
Aku mendekati Arman, mengusap rambutnya, lalu dia menangkap tanganku.
"Eh...Bukannya kamu tidur." Karena terlalu kaget aku sampai jatuh terduduk disebelahnya. Arman duduk diam, memandangi ku lama...
"Jujur Ri aku jadi merasa bingung, dan serba salah dengan apa yang sudah kita lakukan, aku takut orang akan berpikir yang tidak-tidak jika kita tidak meresmikan hubungan kita."
"Tapi aku dan kamu, kita...Kak Arman, apakah kamu yakin perasaan mu tidak akan berubah jika kamu mengetahui keburukan ku? Kekurangan ku, bahkan di acara keluarga mu kemarin, berapa pasang mata yang melihat ku, seolah-olah aku tidak pantas untuk mu, tidak layak, dan kenapa aku merasa mencuri sesuatu yang berharga dari keluarga mu."
Arman terkejut mendengar apa yang kukatakan.
"Ri, memang hubungan kita terjalin baru beberapa hari, tapi yang aku rasa disini (menepuk dadanya) sangat dalam Ri, dan aku sudah melakukan shalat istikharah, aku benar-benar mengambil keputusan dengan pemikiran dan keyakinan Ri, bukan karena nafsu atau usiaku, atau hanya atas nama cinta semata, di acara itu banyak yang ingin menjodohkan aku dengan putri mereka, karena kemapanan yang ku punya. Tapi kamu tidak mengincar hartaku. Kamu berbeda dengan yang lain. Kamu bahkan tidak pernah meminta apapun dariku. Aku merasa nyaman denganmu Ri."
Arman benar-benar tidak ingin melepaskan ku.
"Mama menceritakan sesuatu padamu kan? Bisakah kamu beritahu aku, apa yang dia ceritakan?"
"Dia menceritakan tentang kakakmu, dan jujur sebenarnya aku juga sudah mendengar dari tetangga, kalau ibumu memiliki dua putri, tapi entah kenapa watak, sifat bahkan penampilan nya sangat berbeda.
__ADS_1
Sejak itu pula aku mencari tahu kebenaran tentang berita itu, dan aku berakhir disini Ri, aku malah semakin mengagumi mu, mungkin anak lain akan merasa orang tua nya sudah bersikap pilih kasih, tapi kamu tidak menyalahkan orang tua mu.
Kamu tetap saja menjalani hidup, dan melakukan yang kamu mau dan yang kamu bisa. Kamu bahkan menjaga keponakan dan adikmu, kamu seperti ibu-ibu di tubuh anak SMA kelas 2. Kamu kecewa, marah, dan menangis, tapi kamu tetap melakukan tugasmu, dan setelah itu kamu kembali tersenyum."
"Kak Arman, apakah kamu senasib denganku? Mengapa dari ceritamu, aku merasakan ada dendam yang tidak terungkap, apakah keluarga mu juga berlaku tidak adil padamu, karena itu kamu merasa bersalah melihat ku." Aku terdiam dan menarik nafas dalam-dalam.
"Terimakasih atas perhatian dan perasaan mu, jika memang kamu mendapatkan petunjuk, siapa yang kamu lihat di doa sepertiga malam mu? Kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, lalu tidakkah kamu takut, jika kelak ada orang datang padamu dan mengatakan aku sama dengan kakakku, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan meninggalkan ku, membenci ku, menjauhi ku...?" Aku menundukkan kepalaku.
"Ri, selama kamu pergi besok marilah sama-sama berpikir, dan berikan jawaban mu, kamu akan menerima kita bertunangan, atau kita hanya sekedar berpacaran saja."
Hari itu Arman tetap di rumah ku, bahkan sampai petang menjelang. Kami menikmati makan malam bersama dengan adik dan keponakan ku, mama juga terlihat bahagia dengan adanya laki-laki dewasa di rumah. Apakah aku harus menerima Arman, jika perasaan ini tiba-tiba berubah, jujur aku takut, mengingat kakakku memilih bercerai, aku takut, sangat takut.
Aku tidak tahu, apakah perasaan seseorang tidak akan berubah, ya mungkin sekarang Arman sayang dan mencintai ku, tubuh ku tidak seperti perempuan yang lain di luar sana, jika...dan jika...
Setelah Arman pulang, aku merapikan perlengkapan untuk besok, mengecek rumah, istirahat dan sepertinya aku juga harus sholat malam.
Semoga aku pun menemukan jawaban seperti mu, Arman.
__ADS_1
Semoga aku bisa menemukan kebahagiaan, jika benar kita senasib, jika benar kita mendapatkan perlakuan yang tak adil dari keluarga, akankah kamu selamanya melengkapi ku.
Kakakku memendam dendam terhadap orang tua kami, dia melarikan diri ke teman-teman yang dia pikir baik, tapi ternyata malah menjerumuskan nya ke jerat narkoba, miras dan pergaulan bebas.
Karena itu setelah lulus SMA, kedua orang tua ku mencarikan kakak calon suami, kakak setuju tidak setuju harus menikah dengan nya. Mereka pun menikah dan kembali dikaruniai seorang anak laki-laki, ku pikir kakak pasti merasa Papa dan Mama, menghancurkan semua mimpi dan masa depan nya.
Padahal mereka berusaha menyelamatkan kakak, agar tidak terjerumus dalam jeratan narkoba dan **** bebas semakin dalam. Keluarga pun membantu kakak, agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak begitu juga dengan suaminya. Tetapi ternyata perasaan yang ada akhirnya tidak bertahan, yang awalnya terlihat penuh dengan kasih sayang, dan cinta kini berakhir dan memilih berpisah.
Disaat dia seharusnya menjadi seorang Ibu, kakak justru ingin meniti karir dan malu jika diketahui orang sudah memiliki anak. Tapi aku punya hak apa untuk menghukumnya? Aku hanya sedih, kenapa saat dia terpuruk aku tidak bisa membantu nya. Ya karena usia kami terpaut lumayan jauh, jadi bahkan aku tidak mengerti saat itu apa yang sedang terjadi.
Sekarang, aku hanya bisa melakukan kewajiban ku sebagai adik nya, menjaga keluarga ku, menjaga keponakan ku, menjaga adikku, dan kewajiban terbesar ku untuk menyelesaikan pendidikan ku.
Semua ini sepertinya sangat terlambat, karena aku baru mengetahuinya sekarang. Tapi pelajaran yang kudapatkan, akan selalu ku syukuri. Beruntunglah aku bisa terhindar dari semua itu justru karena pengalaman pahitnya.
Kakak, aku ingin kamu tahu, aku menerima keadaan mu apa adanya, kamu akan selamanya jadi kakakku, yang terjadi pada hidupmu, itu adalah perjalanan hidup, aku hanya bisa berharap, dan mendoakan mu agar kelak kakak menjadi insan yang lebih baik, aamiin.
Ku pejamkan mataku, berusaha istirahat, hatiku pedih tapi esok ada kewajiban yang harus dilakukan. Ada jawaban yang harus kuberikan... Bantu aku Tuhan...
__ADS_1