Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
Di rumah ku...dan rumahnya...


__ADS_3

Dikatakan, jika kamu memanjatkan sebuah doa yang penuh dengan ketulusan dan keikhlasan ketika hujan turun, maka akan terkabul...Yuk berdoa yang baik mumpung lagi sering turun hujanπŸ€­πŸ™πŸ˜‡πŸ’–πŸ’–πŸ’–




Riri, sudah sampai di gerbang sekolah, "Duh Kak Arman mana ya, kalau tidak pulang sekarang, nanti telat sholat Dhuhurnya, ya sudahlah sholat saja dulu di masjid sekolah deh." Pikirku, sambil menunggu Arman datang.



Selesai sholat, aku mencari\-cari lagi, hmm sepertinya Arman sibuk. Ya sudahlah pulang sendiri saja, toh selama ini aku juga pulang sendiri. "Semangat!" Ucapku, teman\-teman yang mendengar ku tersenyum, Aku pun ikut tersenyum, sambil menunduk tapi tetap berjalan pulang. Sesampainya di pertigaan jalan utama, aku belok kanan menuju satu\-satunya jalan ke rumah. Kak Arman tampak melewati ku dengan terburu\-buru, dan memutar balik. "Riri... maafkan aku, aku harus mengerjakan sesuatu tadi, maaf Ri." Dia menghentikan motornya, sebelum menarik tanganku untuk mendekati nya. Aku justru sudah duduk di belakangnya, "Cepat jalan, aku cape, kalau aku drop, aku gak ke rumahmu ya." Tanpa memikirkan apapun, aku menyadarkan kepalaku dipunggungnya. Pusing sekali.



Sampai di depan rumah, aku turun, mengucapkan terimakasih, Arman menarik tanganku, aku pun berada dekat dengannya sekarang. Sambil memegang keningku, "Kamu sakit Ri? Kamu pucat sekali loh." Arman terlihat khawatir. "Enggak kok, hanya khawatir sama mama aja, jadi agak pening. Semoga habis istirahat agak enakan." Jawabku pelan. Dia pun melepaskan pegangannya, memutar badanku sehingga membelakanginya, "Ya sudah, kamu istirahat saja, kalau gak enak badan, atau gak enak hati, kamu di rumah saja. Gak perlu ke rumahku, mungkin lain waktu. Nanti aku ke rumahmu ya, boleh kan?" Aku mengangguk dan berjalan pulang.



Sampai di rumah, keadaannya cukup lengang, kok sepi ya, "Assalamualaikum Mah, Maaah!" seruku membuka pintu dan masuk karena kebetulan tidak di kunci. Ternyata mama sedang tidur siang, disebelahnya ada Kiki yang juga terlelap. Putra tidur siang juga di depan tv yang menyala. Pantas saja sepi tadi, terdengar suara orang ternyata tv. Kemana Kak Tiwi ya? Ah sudahlah, aku ganti baju dulu,


lalu bersih\-bersih, masak gak ya?πŸ€” Belum ada lauk untuk sore ini, ya sudahlah masak aja. Harus ke warung dulu tapi. Aku kembali ke kamar, mengambil dompet ku, untungnya aku selalu menyisihkan uang jajan ku, kadang aku tidak jajan sama sekali, demi menambah jumlah tabungan ku di rumah. Aku pelan\-pelan keluar rumah, agar yang tidur tidak terganggu, baru saja menutup pintu, "dug" punggung ku menabrak sesuatu, belum juga ditengok, Arman sudah menempelkan pipinya disamping wajahku. "Kamu, awas ah nanti ada yang lihat, malu kan," pekik ku. Sekarang ini wajah Arman benar\-benar dekat sekali dengan wajahku, lalu dia berbisik "Jadi kalau gak dilihat orang boleh?" "Ya gak lah, \(aku mencubit tangannya\), kamu itu baru 2 hari, udah macem\-macem ya!"

__ADS_1


"Duuuh sakit Ri," aku berhenti mencubitnya. Kami pun berdiri agak berjauhan. "Tunggu kamu mau kemana, ikut yuk ke rumah ku," ajak Arman. "Maaf Kak, kayaknya gak bisa, di rumah sedang tidur semua, mama juga kelihatan nya banyak pikiran, sejak kakakku semalam pulangnya kemalaman. Aku bingung, kalau seperti ini aku merasa, aku gak pantas buat kamu." Aku berusaha menghindari Arman. "Kok jadi ngomong begitu?" "Aku ke warung dulu ya sebentar, dan aku minta tolong tungguin rumah, karena semua sedang tidur didalam. Please...ya?"


"Ya udah, cepetan." Arman diam tapi sambil cemberut, aku malah jadi tersenyum, orang sepertimu bisa cemberut juga ya...



Aku segera ke warung depan gang. Membeli sayur seadanya dan lauk yang terjangkau dengan dompetku.🀭 Setelah selesai, aku buru\-buru kembali ke rumah, gak enak sama Arman.



Beneran Arman sudah menunggu di dapur, duduk dengan sabar, aku masuk langsung bersiap\-siap untuk memasak. "Ri, ikut ke rumah aja yuk, nanti kan dapat nasi kotak dari rumah." Arman terus membujuk aku. "Kak... maafkan aku ya," aku sedang memasak disambi membuatkan minum untuk nya, saat mama bangun. "Eh ada Arman, loh belum berangkat Ri?" tanya mama yang melihatku sibuk memasak, sementara Arman duduk menunggu.




