Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
membenci atau memaafkan bagian 1


__ADS_3

Ketika masih sekolah, ingin rasanya cepat-cepat lulus, bisa kuliah dan bekerja, menghasilkan uang lebih banyak dan membahagiakan orang tua, tetapi kenyataannya, ketika sudah lulus, belum tentu seperti itu, dan justru merindukan masa-masa sekolah itu...


******************** *'_'* *******************


Hari-hari setelah malam itu, terasa begitu berbeda, di sekolah pun aku jadi tidak bersemangat, benar seperti kata Erdian, aku terpilih untuk mewakili siswi kelas 2 untuk acara kebudayaan di kota C, dari setiap tingkatan kelas dipilih 1siswa dan 1 siswi, dari setiap organisasi sekolah dipilih juga 2perwakilan, jadi lumayan banyak peserta yang mengikuti acaranya ini. Tapi aku tidak fokus, dan tidak terlalu bersemangat seperti biasanya, kalau ditunjuk untuk ikut acara tertentu di sekolah.


"Kamu juga terpilih De?" Terdengar suara yang sudah sangat lama ku kenal, ya itu suara Arya. Aku mendapati dia sudah berdiri di depanku. Semua peserta tengah berkumpul di aula untuk mendapatkan pengarahan.


"Sepertinya kak Arya juga terpilih, entah ini kebetulan dan keberuntungan, atau ini harusnya aku tolak saja?" Aku sadar ucapanku menyakiti nya. Aku diam, dan berusaha tenang


"Aku minta maaf Ri, aku tidak bermaksud menjauh darimu seperti ini, tapi kamu pasti mengerti, diminta atau tidak aku akan menjagamu Ri, jadi bersikaplah biasa saja. Aku tau kamu berhak marah, Ri kamu akan selalu jadi adikku." Arya masih saja berdiri disebelah ku, tidak berusaha pergi atau pindah ke tempat lain.


"Aku tidak marah, aku takut ada teman dari Sasha disini yang melihat mu dan berpikir, kalau kamu menjadi orang yang berbeda saat Sasha tidak ada, aku tidak mau disalahkan."


Arya melihatku, tetapi pandangan nya berubah ketika Erdian datang.


"Kamu juga disini?" Tanya Arya, terlihat jelas raut wajah kesal disana.


"Ya, tapi bukan mau ku, ini wali kelasku yang mengusulkan. Tapi setelah tahu Riri juga terpilih, ku putuskan untuk menerima usulan tersebut. Paling tidak aku jadi bisa lebih dekat dengan Riri kan?" Erdian menjawab Arya, dengan kata-kata yang tajam.


"Kalau begitu aku tidak perlu khawatir," Arya melangkah pergi meninggalkan kami berdua.


Aku diam tak bergeming, Erdian pun diam saja, tapi dia tidak pergi dia berdiri disebelah ku. "Syukurlah ada kamu Erdian" batinku.

__ADS_1


Dari acara briefing, kami menerima informasi bahwa setiap peserta harus mengikuti acara selama 3hari, tidak boleh membawa alat komunikasi, harus fokus dengan acara panitia sampai selesai, ya sudah mau bagaimana lagi, sudah terpilih dan sudah menyanggupi.


Hari ini aku pulang sekolah tidak dijemput Arman, aku memilih untuk pulang sendiri, tapi tak disangka Erdian mengatakan ingin pulang bersama, walaupun hanya sampai batas ujung pertigaan jalan utama menuju rumah ku. Aku pikir tak apalah, jika bisa ditemani seorang teman, mungkin akan ada pencerahan yang ku dapatkan.


"Kamu terlihat tidak senang Ri," tanya Erdian sambil menuntun sepedanya.


"Ya, seandainya bisa ku tolak, aku ingin menolak permintaan Bu Desi, yang memilih ku, aku takut mengecewakan nya." Jawabku singkat.


Erdian menatapku, "Kamu ada masalah Ri?"


"Ya, bisakah aku bertanya sesuatu padamu,"


Erdian mengangguk.


"Tidak bisa begitu saja memaafkan Ri, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan, jadi pasti, tetap harus ada hukuman untuk itu. Tapi kamu bisa menyelidiki terlebih dahulu, alasan atau ada hal apa yang menyebabkan orang tersebut jadi melakukan sebuah kesalahan, setelah tahu penyebabnya baru kamu bisa menentukan hukuman yang tepat Ri. Itu baru adil, dan ingatlah, sangat penting untuk mendengarkan banyak pendapat atau penjelasan dari orang-orang yang tahu masalah ini, jangan hanya mendengarkan dari satu sisi saja."


