Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
semua ini terlalu cepat apa karena terlalu nyaman?


__ADS_3

Berharap yang baik itu bagus, mengharapkan sesuatu yang baik apalagi bukan milikmu, itu tidak bagus.


~~~~~~~~~~~~````~~~~~~~~~~


Berkat kebaikan orang tua Arman, aku bisa mengikuti acaranya tanpa ke khawatiran yang berlebihan. Aku diminta membantu, menjaga meja prasmanan saja. Semua saudara nya pun hanya bisa ngobrol sekedarnya denganku, sebelum acara selesai, aku sudah menemui orang tua Arman dan mohon undur diri. Aku tidak bisa bohong, jika dalam pikiran ku, aku terus saja memikirkan mama.


"Bapak, Ibu, terima kasih atas undangan nya, maaf Riri tidak bisa banyak membantu. Karena acara inti nya sudah selesai, hanya tinggal ramah tamah dengan keluarga, saya mau ijin pamit, Mama di rumah tidak ada yang bantu soalnya." Aku meminta ijin untuk pulang. "Ibu yang berterima kasih Ri, maaf tidak bisa menyambut kedatangan Riri dengan baik, ya silakan kalau Riri mau pulang, tunggu Arman yang antar ya?" Ibunya berusaha menahan ku. Tapi aku meyakinkan nya, aku mampu pulang sendiri. Aku berpamitan dengan kedua orangtuanya, kakak-kakaknya, lalu bergegas pulang, di depan pintu ada seorang wanita usianya sebaya denganku. Hanya dia yang tampak tidak senang dengan kehadiran ku. Dia terlihat lumayan dekat dengan saudara-saudara Arman. Ah terserahlah, Arman pun tidak mengenalkan dia padaku, aku tidak berusaha mencari Arman. Aku langsung pulang.


Ternyata, kalau sudah mau masuk magrib, jalannya sepi juga, aku mempercepat langkahku menuju rumah. "Assalamualaikum Maaah," aku berharap mama segera membukakan pintu, menakutkan juga diluar sendiri 😂. "Waalaikumsalam," terdengar suara mama dari dalam, dan "Ceklek" pintu terbuka, mama melihat ke kiri dan ke kanan, aku juga ikut melihat ke kiri dan ke kanan, "Cari siapa mah?" tanyaku. Belum juga mama menjawab, aku sudah masuk ke dalam rumah.


"Mama cari Arman ya?"


Mama mengangguk. "Iya, kok kamu pulang sendiri? Arman mana?"


"Masih sibuk mah, tapi Riri udah gak betah, cape juga pingin istirahat." Aku berlalu dan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Aku benar-benar ingin cepat-cepat istirahat.


"Ri, sholat dulu, baru istirahat," Mama mengingatkan. Aku bergegas sholat, mengerjakan tugas, dan ke dapur. Karena pergi ke rumah Arman, aku tidak sempat bantu mama. Ya sudah masak dulu deh. Dengan sisa tenagaku. "Aah" kuregangkan tanganku ke atas, seperti pemanasan, badanku pegal sekali.


Membuka kulkas dan mencari sesuatu untuk dimasak. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," terdengar sebuah suara di pintu depan. Mama keluar dari kamar dan menuju sumber suara. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, eh Arman, ada apa?" Mama membukakan pintu dan mempersilahkan Arman untuk masuk dan duduk.


"Arman minta maaf Bu, tadi saya sibuk, jadi tidak memperhatikan Riri mungkin sudah cape. Saya tidak tau kalau Riri pulang sendiri. Saya minta maaf Bu. Pas mau nyusul, sudah masuk magrib. Jadi baru sekarang bisa kesini, ini ada sedikit makanan dari acara syukuran nya Bu. Sekali lagi saya minta maaf ya Bu." Arman kelihatan takut sekali.


"Iya nak Arman, alhamdulilah sudah sampai di rumah dan selamat, itu Riri lagi di dapur, mau ketemu? Oh ya panggil saya mama aja ya. Saya tau kok kamu bisa menjaga Riri dan bertanggung jawab. Tapi Riri, sebenarnya gak suka keramaian. Dia gak suka menarik perhatian." Mama menjelaskan panjang lebar. Menerima sekotak makanan berat, dan beberapa bungkus Snack. Lalu menutup pintu dan mengajak Arman ke dapur.

__ADS_1


Kiki dan Putra yang belum tidur ikut masuk ke dapur juga, "Mau mau ini Kak," sambil menunjuk-nunjuk bungkusan Snack yang di bawa mama. Aku mengambil dua bungkus Snack, membukanya dan menyerahkan masing-masing satu bungkus untuk mereka.


