Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
Ketakutan ku...


__ADS_3

Sesungguhnya tidak ada anak yang menanggung dosa orang tuanya, tidak pula orang tua menanggung dosa anaknya, menurut ku yang ada itu kesalahan anak selalu menjadi beban orang tua, dan kesalahan orang tua tak jarang dibebankan kepada anaknya. Seperti apa dan bagaimana kamu menyikapinya akan kembali padamu sendiri. Apa yang kita tanam itu pula yang kita panen, tidak ada hubungannya dengan kesalahan atau dosa orang lain. Janganlah dendam karena Tuhan saja Maha Pemaaf, jangan menyakiti karena karma itu nyata walaupun lambat dan tak terduga, terjadi jika kita sudah mulai lupa dosa.


β˜ΊοΈπŸ™πŸ€­πŸ‘πŸ’–πŸ€” ayooo kita lanjutkan...


Semoga semua sehat dan bebas corona, dan mendapatkan banyak rejeki uang halalnya aamiin.



Keesokan harinya aku dan Arman pamit pada Nenek. Kami memutuskan untuk kembali lebih pagi, agar masih ada waktu untuk beristirahat setelah sampai di rumah nanti.



Tak lupa, Nenek membawakan kami jeruk hasil panen kemarin, juga beberapa sayuran lain hasil kebunnya, dan yang terutama aku membawa pulang restu dan doa dari Nenek.



Aku memeluk nya lama sekali, setiap aku mengunjungi Nenek, doaku di dalam hati hanya ada satu, jika benar kata orang, jikalau orang baik selalu lebih cepat dipanggil kembali oleh Tuhan. Maka kabulkan doaku Ya Tuhan, jangan kau panggil dulu nenekku, hingga nanti beliau sudah bisa ku bahagiakan.🀲🀲🀲aamiin.



"Riri, pamit pulang ya Nek, jaga diri Nenek baik-baik ya. Kelak ada waktu Riri kan datang mengunjungi Nenek lagi." Aku mencium kening dan tangan kanan Nenek. Arman pun mengikuti. Sejak aku melanjutkan sekolah ke tingkat menengah pertama di kota B, Nenek tinggal sendirian saja dirumahnya. Ingin rasanya segera lulus SMA, melanjutkan kuliah dan lulus juga dari universitas itu segera, kemudian bekerja di kota C, agar bisa menemani Nenek lagi.



"Sudah waktunya untuk pergi Ri," Nenek mengagetkan ku. Kami pun naik motor, dan berangkat menuju kota B. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dah Nenek!" Kami mengucapkan salam bersamaan dan melambaikan tangan. Senyum nenek mengembang, menguatkan ku.



Cuaca cukup bagus hari ini, sehingga aku dan Arman bisa berkendara dengan aman dan nyaman.



" Kenapa kamu menurunkan kecepatan?" tanyaku ketika laju motor melambat.



" Sudah deket sih dengan kota B, tapi takutnya kamu lelah dan mau istirahat." Jelas Arman kenapa dia memperlambat laju motornya.



"Enggak usah istirahat, tapi jalan motornya segini aja, jadi bisa sambil ngobrol sama kamu, ya?" Aku memeluk pinggang nya cukup erat.



"Oke siap Bos Nyonya," aku bisa merasakan Arman tersenyum, saat mengucapkan nya, walaupun tidak menengok ke arah ku.



"Kenapa kamu takut dengan hubungan kita?" Sambung Arman, ketika aku hanya diam saja dan menyandarkan kepalaku ke punggungnya. Padahal pakai helm, kan berat ya?🀭



"Aku boleh buka helm nya gak?" Sejujurnya dengan penyakit di kepalaku ini, agak melelahkan harus berjam-jam memakai helm.

__ADS_1



"Sebentar kita keluar dari jalur jalan Kota dulu ya," Arman mencari rute yang aman untuk berkendara tapi boleh tidak menggunakan helm sebagai kelengkapan nya.



Setelah berbelok di perempatan utama, menuju alun-alun kota B dan masuk ke jalur pinggiran kota, aku sudah bisa melepaskan helm ku sekarang.



"Sini helmnya biar di taruh didepan, jadi Riri tidak repot."



Aku mengangguk dan memberikan helm ku pada Arman.



"Kak Arman aku bukannya takut dengan hubungan kita, tapi aku berpikir orang-orang di keluarga Kakak akan membenciku jika tahu ada kesempatan dari sikap Tiwi untuk menjatuhkan ku. Entah kenapa feeling ku kuat sekali. Akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada hubungan kita."



Arman menepi, dan berhenti, "Riri, yang punya hubungan ini kita, yang ingin menikah juga kita, kenapa kamu masih tidak tenang juga."



"Mungkin dulu kamu yang mengejar ku, tapi sekarang aku tahu, aku justru yang memiliki perasaan lebih kuat untuk mu, aku bahkan sudah terbiasa dengan kehadiran mu, katakan padaku apa yang terjadi jika semua ini hilang, apa yang akan terjadi pada ku jika kamu pergi dari hidupku?" Aku mengutarakan isi hatiku, semuanya semuanya...




"Aku tidak pernah punya hubungan spesial dengan pria manapun kamu yang pertama, kamu juga yang mencium dan memelukku


pertama kali. Padamu juga aku menaruh harapan besar untuk di cintai dan diterima sepenuh hati. Ya kamu bisa menerimaku apa adanya, tapi keluarga mu, mereka akan mencari-cari kesalahan ku agar bisa menjauhkan mu dari ku.' Entah darimana asal semua kata-kata itu. Setelah mengatakan nya, bukan hanya lega tapi aku juga merasakan sakit menusuk hatiku.