Arman tersenyum, aku bertanya haruskah aku berkerudung, atau dia tidak bermasalah dengan penampilan ku. "Kalau boleh berkerudung kamu mau gak?" pinta nya. Aku pun bersiap\-siap, memakai kerudung hadiah Rumi dan Lina ah, membuka kado dari Erdian sekalian, isinya juga Bros seperti hadiah Tina. Duh yang mana yang harus kupilih nih. Kupakai gamis biru tua ini saja deh, yang berkerut di pinggang, aku berjalan ke arah Arman, dia menatapku seperti melihat orang lain, "Kamu cantik Ri!" "Hmmm gak usah merayu deh, gak bakalan mempan, udah ada yang punya," jawabku. "Mah pilihkan brossnya yang mana?" pintaku pada mama, sambil menunjukkan kedua bross yang aku miliki. "Biar sesuai dengan bajunya, yang bunga Lily aja Ri," "Oke," Aku lalu bergegas kembali ke kamar. Aku menyematkan bross sedemikian rupa di kerudungku, sebagai hiasan. Memakai wewangian secukupnya.



Sementara itu di dapur.

__ADS_1


"Kenapa Arman kaget melihat Riri seperti itu?" tanya mama pada Arman. "Iya Bu, saya gak nyangka, bisa pakai kerudung dan sebenarnya Riri bagus loh Bu pakai kerudung." Arman menimpali. "Riri sebenarnya sudah lama mengutarakan ingin berhijrah penampilan, tetapi papanya belum menyetujui. Kalau pergi kemana\-mana, sudah sering dia pakai pakaian seperti itu." Penjelasan mama membuat Arman, memiliki kesan tersendiri lagi terhadap Riri.



Aku keluar merasa sudah cukup siap untuk, menghadiri sebuah acara, "Semoga apa yang kupakai menjagaku, dan tidak memberikan keburukan padaku, aamiin." Ku panjatkan doa dalam hati. Setelah kami berpamitan pada mama. Kami pun berjalan menuju rumah Arman. Rumahnya sebenarnya tidak jauh, tapi Arman pun terlihat berjalan sangat lambat, entahlah.



"Riri, kamu sudah pantas berhijrah," tiba\-tiba Arman memberikan pendapat atas penampilan ku. Aku pun menghentikan langkahku. "Jika menurutmu, apa yang kupakai akan memberikan keburukan, sebaiknya, kita batalkan saja ya, jujur aku lebih ingin, kita bisa bicara berdua di rumah, dengan mama yang mengawasi, agar kita bisa saling memahami." Aku sungguh berharap, dia akan mengajakku kembali ke rumah.



"Jujur Ri, kamu memang terlihat berbeda dengan penampilan seperti ini, tapi kamu tidak menunjukkan kalau kamu kepanasan ataupun tidak nyaman. Kenapa kamu tidak berhijrah saja? Aku akan mendukungmu Ri." Arman menyemangati ku. "Kalau begitu kita putus ya," aku mulai berjalan lagi, tapi sangat pelan, agar Arman mengikutiku. "Kok kamu ngomong nya gitu?" "Ya iyalah, bukankah sebenarnya tidak baik berpacaran? Tapi nikah juga belum bisa, jadi ya sudah kita putus aja. Gimana?" Aku tersenyum sambil terus berjalan, rumah Arman sudah terlihat di depan kurang beberapa meter lagi. Aku bahkan sudah bisa melihat dari kejauhan, beberapa saudara Arman, yang tampak memperhatikan kami berdua.



"Kita gak akan putus, kamu wanitaku, cuma kamu, aku akan melamarmu kalau begitu." Arman dengan tegas mengatakan itu dan menggandeng tanganku, ia pun berjalan lebih cepat, tanpa melihat ekspresi ku. Sesampainya di rumah Arman, banyak wajah memandangi kami berdua, bukan masalah penampilan, tapi fokus pada Arman yang tidak juga melepaskan genggaman tangannya. Aku sedikit mendekat pada Arman, Membisikkan, "Emm kak, bisa kamu lepaskan tangan ku? Gak enak semua keluarga mu melihatku sekarang." Arman menengok ke arah ku, menatapku dengan tatapan mata yang tajam, dan membawaku menerobos masuk.



Aku hanya bisa mengucapkan Salam, sambil membungkukkan badan, berusaha bersikap sopan dan mohon ijin masuk ke rumah itu, pada mereka yang duduk\-duduk di teras rumah Arman. Entahlah mereka berbisik apa. Banyak juga banyak yang tersenyum melihat kami. Aku juga belum begitu paham tidak usah keluarga nya, dengan Arman sendiri saja baru beberapa hari jadian. πŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ

__ADS_1



Arman tidak perduli pada orang\-orang yang memandangi kami berdua dengan keheranan. Dia menghentikan langkahnya, ketika sampai di dapur utama, dibagian paling belakang rumahnya. Di hadapan ku sekarang ada kedua orangtuanya, aku bersalaman dengan keduanya, mencium tangan kanan mereka satu per satu. Ibunya menarikku, "Man, kamu sudah bisa melepaskan tangannya, nanti Ibu yang jagain Riri." Kata\-kata Ibunya menyadarkan Arman, barulah dia melepaskan pegangannya, dan aku memijat tanganku, "Ada apa sebenarnya, sehingga dia melakukan itu," batinku dalam hati. Ada rasa senang, karena orang tua Arman menerima ku dengan baik, dan tidak membiarkan aku berkumpul dengan saudara\-saudaranya yang lain, yang sedari awal sudah kepo dengan aku dan Arman. Semoga aman sampai acara selesai ya....


__ADS_2