
"Ding Ding Ding" suara bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi. Aku dan Rumi saling berpandangan dan "akhirnya selesai" ucap kami hampir bersamaan βΊοΈ.
"Baiklah Riri dan Rumi, terimakasih atas kerjasama hari ini, semoga di lain hari kalian bisa menemani Bapak berjaga piket lagi". kata-kata Pak Huda membuat kami berdua lagi-lagi saling berpandangan bingung tapi juga senang.
"Jarang-jarang Bapak punya fans, makanya Bapak senang dengan kalian berdua". Pak Huda pergi meninggalkan kami berdua.
Rumi menyenggol punggung ku, sambil berbisik "Pak Huda gak salah minum obat kan?".
"Kamu ini, dia Guru Killer loh, tapi kita berdua kan sama-sama tau kalau beliau galak karena ingin kita serius belajar kan Mi." jawabku sambil menggembok pintu gerbang sekolah.
Rumi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ayo, serahkan kunci gerbang ke kantor TU. Kita juga harus cepat masuk kelas kan."
Kami berdua pun bergegas menyerahkan kunci, dan segera ke kelas. Percayakah kalian, aku juga menjadi sekertaris kelas loh. Gak ada capek nya ya... menutupi kekurangan dengan berusaha menunjukkan yang ku bisa. Itu prinsip ku.
Sampai di kelas mengabsen teman-teman, mengisi jadwal hari ini, menghias papan tulis seadanya, karena semua harus serba cepat sebelum..."Riri, Bu Desi sudah datang tuh!" seru Arya teman sebangku ku.
Loh kok Arya? bukan Rumi?
Kan tadi di awal aku sudah cerita, temenku kebanyakan cowoknya π€π€π€. Rumi Tiffany adalah satu dari tiga sahabat cewek yang ku punya di sekolah ini.
Nah kalau Arya ini, sudah berteman denganku sejak SMP. Aku kasih tau kamu ya, dia itu so black you knowπ€π€π€ tapi hatinya so pure and white πππ dia dan aku sudah seperti kakak adik. Gak perduli apa kata teman-teman yang lain, kami tetap lanjut berjalan. iyalah kan jalannya pakai kaki sendiri. Aku paling suka sama Arya, karena eh karena dia jago banget soal matematika dan fisika...hahaha.
__ADS_1
Nah jadi kita itu saling membantu awalnya, di pelajaran bahasa dan sosial dia membutuhkan ku, di matematika dan fisika dia guru keduaku, sejak SMP nih, dan Tuhan sungguh baik padaku...di SMA aku sekelas lagi dengannya πππ.
Tapi jangan salah, dari 7 kelas 2 di sekolah. Kelasku terkenal yang paling solid loh. Kami beneran saling membantu jika ada teman sekelas yang kesulitan di satu mata pelajaran. Aku bukan yang terhebat, tapi di kelas bahasa aku lumayan good lahπ€π€π€.
Di kelasku bebas memilih teman sebangku, sebentar sebentar, kan duduknya sendiri-sendiri ya, kenapa disebut sebangku ya bukan semeja?π€π€π€.
π€ ya seperti itulah jadi aku memilih duduk disebelah Arya. Rumi duduk di depan meja kami, bersama Herlina nah ini nih sahabat kedua cewek yang ku punya.
Herlina, ini langsing, tinggi, rambut panjang terurai dan manis banget, tapi teman sekelas memanggil nya Si pensil. Kebayang kan betapa slim nya si Herlina ini.
Kalau dianggap sedang perang, benteng pertahanan ku sudah oke kan? Ulangan maksudnya, disebelah ada Arya, didepan ada Rumi dan Herlina. Terus nyontek gitu? ya enggak dong...
Pelajaran Bu Desi sudah selesai, dua jam pelajaran matematika yang walaupun sudah setengah mati aku kerjakan tetap saja membingungkan. Aku menundukkan kepalaku di atas meja. Bahkan aku sudah tidak perduli Bu Desi sudah keluar ruangan kelas apa belum.
Arya mengusap kepalaku "Kenapa? gak ngerti lagi Materi hari ini?" tanyanya sabar. Aku hanya mengangguk dengan masih menunduk.
"Arya, aku harus bagaimana? kenapa otakku ini susah sekali memahami rumus rumus itu..tidak bisakah matematika menjadi semudah bahasa?" aku lama memandangi nya. " Awas jangan lama-lama menatap nya nanti jatuh cinta." kata Arya menyadarkan ku. "Apaan sih kamu, bukan kasih solusi malah ngeledek." gerutu ku.
Akhir semester genap di tahun kedua ini sebentar lagi selesai, setiap murid-murid harus memilih satu jurusan yang akan diambil di kelas 3 nanti.
Ah kakak-kakak senior dari kelas 3 IPA memang selalu terlihat keren dan WOW gitu loh. Hanya itu yang muncul setiap kami bertemu dengan kakak senior dari jurusan IPA. Mereka bahkan mendapatkan kelas terbaik loh, dekat dengan ruang guru dan akses tercepat kemana saja.
__ADS_1
Pandangan ku berpindah ke sebelah kiri,tampak sebetis ruangan kelas yang bersih, didepannya tertata rapi pot-pot kembang dengan bunga warna warni yang tertanam didalamnya. Berbagai gambar seni di dinding depan kelas mereka. Loh kok boleh dicorat-coret?
khusus kelas 3 jurusan IPS mereka diberikan hak untuk menghias dinding luar kelas mereka dengan kreasi setiap siswa di kelas masing-masing. Seru ya..
Dan satu kelas bahasa, ruangannya tidak besar. Letaknya pun agak gimana gitu. Memang nya bagaimana? Berada di tengah-tengah antara kubu IPA dan IPS.
Kakak-kakak dari kelas Bahasa selalu terlihat cupu. Karena mereka selalu membawa tumpukan kamus-kamus yang besar dan berat kelihatan nya. Sebagian dari mereka menggunakan kacamata, tapi mereka adalah pencinta damai
Ah aku bingung mau pilih yang mana?
πππππ
_________"-"__________
Menurut kalian nih Riri harus memilih yang mana di tahun ketiga nanti?
klik like dan komen ya
terima kasih πππππ
see u soon
__ADS_1