banyolan sahabatnya itu.
Tomy dan Bayu pun saling pandang, keduanya saling melempar pertanyaan melewati tatapan mata dan dijawab dengan menggendikkan kedua bahunya.
"Cak, cerita sama kita, lo ada masalah?" tanya Bayu dengan bahasa yang lebih enak didengar dari pada bahasa yang digunakan Tomy.
"Alinda mau nikah." ucap Cakra singkat.
"He'em." sahut Cakra singkat, kini Bayu dan Tomy kembali saling tatap, "Terus lo masih nggak mau restuin mereka? Toh lo udah nikah juga, punya istri cantik bin bohay juga, kenapa coba? biar aja mereka menjalani kehidupan mereka." sambung Tomy.
"Otak lo!" cetus Cakra.
"Bukan di situ masalahnya..." terdiam sejenak Cakra membuat kedua sahabatnya menatap serius berharap Cakra segera melanjutkan alasannya.
"Terus?" cetus Tomy yang memang tidak sabar ingin segera mendengar kelanjutan cerita sobat sebestienya itu.
"Helen nggak mau gue antar ke acara pernikahan Alinda kalau tanpa gue." jelas Cakra.
"Ya jelas nggak mau lah, kalau dia sendiri terus lo di sini mau sama siapa? Apa nggak takut kalau ntar suami tampannya ini bakal di goda cewek-cewek bohay lainnya." ketus Tomy, ya dia sendiri merasakan kalau gadis yang di jodohkan dengannya masih memuja-muja sahabatnya itu.
"Bukan itu alasan dia." sela Cakra.
"Lalu? Apa?" tanya Tomy.
"Dia bilang dia takut kalau sampai orang rumah berpikir kalau hubungan kita tidak baik-baik saja..."
"Nah bos cantik bener dong, dia was-was dengan pemikiran orang rumah, tapi apa susahnya di jelaskan saja." sahut Bayu yang menyela ucapan Cakra.
"Tapi dia bilang lagi, seolah dia takut jika sampai orang rumah menanyakan sesuatu, nah sesuatu itu dia nggak ngomong sama gue." jelas Cakra dengan menyugar rambut nya.
__ADS_1
"Lo nggak tanya? itu apa?" tanya Tomy.
"Dia cuma bilang, apa yang biasa orang tua tanyakan kepada pasangan pengantin baru yang sudah sekitar satu bulan menikah." jelas Cakra dengan mengusap wajahnya, sungguh otak genius Cakra tidak bisa memahami teka teki yang istrinya berikan itu.
"Lo terlalu genius di bidang pekerjaan, tapi nol soal masalah wanita." cibir Tomy.
"Kaya lo nggak aja! Coba Stela masih ngejar-ngejar Cakra apa nggak?" cetus Bayu.
"Ya... gue kan baru ini, ntar lah kalau udah satu bulan kita kenal pasti bakal klepek-klepek dia sama gue." Tomy menyombongkan dirinya dengan menepuk dadanya.
"Kalau nggak malah kebalik, lo yang klepek-klepek sama dia." cibir Bayu dengan senyum miringnya.
"Aaarrgghhh berisik lo pada!" ketus Cakra.
"Ups... Sorry bro! emm... buat masalah yang lo hadapi, aslinya bener sih, emang lo nggak kasihan kalau Helen sendiri di sana terus ditanyain sama orang tua lo, soal anak?" cetus Tomy serius yang membuat Cakra menatapnya.
"Anak?" mengerutkan kening Cakra berucap.
"Iya, anak, orang tua mana yang tidak mengharapkan cucu dari anaknya sendiri, sedangkan Helen di sana hanya menantu... " jelas Tomy membuka otak CEO tampan nan genius itu.
Berpikir Cakra terdiam, "Apakah jika belum mempunyai keturunan... akh tidak-tidak, mama sama papa bukan orang yang seperti itu." gumam Cakra.
"Siapa yang bisa menjamin, hanya Tuhan yang bisa membolak-balikan hati manusia." imbuh Bayu yang menimpali.
"Maksud kalian?" tanya Cakra.
"Ya... Helen, istri lo, takut jika sampai dianggap tidak bisa memberikan keturunan untuk penerus Frans Group." jelas Tomy.
"Tapi gue kan masih muda, masih bisa memimpin perusahaan ini." jelas Cakra.
"Iya... tapi ntar juga lo bakal tua!" cetus Tomy lagi.
"Terus..." Cakra terdiam sejenak, "Cak, kita udah sama-sama dewasa, apa salahnya lo serius dengan hubungan pernikahan lo. Emangnya lo nggak pengen apa punya anak? Bayi lucu, cantik, ganteng, apa lo nggak pengen?" timpal Bayu.
"Pengen sih tapi, tapi, gue takut Bay..."
"Takut apa? Asal komitmen kalian kuat, rumah tangga lo akan baik-baik aja kok, gue lihat Helen bukan termasuk cewek yang meremehkan pernikahan kok." ucap Bayu dengan menyeruput kopi hitam yang ada di hadapannya.
Terdiam Cakra, sebelum kemudian mereka kembali ke kantor, karena jam makan siang mereka selesai dan akan di lanjut pertemuan dengan dewan direksi.
Sekuat mungkin Cakra fokus dengan pekerjaan, namun ucapan Bayu barusan membuatnya mengingat ucapan Helen yang tidak menyepelekan ikrar ijab qobul yang di ucapkan nya sekitar empat minggu yang lalu.
"Apa benar yang Helen maksud tadi pagi itu soal anak?" batin Cakra dengan duduk di kursi kebesarannya...
Hai readers jangan lupa like setiap episodenya ya, dan tinggalkan komentar kalian, see you next episode... bay... bay 🥰🥰🥰
__ADS_1