
~kita bisa berharap dan berdoa tapi Tuhan lah yang menentukan~
Sesampainya di gerbang ternyata ada Erdian sudah menunggu, tapi Arya bersikeras untuk mengantarkan aku pulang. "Sorry Erdian, hari ini Riri balik sama aku ya, kasihan masa suruh jalan kaki, gini-gini dia udah aku anggap adikku sendiri." Erdian tampak kecewa, aku buru-buru mendekatinya, mumpung Arya sedang ambil motor di parkiran, sementara Tina, sudah pulang dengan bis angkutan proyek, karena hanya dia yang tinggal di lingkungan Proyek Pabrik, mereka menyediakan bis pengantar jemput untuk anak-anaknya para pekerja. Rumi dan Lina selalu pulang bersama-sama, mereka langsung pamitan beberapa saat setelah Tina pulang.
"Maafkan kata-kata Arya, dia gak ada maksud menyinggung kamu." Aku hanya berusaha menenangkan Erdian, semoga mereka tak jadi musuh. Erdian tersenyum, "Gak apa-apa Ri, usiaku kan belum mengijinkan aku bawa motor ke sekolah, Arya hanya menyadarkan aku, aku memang masih kecil dimata nya, oh ya ini untuk mu, maaf kecil. Aku bingung mau ngasih apa, ini pertama kali aku kasih kado ke cewek." Aku menerima kotak kecil dari Erdian. "Terimakasih, seharusnya kamu gak perlu repot-repot. Erdian beneran kita berteman kan?" aku ingin Erdian tau keputusanku atas sikapnya kemarin. "Ya aku tau kamu akan tetap dengan keputusan mu itu Ri, kita akan berteman, seperti keinginan mu. Itu Arya datang. Aku pulang ya Ri, karena kita teman mulai besok setiap istirahat pertama, aku akan datang menemui kamu di depan kelasmu Ok?" Erdian langsung pergi lagi-lagi aku belum jawab udah kabur dia. Arya benar-benar menakutkan kah?
__ADS_1
"Kemana itu si Erdian?" sesaat setelah menghentikan motornya. "Udah balik takut sama kakak yang galak" ledekku pada Arya, wajahnya langsung cemberut 😠, tapi tetap lucu aja buatku. "Orang item tuh gak akan keliatan kalau marah, senyum aja biar kakak ada yang naksir, kalau gak mau ada gosip soal kita, kamu sebaiknya mulai cari pacar sekarang" imbuhku sambil duduk di belakang Arya. "Pegangan gak nih? Ntar diturunin di jalan lagi!" Arya tersenyum juga, "Biasa aja lah de, aku kan gak bawa kamu ngebut,kamu aja yang nyariin de, kalau ceweknya mau bakal aku jadikan pacar." " Tumben panggil de, ada maunya ya"
Kami pun pulang, Arya tidak pernah mengantar sampai rumah, walaupun kami sudah sahabatan sejak lama. Takut dikira pacar katanya. Padahal dia nganter sampai depan gang juga pasti dikira pacar.🤦 Setelah ku ucapkan terimakasih, Arya melanjutkan perjalanan pulang.
Baru sampai ditengah gang, dari belakang terdengar suara yang mulai gak asing di telingaku. "Baru pulang Ri?" Aku membalikkan badan mencari sumber suara, eits... wajahnya Kak Arman sudah ada disana "terlalu dekat" batinku menggebu. "Eh kakak, iya Kak. Baru pulang ini." Aku berusaha berjalan lebih cepat. "Nanti aku ke rumah ya mau balikin buku, kan aku sudah janji, masih ingat?" lanjut nya sambil tetap berjalan di dekatku. Aku hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Hari ini aman, Mah, dapat kado gak nih?" "Tuh mama udah masakin kesukaan kamu. Ayam pindang, ikan asam Paseh, sambal terasi, labu rebus, ayo cepat ganti baju kita makan, adikmu juga udah pulang cepat tadi, katanya ada rapat, dan kayaknya kakakmu pulang malam ini." Mama langsung duduk lesehan di dapur, semua makanan yang tadi disebutkan sudah ditata rapi disana. Putra adikku, juga sudah menunggu, tapi dia sibuk jagain Kiki keponakan kami yang super kiyut itu.
Selesai bersihkan diri, ganti baju, ayo kita makan dulu guys...Mama memimpin doa, tak hanya bersyukur untuk rejeki makanan kami hari itu, tapi juga mendoakan ku. Aku sungguh bahagia hari itu, aku mengecup pipi mama kanan dan kiri juga keningnya. "Terimakasih Mah" "Sudah, ayo makan!"
Kita makan dulu guys, lanjut besok ya...
__ADS_1
Kak Arman akan datang bawa apa ya....