
Terkejut sampai-sampai terdiam tak sedikit pun Helen menolehkan kepalanya, "Duh kok kaya yang di film-film sih? Dia mabuk, terus tiba-tiba sadar terus ternyata masih dipengaruhi alcohol, terus-terus-terus duh pasti deh udah ketebak larinya kemana." batin Helen dengan mengatur nafasnya.
Ya... Saat ini Cakra memeluk tubuh Helen dari belakang dengan menyangkutkan dagunya di pundak wanita itu.
"Tu... Tuan..." Helen berusaha melepaskan lengan kekar yang sangat erat memeluk pinggangnya.
"Hem..." terdengar sahutan dengan suara sedikit serak.
"Sebentar aku mau masak sup untuk mu." ucap Helen.
"Aku mau berterimakasih padamu." ucap Cakra yang masih tetap pada posisinya.
"Terimakasih? Buat apa?" Helen bingung, akhirnya wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sang suami yang terlihat sedikit memerah karena pengaruh alcohol yang masih belum hilang sepenuhnya.
"Terimakasih karena kau sudah mengakui aku sebagai suamimu di depan umum." Cakra menatap lekat netra indah dengan bulu mata lentik itu.
"Lah, bukannya memang kau suami ku?" Semakin bingung Helen dibuatnya.
"Iya memang, tapi kau sudah memperjelas nya, dan aku semakin mencintaimu." bisik Cakra dengan menempelkan keningnya.
Helen mendorong dada Cakra dengan kedua tangannya, "Iiiiihhh jauh-jauh-jauh!!! Kau masih bau minuman! kau itu mabuk istirahat lah dulu!"
Cakra mengerutkan keningnya, "Mabuk? Siapa yang mabuk? Aku masih waras, aku masih sadar, bahkan aku masih bisa melihat jelas lekuk tubuh mu." ucapnya dengan tangan yang memperagakan membentuk tubuh seksi seorang wanita.
Melotot Helen mendapati suaminya yang tak seperti biasanya, "Dasar otak mesum! Sana-sana balik ke kamar!" Helen mendorong terus tubuh Cakra hingga CEO tampan itu kembali masuk kedalam kamar.
Dengan cepat Helen berlari keluar dari kamar dan segera menutup pintu BRAK!!! Pintu tertutup CEKLEK!! Tak lupa Helen menguncinya dari luar.
DUGH-DUGH...DUGH-DUGH!!!
"Baby!! Buka pintunya! Aku tidak mabuk! Aku sadar! Aku waras!" terdengar teriakan Cakra dari balik daun pintu yang sudah tertutup rapat itu.
Helen mengatur nafasnya lega, sungguh ia masih takut untuk di sentuh suaminya yang ia pikir tidak menginginkan kehadiran makhluk kecil diantara keduanya.
"Maaf Tuan, aku takut, sungguh jika aku tidak menjauh, makan kau pasti akan terus menjamah." gumamnya dengan berjalan meninggalkan pintu kamar yang masih di gedor-gedor dari dalam.
Helen kembali sibuk dengan perkakas dapur demi membuatkan sup hangat untuk suami tampannya.
__ADS_1
Di Samping itu, Cakra masih dengan tubuh yang tidak seimbang, masih menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Baby... Helen! Buka pintunya!" teriak nya dengan suara khas orang mabuk.
"Jangan tinggalin aku!" Merosot tubuh atletis itu hingga terduduk di atas lantai dengan bersandarkan daun pintu yang tertutup.
Lumayan lama, Helen memasak sup untuk suaminya, sekitar setengah jam, baru wanita cantik itu melepas celemek yang tadi melekat di tubuhnya.
Langkah kaki jenjang itu melangkah perlahan menuju kamarnya, berdiri di depan pintu kamar yang tertutup, Helen segera merogoh saku celananya demi mengeluarkan kunci pintu yang dibawanya tadi, CEKLEK-CEKLEK!!
Kunci pintu terbuka namun susah untuk Helen mendorong agar terbuka lebar.
"Apa sih yang ganjel? Kok susah?" gumamnya dengan terus berusaha mendorong kuat daun pintu tersebut.
SERRREEETTT...
BRUGH!!
"ASTAGA!!" Teriak Helen ketika ia mendapati tubuh Cakra yang ambruk tersungkur dilantai.
Buru-buru Helen meletakkan sup panas itu di atas nakas, kemudian wanita itu dengan langkah cepatnya segera mendekati tubuh lemah Cakra yang tergeletak dilantai.
Karena sedikitpun tidak ada respon, akhirnya Helen memapah tubuh besar suaminya itu, dengan langkah yang tertatih-tatih Helen sampai juga di samping ranjang.
Dengan pelan Helen menempatkan Cakra di atas permukaan kasur yang empuk dan nyaman itu.