"Ri, mama mau dibikinkan teh hangat ya. Oh ya nyalain tv nya dong sebentar," pinta mama.


Aku menyalakan tv, kemudian kembali ke dapur. Kalau sudah ada makanan ya sudah gak jadi masak deh. Aku kembalikan sayuran ke dalam kulkas. Arman diam saja duduk di kursi, memperhatikan ku tanpa bersuara. Aku membuat teh, menyuguhkan satu gelas untuk nya, dan mengantarkan satu gelas besar untuk mama.


"Makasih ya sudah bawakan makanannya," ucapku sambil duduk di depannya.


"Kamu marah Ri?"


"Enggak lah, ngapain marah, aku yang minta maaf, karena kecapekan, aku minta ijin pulang tanpa memberitahu mu," terangku.


"Aku minta maaf ya, karena banyak saudara aku malah gak bisa nemenin kamu, kamu juga malah repot di meja prasmanan." Arman tetap berusaha minta maaf.


Aku memberanikan diri ku menggenggam tangan nya, " Disana ada seorang gadis yang sepertinya benci padaku. Apakah dia pernah menyukaimu?" Aku serius bertanya pada Arman.


"Aku pulang, karena beneran capek aja Kak, bukan karena dia juga."


"Ri, kamu merasa gak kita baru jadian beberapa hari, tapi kenapa seperti sudah dekat lama, dan aku beneran merasa nyaman denganmu. Aku tidak ingin orang tua jadi istriku Ri," Aku menutup mulutnya dengan jari telunjuk ku.


"Aku baru 17tahun, masih lama. Impianku itu menikah diusia 22 tahun."


"Kita tunangan aja kalau gitu? Gimana?"

__ADS_1


" Ya boleh Tapi tahun depan ya, kalau sudah lulus SMA," Aku tersenyum melihatnya cemberut.


"Ri, apakah kamu malu menjadi pacarku, aku lebih tua darimu bahkan sepuluh tahun," Arman memandang ku serius.


"Kamu bahkan kelihatan lebih muda, dari orang lain seusai mu Kak, dan aku tidak memikirkan hal itu, yang penting itu hatimu ini hanya untuk ku, milikku!"


"Sungguh?" Dia tersenyum manis sekali.


"Kakak gak pulang? Sudah malem loh." Aku berjalan ke arah jendela, dan melihat keluar. Tiba-tiba Arman memelukku erat, "Sebentar saja Ri, sebentar saja, aku sungguh ingin segera menikah denganmu. Aku gak ingin pulang. Tapi itu benar aku harus menunggu mu lulus. Setelah lulus SMA, apakah kamu akan kuliah Ri?" Arman mulai melepaskan pelukannya.


"Iya kak, aku ingin kuliah, agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sekedar pengajar les, jika aku bisa memiliki pekerjaan yang lebih baik, semoga gaji yang didapatkan kelak juga lebih baik."


"Kalau aku melamarmu setelah lulus, maukah kamu menikah dulu denganku, baru kuliah?"


Aku terdiam, apakah menurut kalian semua pembahasan ini tidak terlalu cepat?


Aku memegang pipinya dengan kedua tanganku. Entah apa yang mendorong ku melakukan itu dan "muach" ku kecup bibirnya.


Arman yang masih bengong di depanku, diam seperti kaku.


"Bisakah untuk sekarang, kita jalani saja dulu seperti biasa, hanya sekarang aku memilikimu, aku tidak sendiri menghadapi semua kesulitan di hidup ini, kamu akan jadi kekuatan ku kan, aku akan berusaha memperbaiki diriku agar kelak layak jadi istrimu." Arman sekarang tersenyum bahagia.


Mengecup keningku, "Baiklah, sudah malam, aku pulang dulu, jaga diri mu baik-baik ya." Dia membelai rambutku, dan pamitan ke mama, aku mengantar nya ke depan, lagi-lagi dia menggenggam tanganku. "Gak jadi pulang? Mau nginep aja?" Ledekku...

__ADS_1


"Mauuuu boleh gak sayang?" Sekarang Arman yang meledekku, memerah deh pipiku ini.


"Sudah sana pulang, besok pagi jemputnya jangan kesiangan!" Bentakku. Arman tertawa, "Siap nyonya Arman! Aku pulang ya!" Arman pun pergi meninggalkan rumah ku. Bersamanya aku bisa melupakan masalah yang ada di depan mata. Hmmm, sekarang waktunya bertanya soal Kak Tiwi pada mama.


__ADS_2