
"Ah segarnya, sudah bersih" hari ini, aku pakai baju tidur kesukaanku, modelnya seperti daster panjang dengan model tali dibahu dan berkerut dari dada sampai ke pinggang, terus lebar sampai ke bawah. Bajunya aku gambar sendiri loh, tapi tukang jahit yang menjahitkan baju nya, aku suka bikin gambar model baju, emm desain ya, tapi tak bisa menjahit😌.
Sekarang sudah pukul 5 sore. Aku mulai mengunci jendela dan menutup gorden, menyalakan lampu, agar nyamuk tidak masuk rumah, "Riri, sebentar lagi Arman datang, katanya mau mengembalikan buku. Tunggu aja, tadi sudah ijin sama mama, mama mau mandikan adikmu dan Kiki sekalian, jadi gak usah cari mama ya." Tampak nya mama tidak menunggu jawabanku, dan benar saja "Tok tok, Assalamualaikum" suara Arman dibalik pintu sudah terdengar.
"Waalaikumsalam, sebentar." Aku lari ke kamarku, mengambil kain slayer untuk menutupi bagian atas tubuhku baru membukakan pintu.
__ADS_1
"Maaf lama, silakan masuk Kak" jadi serba canggung.
Tangan kanannya tampak membawa buku yang aku pinjamkan kemarin. "Duduk Kak, mau minum apa?" "Teh manis hangat saja, kalau tidak merepotkan" jawab nya. "Gak repot kok, tunggu sebentar ya." Kalau tamu bukan raja aku udah cuekin aja itu orang. Ngapain dia dateng coba, kenapa gak balikin buku diluar aja tadi, "Riri tamunya jangan didiemin sendirian di ruang tamu gak baik" tiba-tiba suara mama menyadarkan aku.
Mama itu dukun ya, kok tau sih aku sengaja berlama-lama bikin teh nya. "Ini teh nya Kak, ini ada cemilan kue juga sedikit, jangan malu-malu. Oh ya gimana ada apa kak, mama lagi bersih-bersih di belakang,..." "Aku gak nyariin mama kamu Ri, aku kesini mau ketemu kamu." Suasananya jadi agak panas ya...Aku ambil kipas dulu deh. Asli ini pertama kali aku duduk satu ruangan sama cowok cakep bukan temen, dan hatiku ini loh ya seneng ya aneh...aku kenapa kah?...kali pertama ada laki-laki ke rumah nyariin aku, biasanya kakakku tuh yang didatengin temen laki-lakinya buanyak.
__ADS_1
Aku tersenyum, "Dari apa yang aku dengar itu justru aku bisa bilang, kamu itu memang baik Kak, gak ada yang salah dengan kamu, mungkin kamunya aja yang terlalu memilih, cewek mana yang gak mau sama kamu Kak." jawabku sambil mengingatkannya untuk minum. "Kamu gak berpikir aku aneh" Kenapa dia jadi seperti mereka yang datang curhat padaku ya, ah sudah biasa aku menghadapi yang begini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh Ri. "Kamu cakep, sudah punya pekerjaan, kamu bahkan sudah bisa menikah Kak. Apa yang aneh? Untuk ukuran laki-laki mapan apa yang salah itu kembali ke keputusan kamu. Bukan aneh, tapi mungkin belum ada yang cocok dengan mu."
"Kalau tentang pekerjaan ku pendapat kamu gimana?" kali ini dia berani bertanya sambil menatapku. "Kamu hebat, aku dengar pekerjaan mu ini memang apa yang kamu suka ya, hebat loh bisa bikin usaha sendiri, bahkan sampai punya karyawan." "Karyawan ku, saudara ku semua Ri, tidak semua saudara ku bisa sekolah, akhirnya mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang mereka harapkan. Aku hanya ingin membantu mereka juga. Saling membantu niatnya" Aku mengangguk menyetujui nya. "Riri mau ambil jurusan apa? Ibu cerita kalau Riri sekarang lagi bingung mau ambil jurusan apa." Kak Arman, bertanya ya bertanya aja, jangan terus menerus menatapku begitu untung ada meja diantara kami, kenapa aku merasa seperti akan diterkam ya.
"Iya aku masih bingung, aku suka bahasa, tapi tidak ingin ke kelas bahasa, inginnya ke IPA tapi gak kuat sama matematika dan fisika. apa ke IPS aja ya aku lumayan di ilmu sosial dan aku tetap mendapatkan pelajaran bahasa juga. Tapi papa dan mama tadinya lulusan IPA apa mereka akan kecewa ya?" aku menjawab pertanyaan nya, tapi akhirnya aku tenggelam dalam pikiran ku sendiri.
__ADS_1
"Apapun yang akan kamu pilih, aku akan mendukung mu Ri, sudah hampir magrib, aku sebaiknya pulang dulu ya, tolong pamitkan ke Ibu." Arman berdiri dan "Ri, ini bukumu, terimakasih sudah meminjamkan nya, aku jadi bisa mengenalmu, aku tunggu ya Ri secepatnya." Arman melangkah keluar rumah, aku meletakkan buku di atas meja dan mengikuti nya keluar, mama juga, "terimakasih sudah main Nak Arman, maaf hanya bisa menyuguhkan seadanya." kata Ibu didepan teras. "Saya yang berterima kasih Ibu sudah mengijinkan saya ketemu dan berteman dengan Riri. Saya pulang dulu Bu, mari Riri, wassalamu'alaikum." Aku dan ibu "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Gimana Ri, berteman tidak menakutkan bukan?" Aku hanya memberikan senyuman.