Penjelasan Erdian memberi ku sebuah harapan, "mungkin kakak tidak benar-benar jahat dan tega pada keluarga, ya benar pasti ada sesuatu yang membuatnya melakukan semua itu," pikir ku. Tanpa kusadari aku tersenyum.


"Sepertinya jawabanku, bisa kamu terima ya, mungkin kamu sudah punya jawabannya, tapi kamu ingin mendengar nya dari orang lain, aku senang bisa melihat mu tersenyum Ri, dan bagaimana jika kita anggap saja 3 hari ke depan, itu sebagai liburan dan menikmatinya. Oke?" Erdian menatapku dan kemudian berhenti lalu berpamitan, "Kita berpisah jalan disini ya, sampai ketemu besok."


Aku mengangguk dan melambaikan tanganku, Erdian pun berlalu.


Aku kini menyusuri jalan sendirian, di dalam hatiku bertanya, "Seandainya aku juga bertanya pada Arman, apakah tidak apa-apa? Tapi bukankah Erdian bilang semakin banyak saran semakin baik?"

__ADS_1


Tak kusadari, kakiku sudah memasuki halaman rumah. Dan Arman ada disana duduk bersama mama, di dapur kami. Aku bisa melihat jelas dari luar, karena pintu dapur kami tepat disamping rumah, dan posisinya memang mudah terlihat dari luar.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Aku memberikan salam, memasuki rumah, melepaskan sepatuku. Mencuci tangan dan kakiku sebelum melangkah ke dapur, karena di depan dapur, memang disediakan tempat untuk berwudhu bersebelahan dengan tempat mencuci.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Mama dan Arman hampir bersamaan. Saat aku benar-benar sudah masuk ke dapur, bisa kurasakan ada suasana yang berbeda.


Aku mencium tangan kanan mama juga Arman. Lalu duduk di tempat duduk lesehan dan bertanya pada mereka.


"Kok tumben mama sama kak Arman ngobrol berdua. Putra sama Kiki kemana Mah?"


"Ada di dalem, Putra sudah pulang kok, aman diantar Mang Sahri, sekarang lagi mainan sama Kiki, dikamar kakakmu." Kata Mama. Mang Sahri itu tukang becak langganan Mama.


"Gak ngobrol apa-apa kok Ri, tapi apa bener kamu mau berhijrah Ri?" Tanya Arman.


Aku kaget dan menatap mama dan kemudian berbalik menatap Arman. "Mama serius nih cerita ke Arman?" Batinku, duh...tapi aku memang penasaran juga apa pendapat nya.


"Kalau benar iya, aku mendukungmu Ri, itu memang lebih baik, dan Ri, aku juga sudah sampaikan ke Mama, kalau aku berniat untuk serius dengan mu, aku gak ingin main-main Ri, jika orang tua mu tidak keberatan aku akan melamarmu agar kita bisabertunangan."


Aku tidak menjawab apapun. Hanya melongo bengong dan tidak menyangka, ini baru jadian berapa hari ya.... Apa gak terlalu cepat? Apa Arman gak salah makan obat? Mimpi apa ya aku semalam?" Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri.


"Mama setuju Ri kalau Arman mau serius sama kamu, mama jadi tidak khawatir." Mama bicara seperti itu tanpa diskusi dulu denganku, aku terbata-bata mau jawab apa, kok malah kayak ditodong begini jadinya.


"Ntar dulu sebentar, sebelum Ri jawab ya, Ri mau bilang dulu, Ri terpilih sebagai perwakilan buat acara kebudayaan di kota c, jadi harus tinggal disana 3hari, masalah hijrah iya Riri memang ingin bisa berhijab, semoga bisa jadi manusia lebih baik, merasa lebih aman kalau tertutup, ya seperti lebih terjaga🤔, kalau masalah tunangan nanti aja ya, tunggu Ri sudah selesai ujian kelas 3." Aku menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


Tanpa menunggu, aku berdiri dan masuk ke kamar, mengganti pakaian, dan menyiapkan semuanya untuk besok. Setelah itu kembali ke dapur, tak disangka kak Arman masih di rumah. Dia tertidur di karpet di ruang tengah kami. 🤔🤔🤔 Sebenarnya apa saja sih yang dibicarakan nya dengan Mama." Aku penasaran!!!"


__ADS_2