Bukan Casanova

Bukan Casanova
BC. CHAPTER 18 [Karena Basah Tumbuh Rasa]


__ADS_3

Setelah sampai ditempat tujuan, Cakra memarkirkan mobilnya di pinggir jalan saja, karena belum sampai laki-laki itu memasuki lahan parkir kafe yang ia tuju, ia lebih dulu melihat istrinya tengah berbincang dengan seseorang menggunakan ponsel pribadinya.


"Bicara dengan siapa dia?" gumam Cakra dengan meremas setir kemudi yang ada di hadapannya itu.


Tak mau lagi Cakra menunggu terlalu lama, ia segera beranjak dari mobilnya, dengan langkah besarnya Cakra melangkah mendekati sosok gadis yang tengah berbincang dengan seseorang dibalik telfon.


Setelah lumayan dekat, terlihat Helen menampilkan raut wajah dilemanya, kemudian gadis itu memutuskan sambungan telepon nya.


Tanpa aba-aba, Cakra segera menyerobot lengan Helen, dicengkeramnya lengan mulus itu, kemudian diseretnya gadis yang berstatus istri itu.


"PULANG SEKARANG!!"


Cakra menyeret gadis itu dengan paksa, "Tu... Tuan, anda di sini?" gugup Helen saat itu, sedikit takut dengan raut wajah yang ditampilkan suaminya.


Tak menjawab, Cakra hanya terus berjalan menuju mobil hingga dengan kasar ia mendorong tubuh Helen masuk kedalam mobil.


BRAK!!


Pintu tertutup dengan kasar pula, tersentak Helen, gadis itu duduk dengan tatapan bingung.


BRAK!!


Cakra membanting pintu sisi lain setelah ia duduk di kursi kemudi, mendengus kesal laki-laki itu segera menancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata.


Terlihat Helen memejamkan mata bulatnya, tapi sedikitpun ia tak bersuara, hingga mobil itu masuk melewati gerbang yang sudah terbuka, dan DHUBRAK!!


Satu vas bunga ambyar pecah karena tertabrak bemper depan mobil.


Membuka mata Helen dengan nafas yang ngos-ngosan, "Aku masih hidupkan?" batinnya dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.


CEKLEK!! Pintu mobil terbuka dan tangan Cakra kembali menarik paksa lengan Helen.


Terseret gadis itu mengikuti langkah besar Cakra yang terus mencengkeram lengannya.


"Tu... tuan sakit!" keluh Helen dengan meringis kesakitan.


BRUGH!!!


Setibanya di kamar Cakra melempar tubuh Helen hingga gadis itu ambruk di ranjang empuk itu.


Kembali duduk Helen mendongak menatap sang suami, "Maksud anda apa?!" tanya gadis itu dengan mata yang membulat.


"Lo! Lo sengaja keluar dengan pakaian seperti ini? Hah?! Lo mau menggoda siapa lagi? Hah?!" ucap Cakra dengan penuh penekanan.


"Tidak, aku hanya..."


"Hanya apa? Hem? Siapa yang lo telfon barusan? Lo kencan? Hem? Mau kencan kemana? Sama siapa? Dia bayar lo berapa? Atau dia lebih tampan? oh... atau dia lihai di ranjang?"

__ADS_1


Helen menggeleng pelan dengan air mata yang mengalir begitu saja melewati pipinya.


Tak menyangka jika pikiran suaminya sampai sedalam itu, sejauh itu, apakah serendah itu dirinya di mata Cakra?


Berdiri Helen dari duduknya gadis itu hendak melangkahkan kakinya pergi, namun sekali lagi Cakra mencengkeram lengannya, "Mau kemana? Hem?!" geramnya karena sedari tadi istrinya itu hanya berdiam diri.


"Lepas Tuan!" berontak Helen tak mau lagi berdebat dengan suaminya.


"Nggak akan!" ketus Cakra, sampai Helen nekat, gadis itu menggigit tangan Cakra yang mencengkeram erat lengannya.


"Shhhh AW!!" sontak Helen terlepas dari cengkeraman Cakra ia berlari keluar dari kamar.


Cakra yang sudah terlanjur emosi berlari mengejar Helen, sedangkan Helen terus berlari, langkah kaki gadis itu menuju ke halaman belakang dimana di sana terdapat taman dan juga kolam renang.


"Helen! Berhenti!" teriak Cakra dengan terus berlari.


Tak menjawab Helen berlari di tepi kolam sampai akhirnya, SRAT!!


"YAK!" Teriak Helen karena kakinya terpeleset, Cakra dengan cepat berusaha meraih lengan istrinya, namun setelah ia berhasil menggapai lengan Helen...


BYURRR!!!


Cakra gagal menghentikan langkahnya dan kehilangan keseimbangan hingga tubuh kekarnya malah menubruk tubuh Helen hingga keduanya tercebur kedalam kolam.


"Kan jadi basah!" teriak Helen setelah ia sudah menguasai keseimbangannya di dalam kolam.


Basah keduanya berdiri di tengah kolam renang, T-Shirt ketat yang di kenakan Helen mencetak jelas lekuk tubuh gadis itu.


Masih berdiam diri Helen ditempatnya, sadar dengan arah tatapan mata Cakra, gadis itu menyilang kan kedua tangannya di dada, kemudian membelakangi suaminya yang masih memandanginya.


Cakra mengalihkan pandangannya, teringat dengan ucapan sarkas nya barusan, laki-laki berstatus suami itu merendahkan hati nya, dan melangkah mendekati istrinya.


