Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
Tentang Arman... dan rasa ku...


__ADS_3

Dia anak ke enam, wow banyak ya? Hmmm begitulah, dia memiliki tiga orang kakak perempuan dan dua orang kakak laki-laki.


Kakak perempuan pertama nya Indah, sudah menikah, memiliki lima orang anak. Kakak keduanya laki-laki, bernama Sanjaya, bekerja sebagai pedagang, orangnya sangat dingin, dan belum juga menikah diusia yang sudah kepala 4. Kak Arman bilang padaku, Kak Sanjaya tidak pernah tersenyum pada wanita selain Ibu. Dan dia hanya akan menikah jika sudah menemukan seseorang yang seperti Ibu. "Mari kita doakan saja kalau begitu," ucapku spontan. Saat Arman menceritakan Sanjaya.


Lanjut, kakak ketiganya, perempuan cantik lemah lembut bernama Pipit, mungkin Bapak dan Ibu suka burung Pipit? (Entahlah,🤭. Fokus-fokus Thor). 😮Melihat ekspresi ku Arman menutup mulutku dengan tangannya, "Kenapa? Mau ngeledek nama kakakku?" tanyanya kesal. 😌🤭😁 Aku nyengir aja deh. Beneran yang kepikir burung Pipit soalnya. Kak Pipit ternyata yang paling baik, maksudnya semua baik, tapi hanya Kak Pipit yang tidak pernah ikut campur, atau melakukan sesuatu sehubungan dengan hubungan ku dan Arman di kemudian hari. Oh ya, dia juga sudah menikah dan memiliki tiga orang anak, tapi sayangnya anak pertamanya meninggal karena sakit. Hanya ada anak keduanya, seorang pemuda yang merasa sudah hebat sehingga tak bisa diatur dan anak ketiganya, gadis manis yang sederhana lembut seperti Ibunya.


Kakak ke-empat nya perempuan, namanya Kak Purnama, tapi sering dipanggil Pupung. Cantik dan mungil tubuhnya, seperti Ibunya Kak Arman. Juga sudah menikah dan memiliki sepasang anak, satu laki-laki, dan satu perempuan.


Dan kakak ke limanya Dedi, keras, angkuh kadang kasar, ya tapi itulah sifatnya. Seperti kakak laki-laki sebelumnya, Dedi juga belum menikah. Terlebih lagi Kak Dedi sekarang menganggur, tidak mau bekerja, dan sering menghabiskan waktu hanya untuk minum-minum, bersenang-senang, uangnya darimana? Hmmm inilah yang aku tak suka, Kak Dedi sering meminta uang pada Arman.


Arman, anak bungsu, satu-satunya yang memikirkan kedua orangtuanya, setelah tamat SMA, dia memilih untuk membuka usaha dan bekerja keras agar bisa membantu keluarganya, daripada kuliah. Pikirnya uang kuliah yang besar akan lebih berguna untuk menjalankan usahanya dan hasil usaha itu bisa diberikan kepada Ibunya. Ya Arman sangat menyayangi Ibunya, dan sangat menghormati Bapaknya.


Walaupun usianya terpaut sepuluh tahun denganku, dia terlihat masih sangat awet muda, dia dewasa sekali, sabar, dan hampir tak pernah marah padaku. Dia memilihku dan menjadikanku kekasihnya berharap bisa bersama untuk selamanya. Dia tampan? Iya dong pakai banget dan dia tidak seperti om-om 🤭. Hatinya baik dan tulus, mungkin itulah yang membuat ku merasa nyaman dan aku...

__ADS_1


Sekian dulu sekilas info tentang Arman ya, Terima kasih untuk semua yang sudah berkenan mampir dan baca novel sederhana ku ini, semoga berkenan juga memberikan like, komen ya... Terima kasih untuk dukungan nya, semoga sehat selalu dan lanjut yuk....


~`~~~~~~~~~~~


Setelah sampai di rumah, dan membersihkan diri, berganti pakaian, aku mencari-cari seseorang yang datang semalam. Melihat ke kanan dan ke kiri.


Sampai Mama, "Riri kamu lagi apa sih tengok kiri tengok kanan? Cari apa?"


"Cari siapa Mah, bukan cari apa. Hmmm...Kakak, kemana Mah? tanyaku segera.


Mama sedang sibuk memasak sesuatu di dapur. Aku mendekatinya, "Mau masak apa mah, sini Riri bantu." Aku pun mulai mengambil alih semuanya, dan Mama akhirnya duduk di kursi meja makan, mengerjakan yang simple-simple aja. Tiba-tiba, "Assalamualaikum," terdengar suara laki-laki di pintu.


