Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
Kado Terindah Untuk ku...


__ADS_3

"Riri.,." bisikan suara mama di telinga bikin tubuh ku merinding. "Hmmm iya mah.." Hoaaaam sungguh masih berat mata ini, tapi sudah niat mau berdoa memasrahkan semuanya pada Tuhan.


Semenjak Papa harus bekerja jauh di Kota besar D, demi membiayai kami semua. Kami harus rela berpisah jauh dengan papa. Papa adalah idolaku, penuh tanggung jawab, walaupun beliau tidak pernah memanjakan aku, papa selalu bilang banyak laki-laki jaman sekarang yang terbebani, sebagai suami dan orang tua, tetapi jika dikembalikan pada janji Tuhan, dimana laki-laki selalu mendapatkan rejeki lebih banyak dari perempuan, maka percayalah harta itu bisa dicari, tapi kasih sayang sebuah keluarga itu tak mudah dicari. Semoga kelak dapat suami seperti Papa, yang mau bekerja keras untuk menafkahi dan membahagiakan Istrinya dan anak anaknya, aamiin. Sejak itu aku sering menemani mama bangun malam, dan mama juga yang mengajarkan untuk mengerjakan sholat malam.


Ketika masalah sudah menumpuk tidak ada lagi solusi, sholat malam, itu pesan mama. Doa dan harapan sudah ku ucapkan, ku kecup punggung tangan kanan nya, eh aku dapat kecupan lagi di kening. "Muach, selamat ulang tahun, semoga sehat dan bahagia selalu, semoga yang kamu cita-citakan tercapai." Kami bersamaan mengucapkan aamiin. Selalu mama jadi orang pertama yang mengucapkan nya.


"Terimakasih Mah." Ucapku sambil memeluknya, "Mama juga yang sehat, papa juga, semuanya juga, maafin Riri masih banyak salah dan belum bisa bahagiain Mama dan Papa." Tak terasa air mata ini menetes. "Sudah-sudah, yuk bantu mama di dapur." Ya seperti itulah hari-hariku. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan Ibu rumah tangga, menjaga adik dan keponakan, membuat ku tak seperti gadis remaja yang bisa bersenang-senang di luar, jalan-jalan dengan teman ke mall, asyik sama pacar. Semua itu tidak pernah terjadi padaku.

__ADS_1


Tapi melihat senyum mama, bisa bersamanya dimasa sehatnya, menemani dan mengasuh adik serta keponakan di rumah, membuat ku merasa penting, merasa dibutuhkan dan bahagia. Aku bisa bertemu dengan Rumi juga Lina, serta Arya di sekolah, bertukar cerita, jika mama mengijinkan aku juga bisa berkunjung ke rumah mereka. Tapi tidak dengan rumah Arya tentunya🤭. Itu sudah cukup bagiku. Kami mungkin tidak bisa jalan-jalan ke mall, tapi kami bisa pulang sekolah bersama-sama, dan menikmati jajan es juga cilok atau batagor di kantin.


Oh ya masih ada satu orang lagi yang belum ku kenalkan pada di kalian, aku punya satu orang lagi sahabat cewek namanya Tina, kami juga berteman sejak SMP, tapi lucunya di SMA dia satu-satunya yang berbeda kelas dengan kami berempat. Hal ini yang membuat kami sulit bertemu, dan Tina selalu manyun jika merasa kami melupakan nya 🤭🤭🤭.


"Semoga di sekolah tidak ada yang ingat ini hari apa," batinku ketika sudah masuk gerbang sekolah, berjalan menyusuri koridor kelas 1, "Semoga tidak bertemu dengan Erdian," dan aman kelasnya masih sepi. Sampai lah di kelasku tercinta, "Ah walaupun kadang pelajaran sekolah membuat ku ingin menyerah, tapi kalau ingat harus bisa kerja cari uang itu susah, ya mau gak mau harus berusaha, semangat!" ucapku menyemangati diri sendiri mumpung sepi.


"Pagi Rumi, Lina, aku rindu!" aku memeluk mereka satu-persatu. "Emangnya kakak abis dari mana?" jawab Lina. "Dari dulu Lin, kan cuma kak Ririmu aja yang begitu setiap kali bertemu. Kayak kemarin gak ketemu aja." imbuh Rumi sambil membersihkan kelas. Aku tersenyum, "Kalian memang yang paling mengerti aku." Semoga teman-teman yang lain juga bersikap seperti ini ya lupa kalau hari ini hari ulang tahun ku. Doaku dalam hati.

__ADS_1


Sekolah pun berjalan dengan aman lancar jaya, hihihi... sampai tiba istirahat kedua, aku membagikan permen cokelat pada teman-teman. "Teman-teman maaf ya hanya bisa membagikan ini untuk kalian, semoga suka. Kalau selama ini aku ada salah mohon maaf lahir batin ya." ucapan ku di depan kelas mengagetkan mereka semua.


Andika, ketua kelas kami maju dan menjabat tanganku, "Riri, sebenarnya kami ingat hari ini, hari jadimu, tapi seperti yang kami tau, kamu gak suka dirayakan ala kita kita, jadi kami hanya bisa mendoakan mu. Aku mewakili teman-teman mengucapkan selamat ulang tahun ya semoga sehat dan panjang umur, ayo teman-teman," "Aamiin" tak terasa terhura aku eh terharu. "Terimakasih teman teman" Aku tersenyum pada mereka semua dan membagikan permennya.


Untunglah hari ini tidak ada yang aneh-aneh. Bahkan Erdian pun tidak menggangu. Tiba waktunya pulang, "Tunggu Ri," Arya menarik tanganku. "Sebentar jangan pulang dulu," lalu Arya, Rumi dan Lina, masing-masing memberikan ku kado. "Ah sahabatku apa ini?" senang sekali aku, walaupun gak tau apa kadonya. "Riri....Riri...ini juga kado dariku...tiba tiba Tina datang dan langsung memeluk ku." Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, karena berlari dari kelasnya mengejar waktu takut aku sudah pulang.


Ku peluk Tina, "Aku sayang kamu, Tina." Tina tidak menjawab tapi dia memeluk ku lebih erat. "Ayo kita keluar sama-sama, hari ini belum bisa kumpul sama-sama yang penting hati kita selalu bersama. Terimakasih ya semua." Senyum terkembang di bibir kami berlima berjalan beriringan, waktu yang tidak lama tapi saat-saat seperti ini yang kelak kami rindukan.

__ADS_1


__ADS_2