"Ma... Maaf." ucap Cakra, ia berusaha menyentuh pundak Helen, namun sepertinya gadis itu sudah terlanjur sakit hati hingga sedikitpun ia tak mau disentuh oleh Cakra.


Menghindar pundak yang mencetak samar tali hitam di sana dari tangan kekar Cakra yang berusaha menggapainya.


"Lo marah?" tanya Cakra kini dengan nada yang pelan.


"Buat apa marah? Toh bagaimana perasaanku itu tidak terlalu penting untukmu, yang terpenting kan saat keluarga mu melihat ku, aku masih baik-baik saja, kan?" sahut Helen dengan nada ketus.


Terdiam Cakra tak mengerti, tapi laki-laki genius itu tetap mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir manis istrinya.


"Maksud lo?" Cakra yang tidak menemukan kepastian didalam otak geniusnya lebih memilih untuk bertanya langsung.


Helen melirik Cakra yang ada di belakangnya, "Kalau aku kurus nanti, kamu, kan yang kena marah? kalau sampai aku sakit, kamu juga, kan yang kena marah, kalau sampai aku kenapa-kenapa kamu juga yang akan menerima akibatnya." cecar Helen.


"Iya dong, kan gue suami lo, udah jelas kan kalau lo itu tanggung jawab gue!" sahut Cakra.

__ADS_1


"Iya dan semua perhatian cuma semata karena kamu nggak mau kena marah orang tua mu!" geram Helen dengan ketidak pekaan suaminya.


Gadis itu melangkah maju menuju tepi kolam, namun Cakra kembali menahan lengan nya, "Bukan begitu!" Ceplosnya.


Berhenti Helen, gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Cakra, dia tatap wajah suaminya yang berhiaskan bulir-bulir air.


"Lalu?" Mendengar pertanyaan yang menuntut kejujuran itu akhirnya Cakra menghela nafas seolah ingin mengatakan semua isi hatinya.


"Gue..."


"Coba bahasanya pakai aku, kamu, jangan pakai bahasa gue, lo! Kamu anggap aku ini sama ya kayak teman-teman kamu? Jujur aku nggak suka kamu ngomong pakai bahasa itu!" sela Helen, memejamkan mata, Cakra menahan diri.


"Baiklah mungkin lebih baik jika jujur saja." batinnya kemudian ia kembali menatap Helen yang tengah menanti jawaban darinya.


"Maaf, mungkin gu... ekhem... aku terlalu munafik, benar seperti yang dikatakan orang-orang, bahkan lo... em... kamu pernah dengarkan Alinda sendiri pernah ngatain gu... aku ini munafik..."


"Berbelit banget sih?! Intinya gimana coba? Kamu nggak lihat aku kedinginan, Tuan?!" Menggigil tubuh Helen dengan bibir yang membiru.


"Langsung intinya aj..."


"Ok! Aku suka sama kamu!" sela Cakra dengan memegang kedua pundak Helen, terdiam keduanya, Helen masih percaya tak percaya dengan ucapan yang baru saja didengarnya.


Terlihat Cakra menarik nafas panjang kemudian dihembuskannya perlahan, "Entahlah rasa apa ini, yang jelas aku tidak suka jika kau sakit, dalam bahaya, bahkan jika kau lepas dari pengawasan ku, aku merasa tidak tenang, dan aku sangat suka berada didekat mu." jelas Cakra yang membuat Helen masih mematung terdiam di tempat.


"Apa aku salah jika mengartikan ini sebagai rasa suka?" tanya Cakra kemudian.


"Lalu kenapa kau seolah membenciku?" tanya Helen yang akhirnya membuka suara.


"Bukan begitu begitu maksudku, aku hanya takut jika sampai aku jatuh kedalam lembah cinta dan kemudian kau akan meninggalkan ku, atau pun sebaliknya, aku takut kita akan saling menyakiti satu sama lain." jelas Cakra.


"Kau trauma dengan rumah tangga kedua orang tuamu?" tanya Helen, dan Cakra hanya mengangguk pelan dengan menundukkan pandangannya.


Entah bagaimana, kini hati Helen trenyuh dengan pengakuan Cakra, dipeluknya laki-laki yang telah menjadi suaminya kurang lebih satu minggu itu.


Helen mengelus pelan kepala Cakra dan menepuk pelan punggung suaminya itu.


"Bukannya aku murahan, tapi ketahuilah sebuah pelukan akan dapat menenangkan hati yang hancur." Helen berbisik pelan, Cakra mengangguk setuju, lengan kekar itu balas memeluk pinggang ramping istrinya.


Cukup lama keduanya saling berpelukan, hingga terdengar deru mesin mobil yang sepertinya berhenti di halaman depan.


"Ada yang datang!" bisik Helen mengingat kan Cakra.


"Biarkan begini, sebentar saja!" pinta CEO tampan nan genius itu.


"CAK?! CAKRA!! WOY LO DIMANA?!!...


Duh siapa sih yang datang? ganggu aja, ya nggak guys? gimana nih yang mampir tapi belum kasih like, yuk ijinkan jempol kalian untuk bersedekah membahagiakan author ini πŸ₯° balasanya semoga kalian semua sehat selalu dan di lancarkan rejekinya Amiiiinnn...

__ADS_1


Maaf ya guys baru up, soalnya hari ini dari pagi sibuk di real πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2