Helen membenarkan posisi kepala Cakra, agar pria pemimpin perusahaan Frans Group itu nyaman di bantalnya.
Namun siapa sangka jika saat ini tanpa aba-aba kedua lengan kekar itu memeluk tubuh sintal Helen dan dibawanya berguling di atas ranjang, hingga posisi Helen terlentang dibawah kungkungan tubuh besar Cakra.
Terkejut Helen, ia membelalakkan kedua matanya, menatap sang suami yang masih berbau alcohol itu.
Cakra menatap Helen dengan sorot mata yang terlihat sayup, "Kau tidak akan bisa pergi dari ku!" gumamnya dengan suara yang terdengar seperti diseret-seret khas orang mabuk berat.
"Tu... Tuan, sadar Tuan!" ucap Helen dengan mengguncang kerah kemeja Cakra yang tepat ada di atas dadanya.
Helen mendorong kemudian menarik kerah kemeja Cakra hingga akhirnya tubuh atletis itu ambruk menimpa tubuh sintal wanita cantik itu, bukan hanya tubuh mereka yang berhimpitan, namun juga tak sengaja kedua bibir mereka menyatu saling menempel satu sama lain.
__ADS_1
Terbelalak Helen hendak mendorong dada Cakra, namun lengan kekar itu malah menahan lengan-lengan mulus itu dan di tahannya di atas kepala Helen.
Memejamkan mata Cakra memperdalam ciuman itu, sedangkan Helen masih berdiam diri tak membalas sedikitpun ciuman panas itu.
Bahkan bibir Helen terkatup rapat seperti halnya matanya yang juga terpejam rapat, masih berusaha menahan diri Helen tak mau hanyut dalam permainan panas suaminya.
Terasa dada Helen sedikit membusung ketika salah satu tangan Cakra membelai pinggangnya kemudian merambat ke atas sampai pada gundukan kenyal yang menggemaskan.
Gagal menerobos rongga mulut istrinya, Cakra beralih memainkan lidahnya di daun telinga Helen, laki-laki itu mengecup juga menjalari bahkan menyesap cuping telinga wanita yang ada dibawah kuasanya itu.
"Emmmmhhhh..." me-lenguh Helen menahan desah yang tertahan, kecupan panas itu tak berhenti di sana, ia menjalari leher jenjang istrinya, juga meninggalkan jejak cinta di sana yang berwarna merah.
Mulai terasa Helen menarik nafas panjangnya, wanita itu masih berusaha untuk tetap menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.
Masih dengan terus merapal do'a, Helen masih kekeuh dengan pendiriannya, ia tidak mau di sentuh jika suaminya masih tidak menginginkan keturunan darinya.
"Aku bukan wanita pemuas nafsu! Aku bukan wanita murahan! Aku tidak akan membuka diri sebelum dirimu menerima kehadiran makhluk kecil diantara kita!" batin Helen dengan di selingi do'a-do'a yang ia langitkan, bahkan sudut mata Helen menitikkan air mata, sungguh ia tak mau jika harus mengandung atau pun melahirkan bayi yang tidak diinginkan oleh suaminya.
Helen merasa Cakra diam tak bergerak, serangan-serangan panas sudah mulai mereda bahkan remasan pada bongkahan kenyalnya sudah berhenti.
Akan tetapi kepala Cakra masih menelusup di ceruk lehernya. Juga dengkuran halus dan nafas teratur mulai terdengar di indera pendengaran Helen.
"Tuan? Tuan?" Helen menggoncang-goncangkan tubuh kekar itu, tapi tak ada sedikit pun respon darinya.
"Tuan? Anda tidur?" bisik Helen dengan mentoel-toel lengan kekar yang berbentuk angka delapan itu.
Masih tak ada respon, akhirnya Helen dengan sekuat tenaga menggulingkan tubuh kekar itu agar turun dari atas tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, Helen berhasil menggulingkan tubuh lemas Cakra yang sangat berat baginya, kini Cakra terlihat memejamkan kedua matanya, juga deru nafas teratur serta dengkuran halus terdengar dari CEO tampan yang sudah tertidur itu.
Helen beranjak dari ranjangnya, niat hati ingin menutup pintu kamar namun...
BRUGH!!!
Lagi-lagi lengan kekar itu meraih pinggang sintal Helen dan menariknya kedalam pelukan, ya Helen kini tak bisa kemana-mana bahkan sup yang dia siapkan tadi, kini sudah mendingin belum sempat ia mengembalikan ke dapur.
Keduanya pun terlelap dengan Helen yang dipeluk erat oleh lengan kekar milik Cakra...
__ADS_1
Hello my readers, jangan lupa beri dukungan like dan komentar, jika perlu kalian klik favorit ya biar tidak ketinggalan up date nya...
See you next episode tayang-tayang ku 🥰🥰🥰