Arman memelukku, aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. "Arman ini di jalanan." Ia pun melepaskan ku. "Maaf, tapi berjanjilah jangan katakan ini lagi, aku sungguh menyayangi dan mencintai mu setulus hati. Aku akan menjagamu Ri, dari keluarga ku sekalipun." Arman menggenggam tanganku erat-erat. Menenangkan ku, aku hanya diam mematung di hadapannya.



"Sudah siap pulang?" Tanya Arman sambil memandang wajah ku dengan penuh kelembutan, ia jelas masih khawatir dengan keadaanku.



Aku mengangguk, "Arman, setelah aku lulus, ayo kita menikah, tapi kita tunda punya momongan, aku ingin melanjutkan pendidikan ku untuk kuliah, aku ingin hidup bersamamu berdua saja, bisakah?"



"Hmmm, aku juga ingin begitu Ri, tapi kamu juga tahu keadaan keluarga ku. Sebenarnya rumah yang ditempati keluarga ku itu milikku Ri, jadi tidak mungkin setelah menikah kita hidup hanya berdua saja, apakah kamu kecewa Ri, aku tidak ingin memberikan harapan palsu padamu. Tapi aku pasti akan melindungi mu Ri, aku tahu kamu takut, masalah keluarga mu akan mengganggu hubungan kita, tenang lah Ri." Arman menarik tanganku agar aku segera kembali duduk di atas motor, agar kami bisa melanjutkan perjalanan pulang.


__ADS_1


Jika firasat ku benar dan semua kekhawatiran ku juga benar. Apa yang akan terjadi, sebagian hatiku terasa mulai membeku, seperti ada dinding es yang melindungi hatiku yang rapuh ini. Semua lukanya begitu sakit, semua perlakuan yang aku terima di masa lalu, sudah menyisakan banyak luka yang tak berdarah dalam hati, sudah sejak lama aku berusaha belajar dengan giat agar papa mengakui ku. Tapi akhirnya aku tidak perduli dengan hasil belajar ku, yang penting aku berhasil memuaskan diriku sendiri dan bangga akan prestasi ku sendiri. Suka atau tidak inilah aku.



Sepertinya aku juga tidak bisa berharap apapun pada Arman. Apa yang ada di hadapanku hanya bisa aku jalani saja sekarang. Mungkin Arman hanya obat pelipur laraku. Arman tidak menyadari aku berubah sejak saat itu, semua tak lagi sama. Di mataku teman, keluarga, saudara bahkan kekasih tidak ada yang benar-benar memahami dan mengerti aku.



"Ri, kita sudah sampai, kamu melamun?" Arman menatapku. "Apakah kamu menangis sepanjang perjalanan kita tadi Ri? Apakah aku mengecewakan mu? Kita turun Ri, kamu mau bicara lagi di rumah?"



Aku turun dari motor, mengambil barang-barang ku. Pikiran ku kosong, bukankah banyak di luar sana yang memiliki masalah seperti ku, atau mungkin lebih berat dari ini. Aku tidak seharusnya membesar-besarkannya. Arman juga tidak pantas ku sakiti. Ini bukan salahnya.



Arman mengikuti ku dari belakang, kami berdua masuk rumah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mama menyambut kami, entah karena bahagia aku pulang, atau karena oleh-oleh dari nenek.



Aku meminta Arman untuk duduk di ruang tamu sebelum pulang.


"Kak...jika aku terlalu menjadi beban mu, lepaskan saja aku. Aku tidak akan menyeret mu jatuh bersamaku. Aku juga menyayangi dan mencintai mu, jika ada orang lain yang kamu sukai pada saatnya nanti, dan kamu ingin memutuskan hubungan dengan ku, jangan ragu, apapun demi kebahagiaan mu, aku rela."



"Ri jangan berkata seperti itu, kamu sedang tidak baik, pikiran dan hati mu, sedang tidak baik. Jangan begini Ri, aku ada untukmu. Kamu tidak sendirian oke?" Arman menguatkan ku. Memelukku tanpa memperdulikan ada mama atau orang lain yang melihat nya.



"Aku akan baik-baik saja, aku sudah hidup selama 18tahun seperti ini. Aku sudah terbiasa kak Arman. Aku akan tetap seperti yang kamu mau, besok tetap jemput dan antar aku ke sekolah ya, hanya tinggal beberapa bulan lagi aku sekolah, ujian dan menunggu hasilnya. Lalu kuliah, dan dalam perjalanan itu, jika engkau masih di sisiku, itu tandanya Tuhan masih menyayangi ku." Aku membenamkan kepalaku di dada Arman.



"Aku sudah boleh pulang sekarang?" Tanya Arman. Aku mengangguk, "Bisakah kamu kesini setiap hari? Apakah kamu akan merasa bosan jika melakukan itu?" Pintaku saat dia sudah sampai di depan pintu.



"Kenapa harus bosan? Ya aku akan menemani mu setiap hari mulai sekarang, aku akan bekerja di saat kamu sekolah, dan akan bersamamu saat kamu di rumah, seperti itu?"



Aku mengangguk lagi, Arman mencium keningku dan mengusap kepalaku sebelum pergi. "Terima kasih Arman..."



"Aku mencintaimu Riri Rahadian Zain"



Arman pun kembali ke rumah nya, aku kembali ke dalam rumah, sudah siap menghadapi segalanya.


__ADS_1


Katanya pengalaman hidup bisa mendewasakan kita, ya itu benar, dan bersyukurlah sekarang banyak orang membagikan pengalaman hidup nya pada banyak orang, agar kita bisa mengambil ilmunya tanpa harus merasakan pahitnya kehidupan itu.


Terima kasih, semoga suka jangan lupa like komen dan vote ya πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ‘


__ADS_2