"Waalaikumsalam," kubuka pintu dapur, dan kaget, bingung, tapi anehnya hatiku dag dig dug senang, melihat siapa yang datang. "Kak Arman, emm masuk Kak, kok lewat dapur, gak lewat pintu depan aja, oh ya ada apa?" duuuh kok aku yang biasanya jagoan ngadepin orang bisa gugup begini ya?

__ADS_1


"Riri, ada tamu datang, baru masuk udah di berondong pertanyaan begitu," potong mama, mencegahku bertindak bodoh berkepanjangan 🤭😁.


Aku membuatkan mereka berdua teh hangat, dan terus melanjutkan memasak, "Ya sudahlah, terusin masak aja, salah siapa datangnya lewat dapur," batinku.


Kubiarkan Mama yang melanjutkan bicara dengan Arman.


Arman sudah duduk di kursi meja makan didepan Ibu duduk. Dua gelas teh hangat dan cemilan kue sudah ku sajikan. Mama memulai percakapan. "Gimana nak Arman, ada yang bisa Ibu bantu?" "Begini Bu, besok ada acara di rumah, mau ada syukuran kecil-kecilan keponakan saya di khitan. Kalau boleh saya mau ajak Riri bantu-bantu di rumah, sekalian menghadiri acara syukuran nya Bu," terang Arman. Dia kelihatan malu-malu, tapi tetap tenang dan berhasil menyampaikan keinginannya yang terselubung, untuk mengajak ku pergi dengannya.


Mama yang memang menyukai Kak Arman, karena sifat dan sikapnya yang baik, langsung menyetujui permintaan Arman. "Oh boleh-boleh, kalau Ririnya mau, Ibu mengijinkan. Ya sudah, Ibu mau istirahat dulu, kebetulan ada Riri yang melanjutkan memasak. Silahkan ngomong langsung saja sama Riri ya." Ibu sudah meninggalkan dapur, dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kok bisa sih, mama ninggalin aku berdua aja sama Arman," gerutu ku. Sepercaya itukah mama pada Arman. Rasanya bulu kudukku berdiri, karena Arman tidak juga berhenti memperhatikan ku, setelah mama pergi.


"Ri, mau kan datang ke rumahku?" tanya Arman memecah kecanggungan kami berdua. Aku tetap diam, dan masih melanjutkan memasak. "Riri udah jago masak nih, kalau gitu bisa nih dilamar buat jadi calon istri." Apa coba? Apa yang Arman sudah katakan barusan? Pacaran juga belum ku terima sepenuhnya sudah mau naik ke calon istri aja, baru juga mau ku jawab, Arman sudah pindah duduk di lantai, duduk bersila di samping ku. Menatapku dan tersenyum menggoda ku.

__ADS_1


"Mau ngapain aku ikut ke rumah mu, status kita apa? Nanti ada yang patah hati lagi, kalau aku datang kesana," jawabku cuek. Arman menarik tanganku, agar aku berhenti mengacuhkan nya. "Riri, aku sungguh-sungguh dengan perasaan ku padamu, apa yang kutulis dalam surat itu benar adanya. Kamu juga tidak mengembalikan surat itu, berarti kamu sudah menerima ku kan, aku ingin mengenalkanmu pada keluarga ku, aku serius ingin berhubungan dengan mu. Bukan sekedar pacaran Ri, aku tau mungkin terlalu cepat, tapi jika bisa serius sampai pernikahan kenapa enggak? Kak Arman berusaha menarik tanganku, agar aku melihat ke arahnya.


Ya kini aku memandangi nya, "Sungguh kah? tidakkah kamu takut aku akan mengecewakan mu suatu hari nanti, aku masih 17tahun, jika sikapku, sifatku ada yang tidak kamu sukai lalu bagaimana? Jika keluarga mu tidak suka padaku, akankah kamu tetap mempertahankan aku? Jika tiba-tiba ada keburukan dan kemalangan terjadi pada keluarga ku, apakah kamu tidak akan meninggalkan ku? Jika ada wanita lain yang lebih segala-galanya dariku, atau mantanmu kembali, apa yang akan kamu lakukan?" Aku sungguh serius mengatakan semua itu. Aku sungguh ingin mendengar jawaban darinya, sebelum aku nanti mengatakan bahwa aku juga telah jatuh hati padanya. Bisakah kamu merasakan nya Arman...


__ADS_2